Minggu 04 Juli 2021, 03:30 WIB

Mendu, Seni Tradisi Melayu di Kalimantan Barat

Dewi Juliastuty | Tradisi
Mendu, Seni Tradisi Melayu di Kalimantan Barat

Penampilan Mendu pada tanggal 13 November 2016 yang berjudul Panglima Akbar dan disutradarai oleh Ilham Setia../DOK ILHAM SETIA

 

Mendu ialah tradisi kolektif berbentuk teater rakyat yang mengandung perpa­duan unsur musik Melayu, tari, lagu, syair, dialog, pencak silat, dan banyolan/humor di dalam pementasannya. Mendu tidak hanya memainkan ceri­ta Dewa Mendu. Cerita yang ditampilkan bersifat istana sentris. Biasanya diangkat dari dongeng, legenda, hikayat seribu satu malam, serta cerita lama. Jarang sekali, bahkan tidak pernah menampilkan kehidupan sehari-hari.

Kesenian Mendu menjadi media pendidikan dengan menyampaikan nilai-nilai luhur sehingga setiap pementasannya selalu berakhir dengan kemenangan pihak yang benar terhadap kebatilan.

Merujuk penuturan beberapa seniman Mendu di Kalimanatan Barat dan berbagai referensi yang penulis temukan saat meneliti kesenian ini di sana, nama kesenian Mendu berasal dari hikayat Dewa Mendu yang dimainkan oleh para pencetus kesenian tersebut. Konon mereka bingung memberikan nama pada kesenian yang akan mereka tampilkan. Karena cerita yang pertama kali mereka pakai untuk latihan dan akan dipentaskan itu berjudul Dewa Mendu, mereka pun akhirnya menamakan kesenian ini ‘Mendu’.

Kesenian Mendu tidak hanya ada di Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau, tetapi juga di Malaysia. Mendu Riau mendapat pengaruh dari bangsawan, sedangkan Mendu Malaysia ialah sinonim dari Wayang Parsi. Bentuk penyajian Mendu di Malaysia pada akhir abad yang lalu mungkin cukup banyak bedanya dengan yang di Riau ataupun Kalimantan Barat.

Berkaitan penelitian yang telah penulis lakukan, ditemukan ada tiga versi asal-usul kesenian Mendu di Kalimantan Barat. Versi pertama menyatakan kesenian ini bermula dan dikembangkan pada 1712 yang dapat ditemukan dalam buku Ungkapan Beberapa Bentuk Kesenian (Teater, Wayang, dan Tari) yang diterbitkan Direktorat Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Versi kedua pada 1871 yang diungkapkan oleh Ellyas Suryani bin Soren (2003) dan Sataruddin Ramli (2000). Versi ketiga pada 1876 yang terdapat di dalam laporan Bidang Kesenian Kantor Wilayah Provinsi Kalbar Depdikbud Proyek Pengembangan Kesenian Kalbar (1983—1984).

Kesenian Mendu yang ada di Kalimantan Barat berasal dari Kabupaten Mempawah, terpusat di Desa Malikian, Kecamatan Mempawah Hilir. Kehidupan kesenian ini memiliki pasang surut. Setelah mengalami masa kejayaan pada 1876–1941, pamor kesenian ini meng­alami kemunduran bahkan mati suri pada masa penjajahan Jepang (1942). Pada dekade 1980-an, kesenian ini bangkit bahkan jadi primadona di dunia hiburan rakyat. Selain sebagai media hiburan, Mendu juga dapat berfungsi sebagai media penyampai pesan pembangunan, seperti program pendidikan, keluarga berencana, dan sebagainya.

Kebangkitan kesenian ini tidak lepas dari peran aktif pemerintah mengadakan diskusi dan sarasehan yang melibatkan beberapa tokoh muda dari kelompok teater modern yang ada di kota maupun kabupaten Pontianak untuk menggali dan menghidupkan kembali Mendu pada penghujung 1970-an.

Mereka bertekad untuk memelihara seni tradisional daerahnya, khususnya Mendu dan berusaha mengembangkannya sehingga muncul banyak sanggar Mendu di Provinsi Kalimantan Barat. Berbagai upaya penyebarluasan kesenian ini antara lain juga dilakukan dengan mengikutsertakan Mendu pada berbagai festival. Selain itu, mereka juga meng­upayakan agar kesenian ini tampil di televisi (TVRI) melalui. Pemerintah Kalbar juga berupaya menampilkan kesenian ini di luar pulau, yaitu di Taman Budaya Yogyakarta pada 2005.

Kini perlahan penampilan Mendu pun tidak lagi menjadi sesuatu yang asing meskipun masih belum sepopuler pada masa jayanya dulu. Meskipun banyak seniman Mendu yang telah wafat dan hanya beberapa yang masih hidup dan aktif berkesenian, seperti Budi KK, Ilham, Jerry, dan Kamel, pertunjukan kesenian ini tetap dapat ditemukan. Biasanya pertunjukannya digarap oleh para seniman muda.

Tata pertunjukan


Pertunjukan Mendu diawali dengan bunyi pluit ditiup panjang sebanyak 3 kali dan diikuti dengan bunyi gong tunggal yang juga dipukul sebanyak 3 kali. Setelah itu disusul bunyi tetabuhan, yang dilanjutkan bunyi biola untuk mengiringi pemain/penyanyi solo membawakan lagu Bismillah sebagai lagu pembuka pertunjukan.

Setelah itu dilanjutkan dengan penampilan tari dan lagu Beladon oleh beberapa orang pemain/aktor. Mereka keluar satu per satu atau berpasangan dengan gerak tari dan pencak silat mengikuti irama tetabuhan. Mereka tampil berjajar di depan untuk menyayikan lagu Beladon sambil menari.

Selanjutnya para pemain pun meninggalkan pentas, kecuali mereka yang berperan di adegan awal pertunjukan tetap berada di atas panggung.

Waktu pertunjukan Mendu tergantung kepada permintaan pihak penyelenggara dan respons penonton. Pada zaman dahulu penampilan Mendu bisa lebih dari empat jam. Akan tetapi, kini dipersingkat menjadi 45-90 menit. Adapun bahasa yang digunakan ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan kondisi dan biasanya bercampur dengan bahasa Indonesia.

Adegan di dalam cerita banyak dilakukan secara spontan, improvisasi yang disertai humor, terutama yang diperankan oleh tokoh Khadam dan Mak Miskin. Dalam pertunnjukan biasanya disisipkan dialog/pesan berupa nasihat dan pendidikan budi pekerti.

Penampilan Mendu ditutup dengan lagu dan tari Beremas. Semua pemain tampil berjajar menghadap penonton dan mendendangkan lagu sambil menari. Beremas juga  sebagai ungkapan rasa terima kasih para pemain kepada penonton sekaligus permohonan maaf apabila terdapat kesalahan-kesalahan yang mungkin saja mereka lakukan tanpa sengaja. (M-4)

Baca Juga

Dok.Pribadi

Meneroka Tari Adat Suku Akit Hutan Panjang

👤FATMAWATI ADNAN 🕔Minggu 20 Juni 2021, 05:00 WIB
SUKU Akit merupakan salah satu subsuku Melayu...
Micom/Ricky Julian

Dari Tradisi Menuju Prestasi

👤Ricky Julian 🕔Minggu 15 Juli 2018, 20:56 WIB
SUASANA hening di Kampung Betawi Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara mendadak riuh kala ratusan pendekar muda dari seantero Jabodetabek datang...
ANTARA/Muhammad Iqbal

Lomba Pukul Beduk Semarakkan Takbiran

👤MI 🕔Rabu 13 Juni 2018, 09:11 WIB
MENYAMBUT Idul Fitri 1439 Hijriah, Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, bakal menggelar lomba memukul beduk yang melibatkan 1.000...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Senin, 16 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN