Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
TEKA-teki di balik guncangan hebat yang melanda Santorini dan Laut Aegea pada awal 2025 akhirnya terungkap. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature mengonfirmasi rentetan puluhan ribu gempa bumi tersebut dipicu oleh pergerakan masif 300 juta meter kubik magma yang menerobos kerak bumi.
Studi kolaborasi internasional yang melibatkan GFZ Potsdam dan GEOMAR Kiel ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) serta instrumen dasar laut canggih untuk memetakan jalur magma dengan akurasi yang belum pernah ada sebelumnya.
Data menunjukkan magma mulai naik dari kedalaman 18 kilometer menuju hanya 3 kilometer di bawah dasar laut. Tekanan dari batuan cair ini menghancurkan lapisan kerak di sekitarnya, yang memicu lebih dari 28.000 aktivitas seismik, termasuk gempa dengan magnitudo di atas 5,0.
Dr. Marius Isken, ahli geofisika dari GFZ, menjelaskan proses tersebut. "Aktivitas seismik ini tipikal dari naiknya magma melalui kerak bumi. Magma yang bermigrasi memecahkan batuan dan membentuk jalur, yang menyebabkan aktivitas gempa bumi yang intens. Analisis kami memungkinkan kami untuk melacak jalur dan dinamika kenaikan magma dengan tingkat akurasi yang tinggi," ujarnya.
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah adanya hubungan hidrolik antara Santorini dan gunung api bawah laut Kolumbo yang terletak 7 km di dekatnya. Saat magma bergerak, permukaan tanah di Santorini sempat terangkat beberapa sentimeter sebelum akhirnya turun kembali, sementara dasar laut di sekitar Kolumbo amblas hingga 30 sentimeter.
Dr. Jens Karstens, ahli geofisika laut dari GEOMAR, menyatakan bahwa kerja sama internasional sangat krusial dalam memantau krisis ini. "Melalui kerja sama internasional yang erat dan kombinasi berbagai metode geofisika, kami dapat mengikuti perkembangan krisis seismik ini secara waktu nyata dan bahkan mempelajari sesuatu tentang interaksi antara kedua gunung berapi tersebut. Hal ini akan membantu kami meningkatkan pemantauan kedua gunung berapi di masa depan," kata Karstens.
Keberhasilan pemetaan ini tak lepas dari proyek MULTI-MAREX yang telah menempatkan sensor di kawah Kolumbo sejak awal Januari. Data ini langsung dibagikan kepada otoritas Yunani untuk penilaian risiko tsunami dan letusan.
Prof. Dr. Paraskevi Nomikou dari University of Athens menekankan pentingnya riset ini bagi warga setempat. "Memahami dinamika di wilayah yang sangat aktif secara geologi ini seakurat mungkin sangat krusial bagi keselamatan dan perlindungan penduduk," tegasnya.
Meskipun aktivitas seismik kini mulai menurun, pemantauan ketat terhadap suhu dan gas vulkanik terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi ancaman di masa depan di salah satu kawasan paling aktif di Eropa ini. (Science Daily/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved