Minggu 28 April 2019, 02:20 WIB

Paduan Baru untuk Tampilan Formal Batik

Suryani Wandari wandari@mediaindonesia.com | Weekend
 Paduan Baru untuk Tampilan Formal Batik

DOK TINA ANDREAN
batik

 

Pada koleksi terbarunya, Tina Andrean yang dikenal dengan gaun-gaun pengantin, menampilkan kebaya blazer dan gaun ala ponco untuk batik gaya formal.

SILUET mullet yang sudah beberapa tahun ini digemari terus diterapkan ke berbagai artikel fesyen. Tidak ketinggalan, dalam kebaya.

Hal itu pula yang terlihat dalam koleksi terbaru Tina Andrean. Berlangsung di Jakarta, Selasa (23/4), peragaan koleksi yang bertajuk Heritage Culture: Budaya Batik Pusaka, menampilkan sejumlah set kebaya yang berpotongan mullet atau asimetris dengan bagian belakang lebih panjang ketimbang depannya. Uniknya, kebaya tersebut bukan menggunakan material brokat sebagaimana yang kini telah jamak melainkan material yang lebih berat.

Pada kebaya kartini maupun kutu baru, potongan badan yang digunakan pada kebaya itu tidak pas badan, melainkan longgar cenderung a-line. Istri dari pengusaha waralaba salon dan roti Johnny Andrean itu juga menggunakan siluet melebar pada lengan. Sementara bagian sudut dibuat tidak bersiku melainkan setengah lingkaran.

Kebaya tersebut makin cantik dengan detail bordir pada beberapa bagian tepi depan dan belakang yang kemudian dihiasi lagi dengan sematan payet. Pilihan palet yang terdiri dari putih gading, biru muda, cokelat

hingga hijau celadon tampil serasi dengan kain dan selendang batik.

Tina yang selama ini dikenal dengan karya-karya gaun pengantin menjelaskan jika siluet kebaya sengaja dimodifikasi agar multifungsi. "Kebaya ini bisa difungsikan sebagai blazer untuk malam hari atau bisa dipadukan dengan gaun sack dress," kata Tina.

Blus dan Gaun Cape

Tidak hanya pada kebaya, Tina juga menerapkan siluet melebar pada blus dan cape dress atau gaun semi jubah yang bermaterial batik. Tampilannya tampak sedekat mungkin menyerupai jubah lewat lengan panjang yang melebar namun memiliki belahan dari ketiak hingga pergelangan tangan. Dengan penggunaan material batik yang cenderung kaku, meski lengan tertekuk, siluet A pada lengan baju bisa dipertahankan.

Tina berpendapat gaun ala jubah ini akan dapat digemari. Selain cantik, motif tersebut dinilai cukup cocok untuk beragam bentuk tubuh. Rentang usia penggunanya pun cukup luas, yakni dari para perempuan muda hingga yang sudah melewati usia produktif.

Pada set busana-busana ini Tina tidak menggunakan motif klasik seperti parang, melainkan motif fauna seperti ikan koi.

"Kini batik bukan lagi identik dengan motif parang karena sudah berkembang. Batik bukan untuk membatasi kita, tapi bahan untuk berkreasi," kata Tina.

Di sisi lain, Tina mengaku jika pemilihan motif itu juga membawa tantangan dalam penempatannya di busana. Tingkat kejelian dalam pengerjaan busana juga bertambah karena ia mengaku selalu berusaha untuk seminimal mungkin memotong atau membuang kain batik. Sedapat mungkin seluruh kain dapat dipergunakan.

Selain dua jenis busana itu, Tina juga mengeluarkan gaun-gaun batik ala Cheongsam dan juga koleksi kemeja batik pria yang sepadan dengan koleksi kebaya. (M-1)

Baca Juga

unsplash.com/Joseph Barrientos

Lautan Kini Semakin Sedikit Menyimpan Karbon

👤Devi Harahap 🕔Selasa 28 Juni 2022, 11:22 WIB
Berdasarkan model penelitian partikel baru yang ditemukan para peneliti, ternyata proses penyerapan ini hanya mampu menyimpan sedikit...
dok: Dialogue Art

Meditasi tentang Ruang, Material, dan Kekosongan

👤Devi Harahap 🕔Selasa 28 Juni 2022, 11:02 WIB
Pameran ini menggunakan ruang sebagai cermin untuk melihat kondisi manusia, baik diri sendiri, orang terdekat, maupun masyarakat secara...
NASA

Bagaimana Nasib Bumi jika Matahari Mati?

👤Devi Harahap 🕔Selasa 28 Juni 2022, 09:48 WIB
Sama seperti bintang lain, Matahari mempunyai batas usia. Ia akan menua, mengembang, meledak, sebelum...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya