Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DI balik hiruk pikuk kehidupan modern, tersimpan harta karun budaya yang tak ternilai harganya. Salah satunya adalah warisan leluhur berupa kain tenun, hasil karya tangan-tangan terampil yang telah diwariskan turun-temurun.
Di Indonesia, negeri dengan keberagaman budaya yang luar biasa, kain tenun bukan sekadar sandang, melainkan juga cerminan identitas, nilai-nilai estetika, dan filosofi kehidupan masyarakat.
Tersembunyi di pelosok negeri, terdapat sejumlah desa yang menyimpan rahasia di balik keindahan kain tenunnya. Desa-desa ini bagaikan permata tersembunyi yang menunggu untuk ditemukan.
Baca juga : Kenalkan Tenun Lewat Game Cotton Match dan Pameran Foto Karya Anak Bangsa
Di sana, kita akan menemukan proses pembuatan kain tenun yang masih dilakukan secara tradisional, menggunakan alat-alat sederhana dan bahan-bahan alami. Setiap helai benang yang ditenun mengandung makna mendalam, merefleksikan alam sekitar, kepercayaan, dan sejarah masyarakat setempat.
Motif-motif yang menghiasi kain tenun pun sarat akan simbolisme. Ada yang terinspirasi dari flora dan fauna, ada pula yang menggambarkan peristiwa sejarah atau mitologi. Setiap motif memiliki cerita dan makna tersendiri yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memahami bahasa kain tenun.
Kain tenun bukan hanya sekadar produk kerajinan tangan, juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Banyak masyarakat desa menggantungkan hidupnya pada produksi kain tenun. Dengan membeli kain tenun, kita tidak hanya mendapatkan produk yang berkualitas, tetapi juga ikut berkontribusi dalam melestarikan budaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pengrajin.
Baca juga : 7 September Hari Tenun Nasional, Yuk, Mengenal Lebih Dekat Ragam Tenun Nusantara dan Tantangannya
Mari kita telusuri lebih jauh ke dalam dunia kain tenun dan mengunjungi lima desa tersembunyi yang menyimpan rahasia keindahan yang tak terbantahkan yang dilansir ari pesona Indonesia dan sumber berita lainnya.
Desa Tenganan di Bali dikenal sebagai salah satu desa tradisional dengan budaya yang kaya dan bangunan yang masih mempertahankan gaya arsitektur tradisional. Keistimewaan desa ini terletak pada kain tenunnya yang disebut kain gringsing, yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat—satu-satunya teknik yang masih dipraktikkan masyarakat Desa Tenganan.
Proses pembuatannya sangat rumit dan memakan waktu hingga satu tahun, dengan pewarnaan alami yang terdiri dari tiga warna: kuning, merah, dan hitam. Jika Anda tertarik, Anda bisa langsung belajar proses menenun kain gringsing di sini. Desa ini berjarak sekitar 70 kilometer dari Bandara Ngurah Rai atau 55 kilometer dari Ubud.
Baca juga : Program Desa Digital Angkat Kreator dan Konten Perdesaan
Selain pantainya yang memukau, Lombok juga menawarkan pengalaman budaya yang unik di Desa Sukarara. Terletak di Lombok Tengah, desa ini menjadi pusat kerajinan tenun yang dikerjakan kaum perempuan.
Para wisatawan dapat menyaksikan langsung proses pembuatan kain tenun, bahkan mencoba menenun sendiri. Kain tenun dari Sukarara sangat terkenal akan kualitas dan keindahannya, sehingga menjadi buah tangan yang wajib dibawa pulang. Lokasinya yang strategis dekat dengan Pantai Kuta dan Tanjung Aan menjadikannya destinasi yang mudah diakses.
Desa Sade di Rembitan merupakan desa tradisional tempat tinggal Suku Sasak, yang dikenal sebagai penghasil kain tenun terbaik di Lombok. Kaum laki-laki di desa ini membuat kain tenun ikat, sementara perempuan menghasilkan tenun songket yang indah.
Baca juga : TNI AD Ajak Masyarakat Bangun Daerah
Wisatawan dapat belajar menenun atau berfoto dengan pakaian adat di antara rumah-rumah tradisional khas Sasak. Jika tertarik membeli kain tenun, terdapat koperasi yang menyediakan kain berkualitas di daerah ini.
Desa Watublapi di Kabupaten Sikka, NTT, dikenal sebagai penghasil kain tenun tradisional dengan pewarna alami dari tumbuhan lokal. Biru dari pohon nila, kuning dari akar kunyit, dan warna alami lainnya menjadi ciri khas kain dari desa ini.
Para wisatawan dapat menyaksikan kaum perempuan menenun di halaman rumah, sementara laki-laki bertugas merawat tanaman yang digunakan untuk proses pembuatan tenun, seperti kapas yang diolah menjadi benang.
Desa Adat Prailiu di Sumba Timur menghasilkan kain tenun yang terkenal hingga mancanegara.
Kain ini menggunakan bahan alami dengan warna merah, hitam, kuning, dan biru. Selain menenun, wisatawan juga bisa menjelajahi kekayaan budaya lain di desa ini, seperti melihat rumah adat beratap jerami yang disebut Uma Hori serta kuburan purbakala Reti yang megah.
Kunjungan ke desa ini memberikan pengalaman yang mendalam akan tradisi dan sejarah Sumba. (Z-3)
pemberdayaan desa melalui empat pilar pembangunan berkelanjutan, melibatkan generasi muda, komunitas lokal, dan program Desa Sejahtera
Antusiasme kepala daerah dalam pembentukan Posbankum sangat tinggi.
Pemkab Bekasi mengeklaim telah melakukan pengawasan ketat, mulai dari pengadaan bahan baku hingga proses pengolahan di dapur SPPG.
Penghargaan tertinggi ini diberikan kepada desa-desa yang sukses menyajikan pengalaman autentik sekaligus mendorong pemerataan ekonomi di tingkat lokal.
Kapasitas pemerintah desa dalam mengelola anggaran masih jauh dari standar akuntabilitas yang dibutuhkan.
DIREKTORAT Jenderal Bina Pemerintahan Desa (Pemdes) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menegaskan pentingnya komitmen yang kuat untuk menyelesaikan batas desa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved