Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

5 Fakta Capung, Serangga Terbang Tercepat di Dunia

Nadhira Izzati A
04/2/2026 22:25
5 Fakta Capung, Serangga Terbang Tercepat di Dunia
Berikut Fakta Capung(freepik)

CAPUNG merupakan serangga dari ordo Odonata yang dikenal sebagai salah satu serangga terbang tercepat di dunia. Beberapa spesies capung mampu terbang dengan kecepatan hingga 35 mil per jam atau sekitar 56–58 km/jam dalam semburan singkat. Salah satu spesies yang tercatat memiliki kemampuan ini adalah Southern Giant Darner (Austrophlebia costalis) yang berasal dari Australia.

Hasil eksperimen modern menunjukkan bahwa kecepatan udara maksimum yang dapat dipertahankan oleh sebagian besar serangga berada di kisaran 39 km/jam. Namun, capung tertentu mampu melampaui batas tersebut dalam waktu singkat.

Menurut Guinness World Records, pada tahun 1917 pernah dicatat kecepatan 98,6 km/jam pada capung Southern Giant Darner. Akan tetapi, angka ini merupakan kecepatan relatif terhadap tanah, bukan kecepatan udara sebenarnya. Kecepatan udara maksimum yang dapat diverifikasi secara ilmiah tetap berada di kisaran 58 km/jam.

Berikut 5 Fakta Capung yang Jarang Diketahui

Banyak fakta-fakta yang jarang diketahuin orang mengenai Capung, diantaranya sebagai berikut.

1. Serangga Purba yang Bertahan Ratusan Juta Tahun

Capung termasuk serangga purba. Fosil menunjukkan bahwa nenek moyangnya telah hidup dan terbang di Bumi lebih dari 300 juta tahun lalu, jauh sebelum kemunculan dinosaurus. Capung modern memiliki rentang sayap hingga sekitar lima inci, tetapi salah satu kerabat awal capung dalam catatan fosil, yang dikenal sebagai Meganeuropsis permiana, ditemukan memiliki rentang sayap lebih dari dua kaki.

Beberapa ilmuwan berteori bahwa tingginya kadar oksigen di atmosfer pada era Paleozoikum memungkinkan nenek moyang capung tersebut tumbuh hingga ukuran raksasa.

2. Kemampuan Terbang yang Luar Biasa

Keunggulan capung dalam terbang didukung oleh empat sayap yang dapat bergerak secara independen. Kemampuan ini memungkinkan capung melayang di udara, terbang mundur, bergerak ke samping, serta melakukan manuver cepat.

Capung juga memiliki mata majemuk besar yang terdiri dari puluhan ribu lensa, sehingga mampu mendeteksi dan melacak mangsa dengan akurat saat terbang.

3. Mampu Memprediksi Posisi Mangsa

Sebagai predator udara, capung berburu dengan cara memprediksi posisi mangsa sebelum melakukan intersepsi. Strategi ini membuat capung sangat efektif dalam menangkap serangga terbang lain seperti nyamuk dan lalat, serta menjadikannya predator yang efisien dalam ekosistem.

4. Menghabiskan Sebagian Besar Hidup di Air

Sebelum tumbuh menjadi serangga terbang, sebagian besar hidup capung dihabiskan di air. Pada tahap larva, capung hidup secara akuatik dan bersifat predator. Larva capung memakan berudu, ikan kecil, larva serangga lain, termasuk larva nyamuk, bahkan sesama capung. Fase ini umumnya berlangsung satu hingga tiga tahun, meskipun pada beberapa spesies dapat lebih singkat atau mencapai lima tahun.

Pada akhir tahap larva, capung akan merayap keluar dari air. Rangka luarnya (eksoskeleton) pecah dan melepaskan tubuhnya yang sebelumnya terlipat. Keempat sayap keluar, dan tubuh capung mengering serta mengeras dalam beberapa jam sebelum siap terbang.

5. Masa Hidup Dewasa yang Singkat

Setelah mencapai fase dewasa, capung memiliki masa hidup yang relatif singkat. Umumnya capung dewasa hidup selama satu hingga tiga minggu, meskipun beberapa individu dapat bertahan hidup lebih dari dua bulan.

6. Peran Capung dalam Mengendalikan Nyamuk

Capung berperan penting sebagai pengendali alami populasi nyamuk. Seekor capung dewasa dapat memakan sekitar 30 hingga lebih dari 100 nyamuk per hari, meskipun menurut National Park Service jumlah sebenarnya cenderung berada di kisaran bawah.

Bahkan pada tahap larva, capung tetap memangsa nyamuk secara aktif, dengan satu nimfa mampu memakan sekitar 40 larva nyamuk per hari. Karena peran ini, capung sering dijuluki “mosquito hawk.”

Sumber: Sciencenewstoday.org, Guinness World Records, Smithsonian Magazine



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya