Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Komet C/2025 K1 (ATLAS) Terpecah Usai Perihelion, Munculkan Pemandangan Langka di Langit

Thalatie K Yani
26/11/2025 09:10
Komet C/2025 K1 (ATLAS) Terpecah Usai Perihelion, Munculkan Pemandangan Langka di Langit
Komet C/2025 K1 (ATLAS) yang sempat memancarkan cahaya keemasan kini dipastikan terpecah menjadi beberapa bagian setelah melewati perihelion. (Michael Jäger)

KOMET C/2025 K1 (ATLAS) dipastikan terpecah menjadi beberapa bagian setelah sebelumnya menampilkan cahaya keemasan yang langka. Komet yang berasal dari Awan Oort ini ditemukan pada Mei lalu oleh para astronom di Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS). Objek tersebut mencapai titik terdekatnya ke Matahari, atau perihelion, pada 8 Oktober ketika melintas sekitar 50 juta kilometer dari Matahari.

Awalnya, komet ini tidak banyak menarik perhatian hingga awal November, ketika warna keemasan muncul di bagian koma dan ekornya. Fenomena itu membuatnya dikenal sebagai “ATLAS lainnya,” meski tidak berkaitan dengan komet antarbintang 3I/ATLAS selain sama-sama ditemukan jaringan teleskop yang sama.

Pada 13 November, para astronom mengamati bahwa C/2025 K1 mulai pecah. Astrofotografer Austria, Michael Jäger, yang mengikuti pergerakan komet ini, membagikan animasi timelapse yang menunjukkan potongan-potongan komet perlahan saling menjauh.

“Setelah peningkatan kecerahan pada awal November, kami dapat mengamati komet ini pecah menjadi tiga fragmen lebih terang selama dua minggu terakhir,” kata Jäger kepada Spaceweather.com. “Animasi tersebut menunjukkan kondisinya pada 12, 14, 18, 19, dan 20 November.”

Para astronom sebelumnya memperkirakan komet kemungkinan tidak akan bertahan setelah mendekati Matahari, karena tekanan gravitasi yang tinggi. Pengamatan awal setelah perihelion sempat menunjukkan komet masih utuh, namun peningkatan kecerahan mendadak kemudian diikuti pecahnya inti komet menjadi tiga bagian. Foto terbaru juga mengungkap munculnya fragmen keempat yang lebih kecil, meski tidak tampak dalam animasi Jäger.

C/2025 K1 menjadi salah satu dari sedikit komet yang pernah menunjukkan warna emas. Warna ini diduga dipengaruhi rendahnya kandungan molekul karbon seperti dicarbon, karbon monoksida, dan sianida dalam intinya. Menurut astronom David Schleicher dari Lowell Observatory, hanya dua komet lain yang tercatat memiliki kandungan molekul karbon lebih sedikit.

Para peneliti berharap dapat mempelajari lebih jauh komposisi unik komet ini saat mendekati Bumi pada 25 November. Namun, kondisi terbaru membuat kemungkinan itu menipis. Meski begitu, fragmen-fragmen komet masih dapat diamati di rasi Leo menggunakan teleskop atau teropong bintang yang memadai.

Sistem ATLAS sendiri telah menemukan puluhan komet sejak mulai beroperasi pada 2015. Beberapa komet ATLAS sebelumnya sempat menjadi sorotan, termasuk C/2024 G3 yang dipotret dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, serta komet sungrazer dan komet Halloween ATLAS.

Di antara semuanya, 3I/ATLAS menjadi yang paling mencuri perhatian karena merupakan komet antarbintang yang melintas setelah keluar dari sistem bintang asalnya. Komet itu mencapai perihelion pada 29 Oktober dan akan berada paling dekat dengan Bumi pada 19 Desember pada jarak sekitar 270 juta kilometer. Komunitas astronomi menegaskan bahwa objek tersebut bukan pesawat luar angkasa, seperti yang diklaim sebagian pihak.

Sisa komet ATLAS di masa mendatang masih akan menjadi misteri sekaligus sumber keajaiban bagi para pengamat langit. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya