Minggu 20 Juni 2021, 05:00 WIB

Meneroka Tari Adat Suku Akit Hutan Panjang

FATMAWATI ADNAN | Tradisi
Meneroka Tari Adat Suku Akit Hutan Panjang

Dok.Pribadi
Tari Gendong.

 

SUKU Akit merupakan salah satu subsuku Melayu (Proto-Melayu). Mereka mendiami wilayah Pulau Rupat, Pulau Padang, Pulau Merbau, Pulau Tebing Tinggi, Pulau Rangsang, dan Pulau Mendol di Provinsi Riau. Mereka diperkirakan merupakan penghuni pertama pulau-pulau itu.

Akit berasal dari kata rakit sebab dulu suku itu tinggal di rumah rakit yang mengapung di laut atau sungai. Namun, seiring dengan waktu, suku itu mulai bermigrasi ke darat. Salah satunya ialah suku Akit Hutan Panjang di Pulau Rupat. Setelah mereka beralih ke darat, kehidupan maritim berubah ke agraris dan mata pencaharian sebagai nelayan pun beralih ke bertani.

Di darat suku itu berinteraksi dengan suku lain, terutama suku Melayu. Suku Akit menganut aliran kepercayaan, Buddha, Islam, dan Kristen, sedangkan suku Melayu beragama Islam. Perbedaan agama dan budaya tidak menimbulkan konflik di daerah ini, mereka hidup damai berdampingan dan saling menghargai. Bahkan, masyarakat suku Akit Hutan Panjang menyebatikan (menyatupadukan) toleransi dalam tradisi. Proses penyebatian itu berupa asimilasi, yaitu penyesuaian atau peleburan unsur toleransi dengan lingkungan sekitar ke dalam unsur asli tradisi. Peleburan itu terlihat dalam beberapa produk budaya, termasuk tari adat.

Tari adat merupakan tari tradisional yang tumbuh, berkembang, dan dilestarikan secara temurun dalam suatu komunitas etnik. Tari itu umumnya memiliki ciri khas yang mencerminkan falsafah, budaya, dan kearifan lokal setempat. Tidak seperti tari 'biasa', tari adat dipertunjukkan hanya pada momen dan waktu tertentu, disertai ritual khas.

 

Prosesi ritual

Prosesi tari semacam itu biasanya diawali seorang perempuan tua (disebut pengasuh nasi besar) yang bersimpuh di hadapan kepuk (kerangka kayu bertingkat) tiga tingkat berkaki empat. Setiap tingkat berisi pulut kuning yang sudah ditanak berbalut daun pandan yang dibentuk membulat seperti mangkuk dan beralas daun pisang (disebut nasi kunyit). Semakin ke atas 'mangkuk' daun pandan itu semakin mengecil.

Di depan kepuk mengepul asap kemenyan dari bara api yang diletakkan dalam sebuah mangkuk kecil. Di samping kepuk sebuah talam memuat telur rebus berwarna merah, hijau, dan kuning kecokelatan yang ditusuk dengan lidi kepau. Lidi itu menembus telur secara horizontal dengan ujung bagian atas daun kepau yang dianyam menyerupai bebungaan. Masih di sekitar kepuk diletakkan sebuah mangkuk plastik berwarna hijau berisi beras kuning. Aroma kemenyan, nasi kunyit tiga tingkat, telur tiga warna, anyaman bebungaan, beras kuning, dan seorang perempuan tua yang terkesan memiliki 'keistimewaan' menghadirkan kesan magis.

Dengan takzim perempuan itu memulai ritual menancapkan lidi telur pada nasi kunyit yang akan melekatkan kesan megah pada kepuk. Tiga telur pada tingkat pertama, lima telur pada tingkat kedua, dan tujuh telur pada tingkat ketiga. Pada waktu bersamaan suara musik yang berasal dari gendang dan sunai yang dimainkan dari beranda rumah mengiringi ritual itu.

Satu per satu lidi telur sudah tertancap pada nasi kunyit. Tiba-tiba, peniup sunai tampak berdiri dengan tubuh limbung dan bergetar hebat. Ia, yang awalnya duduk di beranda rumah, berjalan tertatih menuju kepuk. Sontak yang lain menyambutnya dengan antusias. Ternyata, arwah leluhur memasuki tubuhnya untuk memberikan restu pada acara yang akan dilaksanakan.

Restu leluhur telah diperoleh dan nasi kuning pun sudah berhias. Dua pemuda mengusung kepuk dengan didampingi dua pemuda lainnya yang membawa tiang berbendera kuning putih. Di belakang mereka para pemuka adat, masyarakat lainnya, dan pemusik mengiringi. Sebelum berjalan, arak-arakan itu diawali dengan pencak silat. Rumah tempat persiapan acara pun ditinggalkan, arak-arakan menuju lokasi acara.

Pintu masuk ke lokasi acara dihalangi dengan tali berhias daun kepau. Dua pesilat, seorang dari rombongan arak-arakan dan seorang lainnya yang menyambut kedatangan, mulai beratraksi. Di penghujung atraksi mereka memutus tali penghalang dengan sebuah tendangan.

Rombongan arak-arakan menuju kursi yang sudah disediakan. Kepuk nasi kunyit diletakkan di tengah-tengah arena pertunjukan, menjadi titik pusat seluruh tari yang akan digelar. Suasana acara adat yang menguarkan spiritualitas dan estetika secara bersamaan itu pun 'menyungkup' Desa Hutan Panjang.

 

Tari Mak Inang

Lima gadis berbaju kebaya labuh berwarna hijau memasuki arena pementasan dengan sanggul berhias bunga-bungaan di kepala. Mereka berdiri berjajar menyusun sembah. Musik pun bergema. Perpaduan bunyi tabuhan kompang, pukulan gong, dan tiupan sunai terdengar harmonis dan indah.

Gadis yang muncul pertama membawa sebuah tepak sirih di atas talam beralas kertas kuning emas. Tepak sirih itu dibalut beludru merah bertekat benang emas. Bagian atas tepak sirih ditutup dengan kain kuning bertekat dan berjumbai. Para penari berselendang itu bergerak gemulai dengan mengelilingi kepuk yang ada di tengah arena. Selendang itu mengibar, mengibas, dan meliukkan gerakan lainnya. Hanya selendang penari pertama yang tetap terselempang di bahu sebab ia memegang tepak sirih.

Tari Mak Inang diiringi musik dan nyanyian yang dinyanyikan seorang perempuan. Suaranya yang khas dan jernih menyenandungkan tiga bait pantun dalam bahasa Melayu dialek Akit. Tari, lagu, dan musik berpadu indah menjadi tontonan yang memanjakan mata dan menyenangkan hati. Tari Mak Inang merupakan tari pembuka yang menunjukkan penghormatan kepada para tamu. Kearifan lokal yang mencuat dari peristiwa itu ialah memuliakan tamu merupakan tindakan baik yang harus dilakukan. Uluran tepak sirih menjadi simbol keterbukaan dan penerimaan yang baik dari mereka kepada tamu yang datang.

 

Tari Mak Ling 

Tari Mak Ling ditarikan lima remaja laki-laki yang akan berkhitan. Setelah mengawali dengan menyusun sembah, kelimanya melakukan gerakan-gerakan menari seperti pencak silat. Tidak banyak variasi gerakan, mereka berputar dengan titik pusat kepuk nasi kunyit. Ada nuansa tegas dan karismatik. Mungkin inilah yang diharapkan keluarga dan leluhur, setelah berkhitan, mereka tumbuh menjadi lelaki dewasa yang memiliki sikap kukuh dan berwibawa.

Bagaimanakah khitan suku Akit? Uniknya, khitan yang dilakukan masyarakat suku Akit berbeda dengan khitan yang dilakukan orang Melayu (muslim). Bagi orang Melayu yang berpedoman pada ajaran Islam, khitan berarti membelah kulup pada kulit bagian atas kepala zakar. Sementara itu, menurut kepala batih suku Akit Hutan Panjang, Askarianto, khitan yang mereka maksud sebatas melukai sedikit zakar si remaja lelaki. Kata dia, khitan yang mereka lakukan merupakan wujud toleransi kepada orang Melayu yang memiliki tradisi ini.

 

Tari Gendong

Lima gadis penari Tari Mak Inang dan lima lelaki muda penari Mak Ling bergabung menarikan Tari Gendong. Kesepuluh penari memasuki arena dengan posisi selang-seling antara lelaki dan perempuan. Setelah mengawali dengan gerakan menyusun sembah, para penari membentuk lingkaran mengelilingi kepuk nasi kunyit.

Secara sepintas terlihat mereka melakukan gerakan yang sama. Ternyata, terdapat perbedaan gerakan penari lelaki dengan penari perempuan. Penari lelaki terkesan lebih kaku dan tidak banyak gerakan, sedangkan perempuan lebih gemulai dengan gerakan tambahan memainkan selendang.

Tari itu menceritakan sukacita gadis muda yang akan ditindik. Tindik suku Akit hanya untuk anak atau remaja perempuan yang menjadi simbol fase menuju kedewasaan.

 

Tari Kitang

Tari keempat yang dipertunjukkan pada acara adat suku Akit Hutan Panjang ialah Tari Kitang. Tari dibawakan empat anak laki-laki yang mengenakan kostum serbakuning. Setelan teluk belanga, kain samping, dan tanjak berwarna kuning. Selempang hijau melingkari tubuh dari bahu kiri ke pinggang kanan dan dari bahu kanan ke pinggang kiri, bersilang di dada dan punggung. Dua carik kain selebar sapu tangan berwarna kuning dilekatkan pada jemari tangan kanan dan kiri.

Sama seperti ketiga tari lainnya, kepuk nasi kunyit menjadi titik pusat gerakan. Keempat penari cilik mementaskan gerakan yang lebih lincah, dinamis, dan atraktif. Tari itu boleh dipertunjukkan pada berbagai acara, seperti berkhitan, bertindik, pernikahan, dan helat penyambutan tamu kehormatan. (M-4)

 

Tentang Penulis

 

Penulis ialah peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau dan juga anggota Asosiasi Tradisi Lisan Riau. Dapat dihubungi di fatmaadnan@yahoo.com.

Baca Juga

Penampilan Mendu pada tanggal 13 November 2016 yang berjudul Panglima Akbar dan disutradarai oleh Ilham Setia../DOK ILHAM SETIA

Mendu, Seni Tradisi Melayu di Kalimantan Barat

👤Dewi Juliastuty 🕔Minggu 04 Juli 2021, 03:30 WIB
Mendu ialah tradisi kolektif berbentuk teater rakyat yang mengandung perpa­duan unsur musik Melayu, tari, lagu, syair, dialog, pencak...
Micom/Ricky Julian

Dari Tradisi Menuju Prestasi

👤Ricky Julian 🕔Minggu 15 Juli 2018, 20:56 WIB
SUASANA hening di Kampung Betawi Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara mendadak riuh kala ratusan pendekar muda dari seantero Jabodetabek datang...
ANTARA/Muhammad Iqbal

Lomba Pukul Beduk Semarakkan Takbiran

👤MI 🕔Rabu 13 Juni 2018, 09:11 WIB
MENYAMBUT Idul Fitri 1439 Hijriah, Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, bakal menggelar lomba memukul beduk yang melibatkan 1.000...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Jumat, 20 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN