Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
JUDULNYA terdengar nyeleneh. Stuber, gabungan dari nama Stu (Kumai Nanjiani), dan Uber, aplikasi penyedia taksi daring. Plot film ini mempertemukan Stu, pekerja toko luar ruang yang menyambi sebagai sopir Uber, dengan polisi buta yang tengah mengejar buronnya.
Seperti lazimnya karakter utama dalam banyak film komedi, Stu seorang yang payah. Inferior di depan bosnya, selalu sial saat mengantar penumpang, atau yang paling menjadikannya pecundang, tidak bernyali untuk mengutarakan perasaan kepada Becca (Betty Gilpin) yang ditaksirnya.
Sementara itu, ada Vic (Dave Bautista), polisi yang punya gangguan penglihatan. Meski sama-sama payah, Vic berbeda dengan Stu yang punya sisi kelembutan. Vic jadi representasi pria jantan ‘sejati’.
Enam bulan berlalu setelah peristiwa dalam prolog film yang menjadi penyebab Vic begitu ngotot ingin mengejar buronnya, Tedjo (Iko Uwais), si pengedar narkoba. Vic bertemu dengan Stu karena terpaksa menggunakan Uber setelah mobil yang dikendarainya masuk parit. Vic tengah mengejar Tedjo, yang juga telah membunuh rekan Vic, Morris (Karen Gillan).
Cerita yang bertumpu pada relasi antara pengemudi dan penumpang bukan sesuatu yang baru. Bisa kita temukan para beberapa film yang beredar belakangan, dalam berbagai genre. Ada Green Book, film drama yang menjadi jawara Oscar 2018, dengan karakter Tony Lip (Viggo Mortensen) dan Don Shirley (Mahersla Ali) yang menampilkan chemistry kuat. Ada pula A Taxi Driver (2017) yang mengangkat peristiwa sejarah di Korea Selatan, atau yang cukup mirip Stuber, film aksi komedi dari Prancis, Taxi (1998) yang mengetengahkan kemitraan antara polisi dan sopir taksi dalam menyelesaikan kasus kejahatan.
Bedanya, Stuber, yang skenarionya ditulis Tripper Clancy tampak kurang matang memberikan daya komedinya. Unsur komedi pada Stuber hanya bersumber dari komikal slapstick hampir di sepanjang film. Satu-satunya yang terasa paling menonjol ialah pada bagian ketika keduanya berada di diskotek gay dan Stu memberi motivasi moral pada salah seorang penari.
Karakterisasi dari beberapa tokoh bahkan terkesan sekadar pelengkap. Momen apa yang membuat Vic begitu ambisius untuk membalas dendam kematian rekannya Morris? Sedegil apa kejahatan pengedaran narkoba yang selama ini dilakukan Tedjo? Itu juga tidak muncul.
Malahan karakter Tedjo tampak samar. Penjahat sekaliber apa dia, apakah hanya cecunguk atau bos? Film ini berfokus pada dua karakter dengan mengabaikan kedalaman karakter dan motivasi dari tokoh lain.
Mempertemukan dua karakter bertolak belakang yang sama-sama bernasib sebagai pecundang memang lumrah jadi formula untuk menciptakan komedi. Namun, bila bit demi bit yang dibangun hanya mengantarkan punchline melempem, percuma. Mending, kelahi saja Dave dan Iko! (Jek/M-2)
Siapa Boiyen? Ini profil lengkap Yeni Rahmawati, komedian dan pedangdut yang kini jadi sorotan usai menggugat cerai suaminya di PA Tigaraksa.
DKI Jakarta menyelenggarakan doa bersama lintas agama dan hiburan lainnya termasuk konser.
MEMPERINGATI delapan dekade perjalanan organisasi, Pengurus Pusat Pemuda Katolik melaksanakan kunjungan kasih ke Panti Asuhan Pelayanan Kasih Bakti Mandiri, Sabtu (15/11).
Kolaborasi antara Loket, Indodana, dan TikTok dalam forum ini menegaskan pentingnya sinergi antara data, layanan finansial, dan pemasaran digital.
Tiga perangkat terbarunya yakni Xiaomi Watch S4, Xiaomi OpenWear Stereo Pro, dan Xiaomi Smart Band 10 Glimmer Edition
Kehadiran Pagaehun menjadikan Icon Bali sebagai mal pertama yang menghadirkan konser publik artis K-Pop Korea di Bali.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved