Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
ASTRONOM menemukan 53 quasar baru berenergi tinggi yang dipicu lubang hitam supermasif dan memancarkan jet materi hampir secepat cahaya. Pancaran tersebut membentang hingga 7,2 juta tahun cahaya, sekitar 50 kali lebar galaksi Bima Sakti. Objek-objek ini dikenal sebagai Giant Radio Quasars.
Penemuan tersebut merupakan bagian dari total 369 quasar radio yang diidentifikasi astronom India melalui data Giant Meterwave Radio Telescope (GMRT), susunan 30 piringan parabola di Pune, India. Temuan ini berasal dari TIFR GMRT Sky Survey (TGSS), yang mencakup sekitar 90% langit dan memiliki sensitivitas tinggi untuk mendeteksi struktur radio berukuran sangat besar.
“Ukuran jet radio ini tidak bisa dibandingkan dengan tata surya atau bahkan galaksi kita. Kita berbicara tentang 20 hingga 50 diameter Bima Sakti yang diletakkan berdampingan," ujar anggota tim, Souvik Manik dari Midnapore City College.
Lubang hitam supermasif diyakini berada di pusat semua galaksi besar, namun tidak semuanya menghasilkan Active Galactic Nuclei (AGN) atau tampil sebagai quasar. Quasar muncul ketika lubang hitam dikelilingi gas dan debu dalam jumlah besar, membentuk cakram akresi yang memanas dan memancarkan radiasi kuat. Sebagian materi tidak terserap lubang hitam, melainkan terlempar sebagai jet berkecepatan hampir cahaya yang kemudian menyebar menjadi “lobus” radio berukuran raksasa.
“Jet radio mereka yang sangat besar membuat quasar ini berharga untuk memahami tahap akhir evolusi mereka dan media intergalaksi tempat mereka berkembang,” kata ketua tim, Sabyasachi Pal dari Midnapore City College.
Ia menjelaskan jembatan emisi yang menghubungkan dua lobus sering kali terlalu redup sehingga sulit dideteksi.
Menurut Pal, survei radio frekuensi rendah lebih efektif mengidentifikasi sistem ini. Pasalnya plasma sinkrotron pada lobus memancarkan lebih kuat pada frekuensi rendah.
Tim juga menemukan pola menarik terkait lingkungan tempat quasar raksasa berada. Sedikitnya 14% objek ini ditemukan di gugus galaksi atau dekat filamen kosmik, struktur gas, debu, dan materi gelap tempat galaksi terbentuk.
“Lingkungan tampaknya berperan besar dalam membentuk evolusi jet radio ini," ujar anggota tim, Netai Bhukta.
Selain itu, banyak quasar menunjukkan asimetri jet, baik dari sisi panjang maupun kecerahan. “Asimetri ini memberi tahu kita bahwa jet-jet ini sedang bertempur melawan lingkungan kosmik yang tidak rata,” kata peneliti Sushanta K. Mondal.
Ia menjelaskan satu sisi jet dapat terhambat oleh gas yang lebih padat. Sementara sisi lainnya berkembang di ruang yang lebih kosong.
Temuan tim juga menunjukkan quasar raksasa yang lebih jauh cenderung memiliki tingkat asimetri lebih tinggi. Kemungkinan karena mereka berasal dari masa awal alam semesta yang lebih kacau dan penuh gas padat. (Space/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved