Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DI Indonesia maupun dunia, diskusi soal kelestarian hutan terus hangat. Belakangan ini diskusi itu terumata karena rencana pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan Timur, sementara di luar negeri karena kebakaran yang terjadi di Amazon, Brasil.
Hutan hujan tropis menyokong keberagaman terbesar dari organisme hidup di bumi. Walaupun hanya melingkupi dari 2% dari permukaan bumi, tetapi mereka memiliki dampak yang sangat besar dalam menyediakan habitat, menyimpan karbon, dan mengatur aliran air.
Upaya-upaya untuk menjaga kelestarian hutan hujan gencar dilakukan berbagai pihak. Meski begitu banyak pula kesalahpahaman mengenai hutan. Berikut mitos-mitos yang paling banyak beredar:
1. Perusahaan penebangan sumber deforestasi.
Selama ini kegiatan penebangan hutan disebut-sebut sebagai sumber dari perusakan hutan. Persatuan ilmuwan peduli untuk planet bumi yakni Union of Concerned Scientists memasukkan produk kayu di antara empat penyebab utama deforestasi.
Situs HowStuffWorks juga mengklaim bahwa penebangan adalah pendorong utama masalah tersebut. Mitos pun berkembang menjadi budaya populer. Melalui Film animasi "FernGully: The Last Rainforest," yang tayang pada tahun 1992, menggambarkan operasi penebangan sebagai ancaman eksistensial utama bagi makhluk hutan.
"Tidak bisa dipungkiri bahwa penebangan mendatangkan malapetaka di hutan hujan, karena kegiatan sering dilakukan secara ilegal, menciptakan emisi karbon yang signifikan dan mengurangi kekayaan spesies. Hal ini juga dapat menyebabkan deforestasi di masa depan dengan membangun jalan yang meningkatkan akses ke daerah-daerah terpencil," Ujar manajer World Resources Institute's Global Forest Watch, Mikaela Weisse, dikutip dari AFP.
Tetapi penebangan saat ini berdampak kurang dari 10% terhadap deforestasi di hutan hujan tropis terbesar di dunia, menurut sebuah studi terbaru dalam jurnal Science. Justru, pertanian menyumbang 80% deforestasi di daerah tropis, dengan sebagian besar terkait dengan hanya tiga komoditas yaitu minyak kelapa sawit, kedelai, dan daging sapi. Komoditas ini sering diperdagangkan secara internasional dan muncul dalam produk sehari-hari seperti pasta gigi, sampo, makanan anjing, dan bar granola.
2. Hutan hujan berfungsi sebagai 'paru-paru' bumi.
Belum lama, Presiden Prancis Emmanuel Macron mencuitkan di akun Twitter miliknya, bahwa "hutan hujan Amazon merupakan paru-paru dunia yang menghasilkan 20% dari oksigen planet, sedang terbakar.
Cuitan tersebut merupakan sebuah klaim yang di-retweet oleh aktor seperti Leonardo DiCaprio dan bintang sepak bola Cristiano Ronaldo. Ungkapan ini juga muncul di seluruh pelaporan tentang kebakaran di Amazon, termasuk di CNN, ABC dan Al Jazeera.
Kenyataannya, meskipun pohon menghasilkan oksigen, mereka juga mengkonsumsinya selama proses respirasi. Dari sana, mikroba dan organisme lain menggunakan banyak oksigen yang dihasilkan oleh hutan hujan, menghasilkan produksi bersih oksigen mendekati nol.
Bahkan, menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional, mekarnya fitoplankton musiman memprodukso atas lebih dari setengah produksi oksigen atmosfer di numi.
Namun, hutan hujan di seluruh Amerika Latin, Afrika dan Asia Tenggara menyimpan sekitar seperempat karbon dunia, dan deforestasinya menyumbang lebih dari 15% emisi gas rumah kaca yang disebabkan manusia di seluruh dunia setiap tahun.
Hutan hujan juga memengaruhi fungsi atmosfer. Misalnya, uap air yang dilepaskan oleh hutan tropis ke udara menghasilkan peningkatan curah hujan hingga ratusan mil jauhnya.
3. Tidak berpenghuni.
Iklan untuk kunjungan wisata sering menyebut hutan hujan tropis sebagai "perawan" dan "tidak tersentuh." Bagi banyak orang, tempat-tempat ini mencontohkan hutan belantara sebagai surga yang tidak dibentangkan oleh campur tangan manusia dan penuh dengan kehidupan tanaman dan hewan.
Kesalahpahaman ini memiliki konsekuensi yang tragis bagi masyarakat lokal dan penduduk asli. Menurut sebuah laporan AS di tahun 2018, negara-negara termasuk Peru, Panama, dan Indonesia telah memaksa masyarakat adat keluar dari tanah tradisional mereka, untuk menciptakan kawasan lindung yang alami.
Sebenarnya, area-area ini secara alami memang tidak berpenghuni. Namun manusia telah hidup di hutan hujan tropis selama ribuan tahun dan terus menempati wilayah besar di dalamnya. Wilayah adat mencakup 35% dari Amazon, misalnya.
Tingkat deforestasi di dalam wilayah adat dua hingga tiga kali lebih rendah daripada di wilayah sekitarnya, menurut World Resources Institute Global Forest Watch.
"Wilayah-wilayah ini berproses lebih baik dalam perlindungan hutan tropis daripada wilayah yang melarang aktivitas manusia. Mengamankan sertifikat tanah untuk wilayah adat mungkin merupakan salah satu cara yang paling hemat biaya untuk mengurangi emisi karbon," ujar Weisse.
4. Akan Hilang dalam 100 tahun
Harian the Guardian pada 2017 menyebutkan hutan hujan hancur begitu cepat sehingga mereka bisa hilang dalam 100 tahun. Tahun 2018 dunia mengalami kehilangan 3,6 juta hektar hutan hujan primer, setara dengan luas negara Belgia.
Tetapi beberapa negara telah berhasil memperlambat deforestasi secara signifikan. Global Forest Watch melaporkan penurunan 40% dalam hilangnya hutan Indonesia pada tahun 2018 dibandingkan dengan rata-rata tahun 2002-2016, sebagian berkat respon pemerintah terhadap kebakaran besar pada tahun 2015.
Cara menghentikan deforestasi menurut Global Forest Watch antara lain dengan meningkatkan upaya penegakan hukum, membangun kawasan lindung, mengenali wilayah adat, mengatur konversi pertanian, dan membayar pemilik tanah untuk jasa lingkungan.
"Jika Indonesia dan Brasil, yang secara historis merupakan pelaku deforestasi terburuk, mampu membalikkan keadaan, maka ada harapan untuk memulihkan hutan hujan secara keseluruhan. Namun, agar hal itu terjadi, negara hutan tropis dan negara yang mengkonsumsi komoditas terkait deforestasi akan perlu mengubah kebijakan dan praktik mereka secara signifikan," ujar Weisse.
5. Deforestasi demi makan manusia
Dengan populasi global diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 9 miliar jiwa pada pertengahan abad ini, World Resources Institute mengatakan pasokan makanan global perlu meningkat lebih dari 50%.
Dalam beberapa dekade terakhir, sebagian besar lahan pertanian baru berasal dari menebang hutan hujan tropis. Sebuah artikel di Fast Company, memperingatkan bahwa tidak akan ada cukup makanan untuk memberi makan dunia pada tahun 2050.
Mereka mengatakan bahwa petani mungkin akan menebang lebih banyak hutan. Kepala urusan strategis Brasil, Maynard Santa Rosa, baru-baru ini menyebut Amazon sebagai perkebunan besar tidak bersenjata, yang perlu dikembangkan untuk pertanian, pertambangan, dan pembalakan.
Menurut majalah Wired, para petani di Brasil memulai kebakaran karena mereka perlu memberi makan keluarga mereka. Tetapi sebenarnya memungkinkan untuk memberi makan miliaran orang yang bertambah, tanpa memperluas lahan pertanian. Meningkatkan produktivitas tanaman dan ternak dapat membantu dunia menghasilkan lebih banyak makanan di lahan pertanian yang ada. (Try/M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved