Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Wormhole Penghubung Tata Surya Ditemukan! Mirip Film Interstellar

Muhammad Ghifari A
19/1/2026 22:03
Wormhole Penghubung Tata Surya Ditemukan! Mirip Film Interstellar
Ilustrasi wormhole menghubungkan dua titik dalam ruang-waktu.(Kiyoshi Takahase Segundo/Alamy)

MASIH ingat konsep wormhole atau lubang cacing dalam film Interstellar? Meski tidak identik, para ilmuwan kini menemukan indikasi keberadaan “terowongan antarbintang” berupa saluran plasma kosmik yang diduga menghubungkan tata surya dengan wilayah bintang lain di galaksi Bima Sakti.

Temuan ini berasal dari pemetaan rinci lingkungan kosmik di sekitar Matahari. Para peneliti mendapati adanya saluran plasma panas berdensitas rendah yang membentang dari wilayah lokal tata surya menuju rasi bintang jauh di angkasa.

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim astronom dari Max Planck Institute dengan memanfaatkan data teleskop sinar-X eRosita, instrumen utama dalam misi Spectrum-Roentgen-Gamma. Hasil kajian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Astronomy & Astrophysics dan langsung menarik perhatian komunitas astronomi global.

Selama beberapa dekade, ilmuwan telah mengetahui bahwa tata surya berada di dalam wilayah kosmik khusus bernama Local Hot Bubble (LHB). Wilayah ini merupakan gelembung gas panas berdensitas rendah yang terbentuk akibat serangkaian ledakan supernova jutaan tahun lalu, dengan diameter diperkirakan mencapai sekitar 300 tahun cahaya.

Ledakan supernova tersebut memanaskan gas antarbintang di sekitarnya, menciptakan lingkungan bersuhu tinggi dengan kepadatan materi yang sangat rendah. Jejak peristiwa kosmik purba itu masih dapat diamati hingga kini dalam bentuk plasma panas yang menyelimuti lingkungan lokal tata surya.

“Kami menemukan bahwa suhu Local Hot Bubble menunjukkan perbedaan mencolok antara wilayah utara dan selatan pada lintang tinggi,” ujar penulis utama penelitian, Dr. L. L. Sala.

Untuk memetakan struktur wilayah ini secara lebih akurat, tim peneliti mengombinasikan data terbaru eRosita dengan arsip observasi lama dari teleskop ROSAT. Data tersebut kemudian dibagi ke dalam ribuan segmen langit guna menangkap sinyal lemah dari gas panas, rongga debu, serta struktur antarbintang lainnya.

Pendekatan ini memungkinkan para astronom memisahkan cahaya latar kosmik dan menyusun gambaran tiga dimensi yang jauh lebih detail tentang lingkungan kosmik di sekitar Matahari.

Hasil pemetaan mengungkap temuan mengejutkan berupa sebuah saluran kosmik yang tampak membentang menuju rasi bintang Centaurus. Struktur ini seolah menembus material panas di sekitarnya dan menghubungkan lingkungan tata surya dengan sistem bintang yang lebih jauh.

Selain itu, jalur serupa juga terdeteksi mengarah ke wilayah rasi Canis Major. Para ilmuwan menduga kedua jalur tersebut merupakan bagian dari jaringan saluran plasma yang lebih luas, membentuk sistem cabang yang menghubungkan berbagai rongga panas di dalam galaksi.

Setiap jalur ini digambarkan sebagai semacam “jalan belakang antarbintang” yang terbentuk melalui proses dinamis kosmik dan dipengaruhi oleh aktivitas supernova di masa lalu. Struktur tersebut bukan ruang kosong, melainkan sisa energi dan materi dari peristiwa kosmik berskala besar.

Gagasan mengenai jaringan rongga panas yang saling terhubung sebenarnya telah muncul sejak puluhan tahun lalu. Namun, keterbatasan teknologi observasi membuat teori tersebut sulit dibuktikan. Kehadiran eRosita kini memberikan bukti observasional kuat yang mendukung spekulasi lama tersebut.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tekanan termal rata-rata di dalam Local Hot Bubble lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa gelembung tersebut kemungkinan terbuka di beberapa arah, sehingga memungkinkan terbentuknya jalur-jalur kosmik yang mengarah keluar.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa struktur ini belum sepenuhnya dipahami. Beberapa wilayah tampak saling terhubung, sementara area lain terlihat lebih tertutup, menunjukkan kompleksitas lingkungan antarbintang yang masih membutuhkan penelitian lanjutan.

Ke depan, eksplorasi lebih dalam mengenai “terowongan antarbintang” ini akan sangat bergantung pada teleskop sinar-X generasi baru, survei langit yang lebih mendalam, serta pemodelan distribusi gas panas yang semakin presisi.

Penemuan ini menjadi pengingat bahwa ruang di sekitar tata surya bukanlah wilayah kosong dan statis. Sebaliknya, lingkungan kosmik tersebut dipenuhi struktur tersembunyi yang terus menantang pemahaman manusia tentang alam semesta dan asal-usulnya. (Earth/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya