Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDAI membaca peluang. Barangkali ialah julukan yang pas disematkan ke pengelola bisnis kuliner yang satu ini. Warung Pedes, demikian nama usaha tersebut, hadir di Kemang, Jakarta Selatan, sebagai satu-satunya warteg kekinian dan menawarkan berbagai macam masakan khas rumahan dengan cita rasa lokal.
Manajer Operasional Warung Pedes, Ade Nugroho, menjelaskan bahwa ide membuat kedai makan ini sudah dimulai sejak 2016. Empat tahun berselang, kedai yang berada di Jalan Kemang Raya Nomor 130E itu lantas tak pernah sepi diserbu pelanggan.
"Dulu kita melihat di daerah ini rupanya belum ada konsep warung makan seperti warteg yang boleh dibilang kekinian atau milenial. Dari pihak manajemen kemudian memikirkan bagaimana membuat semua itu hingga kemudian berdirilah Warung Pedes ini yang memiliki fasilitas penunjang, mulai AC hingga wi-fi," tuturnya, saat ditemui Media Indonesia, Senin (3/2).
Sesuai namanya, lanjut Ade, Warung Pedes menawarkan masakan yang serbapedas. Namun, ia tidak menawarkan 'tingkat kepedasan (level)' sebagaimana warung pedas lainnya, tetapi lebih mengedepankan cita rasa sambal jagoannya, yaitu sambal matah, sambal goreng, dan sambal geledek.
Ketiga sambal itu dibuat para chef, salah satunya ialah chef Maulana Zakaria. Menariknya, juru masak yang sudah hobi main di dapur sejak kelas 4 SD itu tahu betul seperti apa cabai yang patut diolah hingga kemudian disajikan ke meja hidangan pelanggan.
Menurut Maulana, ada tiga jenis cabai yang kerap beredar di pasaran. Pertama ialah cabai langu, kedua, cabai pucuk, dan kemudian cabai rawit merah masak pohon.
Cabai langu, kata Maulana, ialah jenis cabai di pasaran yang paling buruk. Ia tidak enak jika dimasak. Bukan bikin masakan menjadi pedas, melainkan justru berasa sepat. Cabai pucuk, lanjutnya, ialah jenis cabai menengah dan bisa dimasak. Namun, tingkat kepedasannya tidak terlalu baik karena banyak mengandung air.
"Kita sendiri kalau memilih cabai biasanya rawit yang masak pohon. Bentuknya tidak terlalu besar atau terlalu kecil, warnanya juga benar-benar merah, tidak ada warna kuning atau putih. Kita datangkan langsung dari para petani di Bandung atau mengambil dari pedagang di Pasar Kebayoran," tuturnya.
Menurut Maulana, selama ini ia lebih suka datang langsung ke pedagang cabai di pasar tradisional. Ketika berbelanja di pasar tradisional, ia bisa memilih langsung, bahkan bisa request jenis cabai dengan kualitas terbaik. Semua itu, kata dia, sangat penting untuk mendukung berbagai macam resep yang ditawarkan Warung Pedes, di samping untuk membuat sambal andalan.
Ojek daring
Setidaknya ada tiga jenis hidangan yang kami coba dan berasal dari kombinasi berbagai macam masakan, seperti ayam suwir, teri kacang, ayam klungkung, jengkol balado, hingga sambal terong. Rasanya.. hmmm pedas-pedas nikmat.
"Ayam suwirnya pedas, ketemulah dengan sambal goreng yang juga pedas. Setelah itu, manisnya didapat dari buncis, yang kalau jadi satu semua terasa sekali nikmatnya," tutur Maulana.
Bagi Anda yang tidak suka pedas, jangan khawatir, Warung Pedes juga menyediakan masakan yang tidak pedas. Ada hidangan seperti kulit ayam crispy, tahu taoge, tahu isi, perkedel, orek tempe, ayam goreng, hingga bakwan jagung dan bakwan sayur. Hidangan itu disajikan bagi pelanggan yang tidak suka dengan masakan pedas atau anak-anak.
Selain itu, Ade mengatakan bahwa sedari awal Warung Pedes tidak pernah menetapkan segmen pasar. Ia berharap siapa saja dapat datang ke kedai dan mencoba hidangan yang ada, mulai pelajar hingga pekerja kantoran, pemuda lajang hingga yang sudah berkeluarga, semuanya dipersilakan hadir kapan saja karena Warung Pedes tidak pernah tutup. 'Tamu 24 jam wajib laper," begitulah semboyannya.
Tak kalah menarik, kata Ade, Warung Pedes selama ini juga kerap diserbu ojek daring. Pasalnya, di era digital seperti saat ini tidak sedikit pelanggan yang memesan melalui aplikasi. Mereka yang tinggal di luar Jakarta Selatan bahkan sering mengorder.
"Lebih random pembelinya. Daring persentasenya cukup tinggi di sini, jadi selain berpengaruh pada kuantitas, jangkauan Warung Pedes ternyata juga semakin luas. Entah yang order dari Jakarta Pusat atau daerah lainnya, mungkin karena mereka sudah pernah datang ke sini kemudian cocok dan pesan lagi," tuturnya.
Semua masakan di Warung Pedes selalu siap setiap saat. Dapurnya didukung tiga orang chef, termasuk Maulana, sehingga bisa mencukupi persediaan kapan saja. Harga yang ditawarkan, kata Ade, juga masih reasonable karena sedari awal telah disesuaikan dengan kantong para pekerja kantoran.
Satu bungkus hidangan, misalnya, ada yang seharga Rp30.000. Itu sudah termasuk nasi, lauk-pauk, dan minuman. Menu andalannya selain ayam klungkung dan ayam suwir, ada juga tongkol suwir, cumi asin, dendeng balado, ayam kecap, hingga cumi cabai hijau dan berbagai macam masakan lainnya. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved