Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Festival Sarung Berlangsung Meriah di Gelaran Perdana

Tosiani
03/3/2019 18:10
Festival Sarung Berlangsung Meriah di Gelaran Perdana
(Ist)

MINGGU pagi (3/3), ratusan orang mengenakan kain sarung berbagai motif di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Kain sarung dikenakan dengan cara dililitkan di tubuh menutup bagian pinggang ke bawah.

Sarung dipadupadankan dengan beragam jenis pakaian seperti kemeja, kaus, dan busana kebaya, sehingga memberi kesan kekinian. Sedianya mereka hendak mengikuti Festival Sarung 2019.

Sayangnya, hujan deras tiba-tiba mengguyur Jakarta dan sekitarnya, sehingga festival yang mestinya sesuai jadwal dimulai pukul 06.00 WIB mundur cukup lama. Para peserta festival berlarian mencari tempat-tempat berteduh, seperti di tenda-tenda foodhall sekitar panggung kesenian, juga di bawah dua atap panjang yang dipasang di belakang Patung Sukarno.

Hujan tidak juga surut hingga siang. Minimnya serapan air membuat arena catwalk yang sedianya digunakan untuk karnaval dan peragaan busana tergenang air. Sejumlah orang dari pihak penyelenggara berupaya membuat air surut.

Sekitar pukul 10.00 WIB, festival sarung baru bisa dimulai, langsung dengan peragaan busana karya para perancang muda dari siswa SMK dan mahasiswa Universitas Islam Negeri. Total ada sekitar 150 peserta yang ikut peragaan busana dalam dua bagian, yakni pagi dan sore hari.

Di antara para peserta terdapat sejumlah penyandang cacat yang ikut memperagakan sarung. Semua sarung yang dikenakan dari merek Gajah Duduk. Adapun peragaan busana akhirnya dilaksanakan di belakang Patung Sukarno.

Mereka juga membawakan sejumlah tarian dengan iringan musik dari panggung kesenian, seperti Yamko Rambe, dan musik tradisional lainnya di tengah guyuran hujan. Lantaran hujan, sejumlah acara seperti talkshow dan workshop sarung batal digelar.

Pembukaan festival semula dijadwalkan dilakukan oleh Mufidah Jusuf Kalla, namun batal. Pagi hari pihak panitia memberi tahu pembukaan akan dilakukan oleh Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, tapi juga urung dilakukan. Pada akhirnya pihak panitia yang membuka festival secara sederhana.

Ketua Umum Panitia Pelaksana Festival Sarung Indonesia, IGK Manila, menerangkan sarung merupakan salah satu budaya dan memiliki sejarah panjang yang menyertai bangsa ini. Hampir di berbagai pelosok Indonesia menggunakan sarung untuk berbagai keperluan baik untuk ritual ibadah, upacara adat ataupun busana sehari-hari.

"Namun perkembangannya, UMKM sarung tidak seindah motif-motif yang ada di dalamnya. Perlu dorongan dan dukungan berbagai pihak untuk memajukan UMKM sarung. Kondisi ini melatarbelakangi diselenggarakannya Festival Sarung Indonesia 2019," tuturnya.

IGK Manila mengaku senang masyarakat datang dan mengunjungi festival sarung tingkat nasional terbesar yang baru pertama kalinya dilaksanakan. Festival ini, kata dia, dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah dalam memajukan UMKM di Indonesia, serta membangkitkan kebanggaan terhadap sarung sebagai salah satu identitas budaya.

Kurator Festival Sarung 2019 Samuel Wattimena mengatakan, hal yang membedakan festival sarung ini dari festival serupa yang pernah ada adalah adanya sinergi dari berbagai kementerian mendukung penyelenggaraan festival sarung di GBK ini.

Menurutnya, beragam sarung dari ribuan pulau di Indonesia dapat menjadi ragam busana yang modis. Ia berharap generasi milenial bangga dengan sarung sebagai ikon budaya.

“Kalau generasi milenial bangga menggunakan sarung sebagai salah satu
fashion item dalam keseharian maka akan dapat membantu memutar roda perekonomian di pelosok daerah, terutama daerah penghasil sarung,” kata Sammy.

Sarung, tambahnya, sebagai salah satu identitas budaya yang dapat menyatukan bangsa. Melalui Festival Sarung diharapkan sarung bisa menjadi populer seperti batik.

Dengan begitu, otomatis nantinya akan benar-benar dapat mendorong perekonomian rakyat. Terutama, membantu perajin sarung dari pelosok daerah agar bangkit.

Sebagaimana diketahui, sejumlah daerah penghasil kain tenun dan sarung terdampak bencana tsunami dan gempa. Contohnya, perajin sarung Donggala dan Lombok.

Festival Sarung diinisiasi oleh Pokja Toleransi bersama Dekranas, Smesco Indonesia, serta para aktivis pemerhati budaya dan kebinekaan. Kegiatan tersebut mendapatkan dukungan dari kementerian dan lembaga pemerintahan terkait. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya