Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Romantisasi Ketenaran dalam Yesterday

Fathurrozak
29/6/2019 23:20
Romantisasi Ketenaran dalam Yesterday
Cuplikan Film Notting Hill dan Love Actually(DOK. WWW.IMDB.COM)

I DON’T believe in Beatles. Begitu nyanyian sendu John Lennon dalam lagu God. Barangkali, potongan lirik tersebut yang memantik ilham Richard Curtis dalam menciptakan kisah tentang sebuah dunia yang melupakan The Beatles band asal Inggris yang tersohor sejak era 1960-an dan merupakan salah satu ikon dari kebudayaan pop dunia.

Premis awal yang ditawarkan penulis skenario film Notting Hill dan Love Actually itu memang menarik. “Bagaimana jika dunia tidak pernah mengetahui The Beatles, kecuali seorang musikus medioker yang pencapaiannya sebatas pentas di hadapan anak-anak? Apakah ia perlu ‘mengisi’ kehilangan tersebut dan mengklaim kejeniusan The Beatles sebagai karyanya?”

Jack Malik (Himesh Patel) ialah seorang penyanyi-pencipta lagu yang berjuang di sebuah kota kecil di Inggris. Summer Song ialah satu-satunya karya sendiri yang ia banggakan. Meskipun pengabdian Jack dalam bermusik mendapat dukungan dari sahabat masa kecil merangkap manajernya, Ellie (Lily James), ketenaran yang ia impikan tak kunjung datang.

Hidup Jack berubah ketika terjadi fenomena misterius berupa matinya listrik di seluruh dunia selama 12 detik. Listrik yang padam berujung pada kecelakaan bus yang merontokkan giginya, pun ingatan orangorang tentang The Beatles.

“Apa kamu akan tetap membutuhkanku, tetap akan menyuapiku, ketika aku berumur 64?” tanya Jack kepada Ellie di rumah sakit. Ia merujuk pada salah satu hit The Beatles, When I’m Sixty Four.

“Kenapa 64?” balas Ellie heran. Band asal Liverpool yang digawangi John Lennon dan Paul McCartney itu kemudian memang seolah tak pernah eksis. Paling tidak begitulah kelihatannya ketika Jack berusaha meng-googling mereka di internet. Tatkala Jack melantunkan lagu Yesterday, teman-temannya terkesima, walau tak terlalu terkesan juga. “Itu toh bukan Coldplay,” ujar salah satu dari mereka.

Jack kemudian mendapat tawaran dari Ed Sheeran (memerankan dirinya sendiri) yang melihat penampilannya di saluran televisi lokal, untuk menjadi pembuka konser. Tangga ketenaran yang tak pernah berhasil diraih saat dimanajeri Ellie, seketika mulai terbuka jalannya.

Dari situ, ia berkenalan dan ditawari proyek oleh manajer Ed, Debra (Kate McKinnon), yang di film ini ditempatkan sebagai antagonis. Bukan karena The Summer Song tentu, melainkan karena lagu-lagu milik The Beatles yang ia bawakan. Segera popularitas mengikuti Jack, berikut rasa bersalah.

Karena film ini ditulis seorang pakar romantic comedy (romcom), janganlah kita berharap akan ada penelusuran alasan ilmiah di balik misteri hilangnya ingatan kolektif terhadap The Fab Four. Memang dengan lihai, plot film yang disutradarai Danny Boyle (Slumdog Millionaire, The Beach, Trainspotting) itu mampu menjaga film tetap dalam mood ringan nan manis bak gulali.


Racikan ciamik Curtis

Sejauh film, komedi tutur maupun ala komedi situasi khas Mr Bean, mahakarya Curtis bersama Rowan Atkinson, sangat berhasil diluncurkan sebagai misil komedi. Seperti ketika Ed yang tengah berbincang dengan Jack di dapur, dan ayah Jack (Sanjeev Bhaskar) mondar-mandir dari lemari dapur ke kulkas. Atau saat Jack ingin Let It Be jadi lagu pertama di dunia yang didengar orangtuanya, distraksi lagi-lagi jadi senjata untuk menciptakan situasi lucu.

Daya komedi lain yang juga cukup berhasil karena setelah kejadian misterius yang mengubah jalan hidup Jack itu, juga menghilangkan beberapa tokoh musikus, ikon produk modern, atau terma bahasa suatu zaman. Jack seperti hidup lintas zaman.

Ia tahu Coca-Cola, sedangkan teman lainnya hanya tahu Pepsi. Atau saat Debra menanyakan mengapa tiba-tiba Jack begitu obsesif dengan Liverpool.”Ada apa di Liverpool?” tanya Debra. “Ada Mo Salah.” Curtis memang paten menderetkan komedinya tanpa harus berusaha melucu.

Beberapa penonton mungkin sempat beranggapan, Yesterday akan mengambil jalur sama seperti Bohemian Rhapsody, film biografi Freddy Mercury dan Queen-nya.  Namun, Yesterday sesungguhnya tak lebih dari film romcom yang manis dengan lagu-lagu apik yang familier di kuping (sebagian) orang.  Premis awal yang sebenarnya sangat menarik, tampak kurang dieksplorasi karena mungkin tak ingin atmosfer film melenceng. Apakah ketika semua orang tidak pernah mengetahui eksistensi The Beatles, otomatis keberadaan Paul dan Ringo Starr yang masih hidup saat ini juga tak ada? Di mana keberadaan mereka ketika Mo Salah di Liverpool jadi ikon baru kota pelabuhan pada era saat ini? Penny Lane atau Abbey Road pun bahkan bukan jadi suatu ikon oleh warga dunia.

Apakah John Lennon menjalani kehidupan lain dan ia tidak pernah ditembak fannya? Pada ujung-ujungnya, film ini mengajukan pilihan standar, cinta atau kesuksesan? Setelah ketenaran  yang diromantisasi menelan Jack dalam keriuhan, mungkin ia hanya ingin kembali ke orang yang sungguh mengenalnya, Ellie. All you need is love, actually. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya