Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Melempemnya Komedi Stuber

MI
29/6/2019 23:50
Melempemnya Komedi Stuber
Cuplikan film Stuber(DOK. WWW.IMDB.COM)

JUDULNYA terdengar nyeleneh. Stuber, gabungan dari nama Stu (Kumai Nanjiani), dan Uber, aplikasi penyedia taksi daring. Plot film ini mempertemukan Stu, pekerja toko luar ruang yang menyambi sebagai sopir Uber, dengan polisi buta yang tengah mengejar buronnya.

Seperti lazimnya karakter utama dalam banyak film komedi, Stu seorang yang payah. Inferior di depan bosnya, selalu sial saat mengantar penumpang, atau yang paling menjadikannya pecundang, tidak bernyali untuk mengutarakan perasaan kepada Becca (Betty Gilpin) yang ditaksirnya.

Sementara itu, ada Vic (Dave Bautista), polisi yang punya gangguan penglihatan. Meski sama-sama payah, Vic berbeda dengan Stu yang punya sisi kelembutan. Vic jadi representasi pria jantan ‘sejati’.

Enam bulan berlalu setelah peristiwa dalam prolog film yang menjadi penyebab Vic begitu ngotot ingin mengejar buronnya, Tedjo (Iko Uwais), si pengedar narkoba. Vic bertemu dengan Stu karena terpaksa menggunakan Uber setelah mobil yang dikendarainya masuk parit. Vic tengah mengejar Tedjo, yang juga telah membunuh rekan Vic, Morris (Karen Gillan).

Cerita yang bertumpu pada relasi antara pengemudi dan penumpang bukan sesuatu yang baru. Bisa kita temukan para beberapa film yang beredar belakangan, dalam berbagai genre. Ada Green Book, film drama yang menjadi jawara Oscar 2018, dengan karakter Tony Lip (Viggo Mortensen) dan Don Shirley (Mahersla Ali) yang menampilkan chemistry kuat. Ada pula A Taxi Driver (2017) yang mengangkat peristiwa sejarah di Korea Selatan, atau yang cukup mirip Stuber, film aksi komedi dari Prancis, Taxi (1998) yang mengetengahkan kemitraan antara polisi dan sopir taksi dalam menyelesaikan kasus kejahatan.

Bedanya, Stuber, yang skenarionya ditulis Tripper Clancy tampak kurang matang memberikan daya komedinya. Unsur komedi pada Stuber hanya bersumber dari komikal slapstick hampir di sepanjang film. Satu-satunya yang terasa paling menonjol ialah pada bagian ketika keduanya berada di diskotek gay dan Stu memberi motivasi moral pada salah seorang penari.

Karakterisasi dari beberapa tokoh bahkan terkesan sekadar pelengkap. Momen apa yang membuat Vic begitu ambisius untuk membalas dendam kematian rekannya Morris? Sedegil apa kejahatan pengedaran narkoba yang selama ini dilakukan Tedjo? Itu juga tidak muncul.

Malahan karakter Tedjo tampak samar. Penjahat sekaliber apa dia, apakah hanya cecunguk atau bos? Film ini berfokus pada dua karakter dengan mengabaikan kedalaman karakter dan motivasi dari tokoh lain.

Mempertemukan dua karakter bertolak belakang yang sama-sama bernasib sebagai pecundang memang lumrah jadi formula untuk menciptakan komedi. Namun, bila bit demi bit yang dibangun hanya mengantarkan punchline melempem, percuma. Mending, kelahi saja Dave dan Iko! (Jek/M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya