Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Ledakan Supernova SN 2024ggi Terungkap, Teleskop VLT Tangkap Fase Awal Kematian Bintang Raksasa

Thalatie K Yani
01/12/2025 08:49
Ledakan Supernova SN 2024ggi Terungkap, Teleskop VLT Tangkap Fase Awal Kematian Bintang Raksasa
Ilustrasi Supernova(ESO)

PARA astronom berhasil menangkap salah satu momen paling langka dalam dunia astrofisika, fase awal ledakan supernova. Pada 10 April 2024, sistem Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) pertama kali mendeteksi cahaya awal dari ledakan sebuah bintang masif yang massanya diperkirakan 12-15 kali lebih besar daripada Matahari. Hanya 26 jam kemudian, tim astronom mengarahkan Very Large Telescope (VLT) di Cile ke lokasi ledakan tersebut untuk mempelajari tahap awal kematian bintang.

Ledakan ini diberi nama SN 2024ggi dan terjadi di galaksi NGC 3621, yang berjarak sekitar 22 juta tahun cahaya di konstelasi Hydra. Gambar hasil pengamatan VLT yang diambil pada 11 April 2024 menunjukkan posisi supernova tersebut di dalam galaksi.

Supernova terjadi ketika keseimbangan bintang terganggu. Bintang masif mempertahankan bentuk hampir sempurna karena adanya tarik gravitasi ke dalam dan tekanan radiasi dari reaksi fusi nuklir di inti yang mendorong ke luar. Ketika tekanan ini tidak lagi mampu menahan gravitasi, inti bintang runtuh. Lapisan luar bintang kemudian terhisap ke dalam sebelum memantul kembali, menciptakan gelombang kejut kuat yang meledakkan bintang tersebut.

Saat gelombang kejut menembus permukaan bintang, energi besar dilepaskan sehingga supernova tiba-tiba menjadi sangat terang. Namun, bagaimana gelombang kejut ini terbentuk dan bergerak keluar masih menjadi salah satu pertanyaan besar dalam studi supernova.

Ada jendela waktu singkat setelah ledakan terjadi, yang memungkinkan astronom melihat bentuk awal "breakout" dari ledakan tersebut. Melalui teknik spektropolarimetri, yang memisahkan cahaya berdasarkan panjang gelombang dan arah getarannya, para ilmuwan VLT berhasil menangkap bentuk awal ini untuk pertama kalinya.

Data dari instrumen FORS2, satu-satunya fasilitas di belahan Bumi selatan yang mampu melakukan pengukuran tersebut, menunjukkan cahaya awal supernova tidak terpancar merata ke segala arah. Bentuk gelombang kejut memanjang di satu sumbu, menyerupai buah zaitun. Hal ini menunjukkan bahwa ledakan tidak berbentuk bulat sempurna.

Sekitar hari ke-10, lapisan luar bintang yang kaya hidrogen mulai terlihat. Lapisan ini memiliki orientasi yang sama dengan bentuk gelombang kejut hari pertama, menandakan bahwa arah ledakan sudah stabil sejak awal.

Pengamatan langka ini membantu menyaring sejumlah model supernova yang ada serta mendukung teori lain. Sekaligus memberikan wawasan baru tentang proses kehancuran bintang masif. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya