Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Keberlangsungan hidup terumbu karang ternyata bukan hanya bergantung pada kondisi iklim yang stabil dan lautan yang bebas polutan, juga bergantung pada para penghuninya, yaitu ikan-ikan kecil. Kebanyakan ikan yang menghuni terumbu karang ukurannya kurang lebih 2 inci. Siklus hidup ikan kecil-kecil tersebut amat cepat, mereka dimangsa saat usia muda. Namun tumbuh kembang ikan itu cepat sehingga terjadi harmoni ekosistem yang baik.
Ada sebuah paradoks usang mengatakan terumbu karang hidup di bagian kecil samudera yang miskin nutrisi, justru menjadi rumah bagi sepertiga spesies ikan di dunia. Jutaan orang pun bergantung pada terumbu karang karena ikan-ikan banyak berkumpul di sekitarnya entah itu sebagai penghuni maupun mencari mangsa di sekitar terumbu karang.
Sebuah teori menyatakan topografi lereng terumbu karang menangkap dan memusatkan nutrisi dan plankton mikroskopis dari perairan sekitarnya. Tidak hanya itu, peran makhluk hidup lain yang berupa spons maupun spesies invetrebrata lainnya di terumbu karang, ternyata memiliki fungsi mendaur ulang bahan organik yang telah mati agar bisa dimakan spesies lainnya.
Para ilmuwan kelautan dari Kanada, Prancis, Australia, dan Amerika Serikat telah menerbitkan sebuah makalah yang isinya pendapat mereka sebagian besar ikan kecil dan vetrebrata kecil yang tinggal di terumbu karang memiliki fungsi memicu mesin nutrisi ekosistem terumbu karang, menyediakan makanan untuk makhluk yang lebih besar. Seperti yang dikutip dari National Geographic ukuran spesies-spesies tersebut kurang dari 2 inci, bahkan ada beberapa spesies yang membutuhkan jumlah 40 ekor untuk mencapai berat seperempat kilogram.
"Mereka mungkin menyumbang hampir 60% dari biomassa ikan dan setengah dari spesies ikan di terumbu dan setengahnya lagi tersembunyi," kata ahli ekologi terumbu karang dari Universitas Simon Fraser Kanada, Simon Brandl, yang juga merupakan ketua dari penelitian terbaru tersebut.
Brandl menambahkan rahasia kesuksesan ikan-ikan kecil dan pentingnya ikan di terumbu adalah cara hidup mereka yang mirip dengan serangga, dimana mereka berkembang biak dengan subur, tumbuh cepat, dan menjalani kehidupan yang sangat singkat.
"Mereka telah melakukan pergantian yang tidak seperti organisme vertebrata yang kita tahu. Mereka seperti capung, jangkrik, yang mana tahapan kehidupannya hanya butuh waktu beberapa minggu untuk dewasa, kemudian mereka bereproduksi lagi, lalu pergi atau dimakan oleh predator," pungkasnya. (M-3)
Baca juga : Autisme Bisa Diobati dengan Pil Probiotik
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menegaskan bahwa kemandirian pangan nasional tidak akan tercapai maksimal tanpa melibatkan potensi maritim secara progresif.
PENGAMAT maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC) Marcellus Hakeng Jayawibawa menanggapi pengembangan ekonomi berbasis maritim di Riau.
PT Pertamina International Shipping (PIS) menggelar program edukasi lingkungan bertajuk Ocean LiteraSEA di SDN Tanjung Sekong, Cilegon, Banten.
PENDIDIKAN kelautan penting untuk memastikan generasi muda memiliki pemahaman tentang menjaga kelestarian laut. Ini diwujudkan dalam program Ocean LiteraSEA di Museum Bahari Jakarta.
BPK RI mendukung upaya pemerintah dalam menginisiasi program blue economy dengan memastikan pengelolaan yang bertanggung jawab atas aset kelautan Indonesia.
Sejumlah delegasi pemerintah Kenya hadir ke Indonesia untuk menjajaki kerja sama di sektor ekonomi biru dan maritim, Oktober lalu.
Penelitian terbaru mengungkap gunung-gunung bawah laut atau seamount menjadi pusat kumpulan hiu dan predator besar. Namun habitat unik ini terancam overfishing dan trawl dasar.
Ilmuwan mengembangkan teknologi pendeteksi hiu martil langka melalui DNA lingkungan (eDNA) tanpa perlu menangkap hewan.
Jaringan Muro Lembata bertujuan merangkul segenap pemangku kepentingan untuk bergerak dalam konservasi pesisir dan ekosistem laut berbasis kearifan lokal (Muro).
Pemerintah Indonesia memperkuat komitmennya dalam mencapai target konservasi laut 30% atau sekitar 97,5 juta hektare dari total wilayah laut nasional pada tahun 2045.
Konservasi spesies laut dilindungi juga menjadi titik fokus kegiatan WWF-Indonesia dengan berkontribusi dalam penyusunan rencana tata ruang laut (RZ KSN/KSNT) di 11 lokasi.
YKAN, sejak 2014, berfokus pada pelestarian alam dan kolaborasi dengan masyarakat lokal. Salah satu contohnya adalah sistem sasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved