Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Peri, Wearable Pintar untuk Pantau Perimenopause Tampil di CES 2026

Muhammad Ghifari A
11/1/2026 12:08
Peri, Wearable Pintar untuk Pantau Perimenopause Tampil di CES 2026
Peri, perangkat wearable non-invasif berbasis AI, hadir di CES 2026 untuk memantau gejala perimenopause seperti hot flashes, kecemasan, dan pola tidur perempuan.(ZDNet)

INDUSTRI perangkat kesehatan pakai (wearable) kini telah melampaui fungsi dasar sebagai penghitung langkah atau pelacak tidur. Di ajang CES 2026, fokus industri mulai bergeser ke arah periode biologis yang sering kali diabaikan, yaitu perimenopause

Salah satu inovasi yang paling menonjol adalah Peri. Sebuah perangkat kesehatan terbaru yang dirancang khusus untuk memberikan dukungan data bagi wanita yang sedang bertransisi menuju menopause.

Peri hadir sebagai perangkat non-invasif yang secara visual mengingatkan pada monitor glukosa kontinu (CGM), namun tanpa penggunaan jarum sama sekali. Perangkat ini ditempatkan di area dekat perut atau di bawah payudara untuk menangkap berbagai sinyal biologis. 

Perangkat ini memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dan konstruksi yang kurang fleksibel dibandingkan CGM pada umumnya. Peri dibekali dengan teknologi sensor yang komprehensif.

Di dalam perangkat ini terdapat empat sensor utama. Keempat sensor itu ialah sensor PPG untuk memantau aliran darah, akselerometer untuk mendeteksi gerakan, EDA untuk mengukur konduktivitas listrik kulit, serta sensor suhu. 

Melalui kombinasi sensor tersebut dan algoritma kecerdasan buatan (AI) khusus, Peri mampu mendeteksi serta memantau gejala khas perimenopause. Seperti sensasi panas (hot flashes), keringat malam, kecemasan, hingga perubahan pola tidur secara akurat.

Heidi Davis, CEO sekaligus salah satu pendiri IdentifyHer perusahaan di balik pengembangan Peri menegaskan  perimenopause seharusnya tidak lagi diperlakukan sebagai misteri yang harus dihadapi tanpa bantuan. Ia menyatakan perempuan berhak mendapatkan data yang valid dan dukungan nyata selama tahap kehidupan yang selama ini kurang mendapatkan perhatian medis secara mendalam.

Secara teknis, Peri mampu merekam biomarker pengguna selama tujuh hingga sepuluh hari dalam satu kali pengisian daya. Algoritma uniknya tidak hanya mengandalkan perubahan suhu tubuh untuk mendeteksi hot flashes, melainkan menggunakan campuran berbagai metrik data untuk memprediksi dan merekam gejala secara presisi. 

Seluruh gejala tersebut dicatat dalam konteks siklus menstruasi pengguna untuk membantu mereka melihat keterkaitan pola kesehatan dari waktu ke waktu. Hal itu termasuk memantau efektivitas pengobatan terapi hormon.

Melalui aplikasi pendampingnya, pengguna dapat memantau waktu tidur, skor kecemasan, serta tingkat aktivitas harian. Terdapat pula fitur jurnal untuk mencatat suasana hati serta tab wawasan longitudinal yang memberikan gambaran kesehatan jangka panjang. 

Kehadiran Peri bertujuan untuk menutup kesenjangan data medis, mengingat diagnosis perimenopause selama ini sering kali terhambat oleh pelaporan mandiri yang bersifat subjektif dan tidak konsisten.

Atas inovasi tersebut, Peri berhasil dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan CES Innovation Award 2025 di kategori kesehatan digital. Setelah membuka tahap pemesanan awal pada November lalu, perangkat ini dijadwalkan mulai tersedia secara luas bagi konsumen pada Desember. (ZDNet/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik