Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH pendekatan terbaru dalam desain vaksin HIV menghadirkan harapan segar bagi dunia medis. Melalui teknik yang dikenal sebagai “DNA origami”, para ilmuwan berhasil merancang vaksin yang mampu mengarahkan sistem kekebalan tubuh untuk mengaktifkan sel imun langka yang dibutuhkan dalam pembentukan antibodi pelindung terhadap HIV.
Temuan awal dari studi pada tikus yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini menunjukkan bahwa vaksin berbasis DNA origami mampu menghasilkan sel B memori hingga tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan teknologi nanopartikel protein tradisional.
DNA origami merupakan kerangka tiga dimensi yang direkayasa secara presisi dari DNA yang dilipat sedemikian rupa. Struktur ini berfungsi sebagai “wadah” untuk menampilkan antigen virus, yakni bagian virus yang dapat dikenali oleh sistem kekebalan tubuh.
Keunggulan utama pendekatan ini terletak pada sifatnya yang sangat fleksibel dan dapat disesuaikan. Struktur DNA dapat dimodifikasi dengan berbagai cara untuk mengatur jumlah, posisi, dan kepadatan antigen yang ditampilkan, sehingga memberi kontrol lebih besar dalam mengarahkan respons imun.
Dengan menggunakan kerangka DNA yang tidak akan memancing respons tambahan, para peneliti berhasil memfokuskan sistem imun pada antigen HIV yang sebenarnya ingin diserang.
Membuat vaksin HIV itu tantangan besar karena virus ini sangat pintar berubah bentuk, sehingga antibodi yang sudah dibuat tubuh sering kali jadi tidak berguna. Kuncinya, vaksin harus bisa memicu antibodi khusus bernama "penetral luas" yang mampu menyerang bagian virus yang tidak pernah berubah, yaitu situs pengikatan CD4 yang digunakan HIV untuk menginfeksi sel manusia.
Masalahnya, sel imun yang bisa menghasilkan antibodi khusus ini sangat langka di tubuh kita. Di sinilah teknologi DNA origami berperan. Para peneliti memasang umpan yang mirip dengan pintu masuk virus tersebut pada kerangka DNA.
Hasilnya, vaksin ini jauh lebih efektif dalam menemukan dan mengaktifkan sel imun langka tersebut dibandingkan cara lama, sehingga tubuh bisa mulai belajar membentuk perlindungan yang lebih kuat terhadap berbagai varian HIV.
Meski hasil pada tikus terlihat menjanjikan, efektivitas pendekatan ini pada manusia masih harus dibuktikan melalui penelitian lanjutan. Vaksin HIV kemungkinan besar tidak akan cukup diberikan dalam satu atau dua kali suntikan saja, melainkan membutuhkan strategi bertahap untuk membangun respons imun yang kuat dan berkelanjutan.
Namun demikian, studi ini dianggap sebagai langkah awal yang penting. Selain untuk HIV, teknologi DNA origami juga berpotensi diterapkan pada virus lain yang cepat bermutasi, seperti influenza, dengan tujuan memfokuskan respons imun agar lebih tepat sasaran.
Jika hasil positif ini dapat direplikasi pada manusia, DNA origami bukan hanya menjadi inovasi teknis, tetapi juga bisa membuka babak baru dalam desain vaksin modern dan terapi imun di masa depan.
Sumber: Live Science
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved