Minggu 09 Januari 2022, 05:35 WIB

Menuju Kurikulum Baru 2024

Putri Rosmalia | WAWANCARA
Menuju Kurikulum Baru 2024

MI/Adam Dwi
Kepala BSKAP, Kemendikbudristek Anindito Aditomo

 

PEMERINTAH berencana membuat kurikulum nasional baru di tahun 2024. Sebagai langkah awal, mereka akan meluncurkan kurikulum prototipe sebagai pilihan bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia mulai Juli tahun 2022 mendatang.
Kurikulum prototipe yang berlaku dari jenjang pendidikan usia dini hingga SMA/SMK ini diharapkan mengatasi berbagai krisis belajar yang semakin parah akibat pandemi.
Untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai kurikulum prototipe, berikut ini wawancara Media Indonesia dengan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (BSKAP, Kemendikbudristek), Anindito Aditomo, di kawasan Pondok Indah, Jakarta, Rabu, (5/1).

Mengapa pemerintah merasa perlu untuk membuat kurikulum baru?

Kurikulum itu satu bagian dari sistem pendidikan. Tujuan kita bukan untuk sekadar mengganti kurikulum, tujuan kita ialah untuk memperbaiki kualitas pembelajar­an. Jadi, transformasi pendidikan yang kita cita-citakan ialah membuat sekolah itu menjadi lebih aman, menyenangkan, dan bermakna untuk anak di Indonesia.
Mengapa perlu memerbaiki kurikulum, itu karena kita sudah lama mengalami krisis belajar. Krisis ini sudah lama, tetapi pandemi memperparah itu. Itu terlihat misalnya dari beberapa survei nasional dan internasional yang menyatakan kompetensi siswa-siswi Indonesia yang masih belum maksimal.
Kita punya data sejak tahun 2000 kira-kira sampai 20 tahun kemudian kualitas belajar tadi itu tidak meningkat. Pandemi memperparah itu semua, ada yang namanya learning loss atau kerugian belajar. Anak-anak yang tadinya level belajarnya itu tidak menggembirakan itu semakin tidak menggembirakan lagi dan kesenjangannya semakin lebar.
Itu menunjukkan bahwa anak-anak kita itu di sekolah tidak banyak belajar. Mungkin di beberapa sekolah unggulan itu anak-anak belajar. Namun, kalau kita bicara secara keseluruhan sebagai sebuah sistem, terlalu banyak anak-anak kita yang jangankan skill untuk era abad ke-21, yang paling mendasar saja dulu kemampuan memahami bacaan, kemampuan untuk menerapkan matematika dasar itu 60% sampai 70% belum menguasai.
Pembaruan kurikulum nasional ini menjadi salah satu bagian dari pembenah­an secara sistemik untuk seluruh elemen pendidikan Indonesia. Kurikulum menjadi salah satu elemen pendukung utama selain juga elemen lain seperti guru dan sekolahnya.

Namun, kita tampaknya sering mengganti kurikulum, mengapa demikian?

Kita perlu membedakan antara kurikulum sebagai kerangka di tingkat nasional dengan kurikulum di tingkat sekolah. Yang ditetapkan pemerintah itu ialah kerangka dasar kurikulum di tingkat nasional itu menjadi acuan bagi sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang lebih operasional yang dipakai guru untuk mengajar. Kerangka kurikulum nasional itu memang tidak boleh sering diubah, itu saya setuju.
Lalu, kalau dibilang sekarang terlalu cepat rasanya tidak, saya rasa ini memang sudah waktunya untuk diubah. Kalau melihat datanya, perubahan kurikulum nasional itu sudah tidak secepat dulu. Dulu tahun 2004, itu ada kurikulum nasional, tahun 2006 sudah ganti lagi itu hanya 2 tahun. Kemudian 2013 ada yang baru, itu jaraknya tujuh tahun. Nah, nanti kalau dihitung dari 2013 ke 2024 itu ada jarak 11 tahun. Jadi, masa tunggu perubahan kurikulum nasional ini sudah jauh lebih panjang.
Kalau bicara kurikulum sekolah justru sebaliknya. Kurikulum sekolah itu harus berubah dengan cepat, bahkan mungkin tiap semester atau paling tidak setiap tahun sekolah itu harus melakukan evaluasi dan perubahan kurikulum berdasarkan penerapan pembelajaran tahun lalu atau semester sebelumnya. Jadi, kurikulum sekolah itu harus ada perubahan karena siswanya berubah, isu-isu kontemporer­nya berubah.
Agar tetap bisa menaungi perubahan di tingkat sekolah ittulah kenapa kurikulum prototipe ini akan kami buat lebih fleksibel. Agar durability-nya juga lebih baik, lebih dapat bertahan.

Sejak kapan penyusunan kurikulum prototipe ini direncanakan dan mulai dilakukan dilakukan?

Sebelum memutuskan membuat kurikulum prototipe ini kami melakukan pendekatan yang bertahap. Pertama kita evaluasi Kurikulum 2013 itu, kami lakukan sejak 2019. Hasil evaluasi itu kemudian kita pakai untuk mengembangkan kurikulum yang baru, yaitu kurikulum prototipe.
Hasil pengembangan ini draf pertama­nya itu diuji cobakan di 2500 sekolah dan 900-an SMK di seluruh Indonesia. Itu sudah dilakukan sejak 2021 sampai saat ini masih berlangsung. Lalu sekarang yang tengah kami siapkan itu adalah tahap berikutnya, yaitu uji coba yang lebih luas.
Kemudian penetapan kurikulum prototipe sebagai kurikulum nasional itu resminya masih 2 tahun lagi, jadi masih tahun 2024.

Apa sebenarnya evaluasi utama Kurikulum 2013?

Ada hal yang perlu dilanjutkan dan dikuatkan, ada juga hal-hal yang harus diperbaiki.
Untuk yang perlu dilanjutkan itu pertama soal penguatan karakter. Di Kurikulum 2013 sangat eksplisit sekali ingin mengembangkan anak-anak secara holistik. Lalu soal bahwa pendidikan tidak boleh hanya mengutamakan konten tapi juga kompetensi, itu akan dilanjutkan karena memang semangatnya sudah ada bahkan sejak kurikulum di 2004. Selanjutnya ialah bahwa kurikulum nasional itu harus berperan sebagai kerangka.
Selanjutnya, hal yang kami rasa harus ada perubahan, misalnya soal belum adanya alokasi jam pelajaran untuk pengembangan karakter siswa. Nantinya dari setiap jam pelajaran harus ada 20%-30% untuk pengembangan karakter yang diisi dengan pembelajaran yang sifatnya berbasis problem. Melihat masalah di lingkungan sekitar dan harus menyelesaikan konflik itu dengan berkolaborasi dengan teman-temannya.
Ini untuk mengasah kepekaan sosial, melatih mereka untuk bekerja sama bernegosiasi kan tujuan kelompok.

Bagaimana dengan konten pelajarannya?

Kami coba ubah orientasi dari konten ke kompetensi dengan lebih serius. Kita fokuskan saja pada materi-materi esensial sehingga guru ada waktu untuk diskusi, tanya jawab, memberi umpan balik pada anak-anak untuk berdebat, kolaborasi, dan sebagainya.
Terakhir ialah penyempurnaan dalam hal fleksibilitas. Jadi, di kurikulum baru ini sekolah harus bisa merancang kurikulumnya secara fleksibel. Kalau di kurikulum sebelumnya sekolah itu jam pelajaran dikunci per minggu hitungannya. Sekarang tidak lagi.
Kita kuncinya pertahun saja jadi misalnya matematika 1 tahun sekian ratus jam bahasa Indonesia sekian ratus jam. Sekolah boleh menerjemahkan itu kalau mau dibagi per minggu (seperti sekarang) silakan, tetapi kalau mau sistem blok misalnya belajar IPA dulu kemudian selesai baru belajar mata pelajaran lain itu juga bisa, itu tidak masalah.
Kalau mau lintas mata pelajaran misalnya project yang mengkombinasikan sejarah dengan matematika dengan bahasa Indonesia 1 bulan boleh juga. Jadi, tergantung pada kreativitas guru dan sekolah.

Kalau sekolah bebas berinovasi lalu bagaimana menentukan standar hingga soal akreditasi?

Makanya saya bilang tadi ini reformnya itu harus sistemik, tidak bisa kita hanya menata kurikulum saja akreditasinya juga harus kita sesuaikan dan itu sekarang sedang kami lakukan. Kami di Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan ini bekerja erat dengan Badan Akreditasi Nasional untuk mengubah instrumen penilaian dan mekanisme penilaiannya. Kami sudah melibatkan mereka sejak tahun 2020.
Jadi, paralel kami mengembangkan kurikulum sekaligus juga bicara dengan Badan Akreditasi Nasional untuk meng­ubah orientasi mereka. Menyesuaikan mekanisme dan instrumen-instrumennya dan juga pelatihan untuk asesor-asesornya. Jadi tentu saja itu sudah kami siapkan juga agar bisa berjalan paralel.

Ada pendampingan dan pelatihan untuk sekolah?

Kami akan melakukan dua jenis pendampingan, pertama yang hi-tech, kedua yang hi-touch. Intinya pertama ialah pendekatan dengan memanfaatkan teknologi, kedua melakukan pendekatan secara langsung yang lebih personal dan interaktif.
Untuk pendekatan yang hi-tech itu di bulan depan akan diluncurkan aplikasi sebagai untuk membantu guru belajar tentang kurikulum ini. Akan banyak alat-alat assessment, teksnya ada di sana perangkat-perangkat ajar modul yang bisa mereka pakai untuk beradaptasi akan ada di aplikasi itu. Kemudian akan banyak juga modul pelatihan yang bisa diikuti guru secara mandiri di aplikasi itu.
Kemudian yang hi-touch itu adalah dengan membentuk komunitas-komunitas belajar. Kami akan memfasilitasi pembentukan kelompok-kelompok belajar agar guru-guru bisa secara bersama-sama sa­ling membantu meningkatkan pemahaman dan berinovasi dengan kurikulum ini. Kami juga akan menggunakan resources yang sudah ada seperti dari sekolah penggerak yang sudah terlebih dulu menggunakan kurikulum ini, mereka kan sudah punya pengalaman. Kami juga akan merekrut pengawas pengawas yang potensial untuk menjadi fasilitator bagi guru-guru belajar mengenai kurikulum ini ketika sekolah memutuskan untuk menggunakan kurikulum prototipe.

Apa kriteria sekolah yang bisa mulai menggunakan prototipe?

Tidak ada kriteria tertentu, semua sekolah bisa mendaftar. Jadi, nanti tahapannya ialah kami meluncurkan dulu aplikasinya. Dari situ sekolah dan guru-gurunya bisa melihat dan memelajari dulu bagaimana sebenarnya kurikulum prototipe ini. Lalu kalau mereka memutuskan untuk mulai menggunakannya, mereka bisa mendaftar lewat aplikasi yang akan kami luncurkan bulan depan.
Jadi, sifatnya bukan seleksi, tetapi pendataan. Prinsipnya kita akan memfasilitasi sekolah-sekolah yang memang berminat karena mereka sudah paham konsepnya. Ketika mereka mendaftar nanti akan ada kuesioner yang berfungsi mengukur tingkat kesiapan tiap sekolah. Apakah mereka sudah pernah melakukan inovasi pembelajaran sebelumnya atau belum. Nanti kami akan lihat kesiapannya dan mengeluarkan rekomendasi untuk penerapannya, tidak akan kami tolak.
Pertama-tama kita membuat skema penerapan yang dengan tingkat kompleksitas bergradasi atau berbeda-beda. Kalau sekolah yang selama ini sudah kreatif, sudah inovatif mereka bisa gaspol ibaratnya mereka bisa langsung menerapkan secara utuh.

Untuk sekolah yang selama ini belum menerapkan metode belajar kreatif bagaimana?

Sekolah-sekolah yang belum pernah melakukan penyesuaian adaptasi kurikulum tingkat nasional di tahun pertama kita dorong mereka untuk jangan mengubah kurikulumnya secara penuh dulu, tapi tahun pertama ini uji coba dulu.
Pelajari dulu ikuti pelatihan-pelatihannya kemudian terapkan secara terbatas. Mungkin pelajaran tertentu atau bulan tertentu atau 1 episode pembelajaran tertentu itu yang menerapkan prinsip-prinsip kurikulum baru ini.
Sebagian dulu tidak apa-apa di tahun pertama baru nanti di tahun kedua setelah mereka lebih confidence dan pengalaman, bisa mengadopsi secara penuh.
Perlu ditekankan bahwa perubahan kurikulum ini kita lakukan secara bertahap untuk menyiapkan ekosistemnya sampai betul-betul bisa diterima, dipahami dan dilaksanakan secara esensial substansinya. Bukan sekadar penggantian dokumen, bukan sekadar kerepotan administratif, tetapi betul-betul untuk menggerakkan perubahan transformasi pembelajaran.

Salah satu poin yang disoroti di kurikulum prototipe ialah penghilangan penjurusan di SMA. Bukankah pendidikan yang lebih spesifik itu penting?

Pertama soal ilmu spesifik, sekarang itu yang diperlukan itu adalah kemampuan-kemampuan yang sifatnya umum. Soft skill atau keterampilan abad ke-21 semuanya adalah keterampilan yang sifatnya lintas domain atau lintas mata pelajaran, lintas jurusan. Penalaran kritis, kreativitas, kemampuan bekerja sama itu keterampilan-keterampilan yang sifat umum itu yang lebih diperlukan. Karena pengetahuan dan keterampilan spesifik itu masa pakai dan relevansinya sekarang semakin pendek.
Kita belajar misalnya software tertentu tahun ini tahun depan mungkin udah berubah lagi yang digunakan industri. Selain masa pakainya itu semakin pendek, ketika anak perlu keterampilan spesifik mereka bisa cari sendiri karena pengetahuan ketrampilan spesifik itu ada dimana-mana. Mau belajar ngedit foto, bikin animasi, dan sebagainya Itu bisa dilihat di Youtube dan lain-lain.
Lalu mengapa kita menghilangkan penjurusan karena yang mau diperkuat itu bukan yang spesifik tapi keterampilan-keterampilan yang sifatnya lintas problem. Kedua kalau kita sudah menjuruskan anak-anak sejak kelas 10, bayangkan anak lulus SMP langsung ditentukan nasibnya dibatasi di IPA, IPS, atau bahasa. Itu rasa­nya tidak tepat karena masa-masa remaja bahkan sampai dewasa awal itu masa-masa pencarian, masih masa perumusan identitas dan perumusan aspirasi karier. Jangan kita kunci sejak mereka masih lulus SMP sudah harus memilih mau kemana nanti kariernya.
Jangan berpikir bahwa ini akan menjadi sangat kompleks atau membuat anak-anak kebingungan memilih mata pelajaran. Justru ini akan mempermudah. Nantinya juga tidak akan diperlukan tes-tes lanjutan untuk menentukan seorang anak masuk IPA atau IPS atau bahasa seperti yang banyak dilakukan sekarang.
Misalnya mereka tertarik dengan bidang sastra tapi juga tertarik mencoba jurusan teknik, mereka di sekolah bisa mengambil mata pelajaran bahasa dan sastra dan juga matematika lanjutan bersamaan. Lebih fleksibel jadinya. (M-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Aditya Pradana

Yang Terpapar Covid-19 Tetap Dilayani

👤MI 🕔Senin 07 Desember 2020, 05:35 WIB
MESKI dibayangi lonjakan kasus covid-19, Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetap pada keputusan untuk melaksanakan pemungutan suara Pilkada...
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Bubarkan saja FPI Apa Gunanya Coba?

👤Rahmatul Fajri 🕔Sabtu 21 November 2020, 04:50 WIB
PANGLIMA Kodam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman menjadi episentrum perhatian publik,...
DOK KEMENDIKBUD

Guru Didorong semakin Kreatif saat PJJ

👤MI 🕔Rabu 18 November 2020, 02:25 WIB
PEMBELAJARAN jarak jauh (PJJ) yang sudah berlangsung sekitar sembilan bulan akibat pandemi covid-19 memiliki banyak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya