Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Fenomena “Diamond Ring” Kosmik Terungkap: Struktur Gas Berkilau yang Berasal dari Ledakan Gelembung Karbon

Thalatie K Yani
24/11/2025 08:51
Fenomena “Diamond Ring” Kosmik Terungkap: Struktur Gas Berkilau yang Berasal dari Ledakan Gelembung Karbon
Citra terbaru NASA mengungkap formasi kosmik “diamond ring”, sisa gelembung gas karbon yang terbentuk dari bintang masif di Cygnus X. (NASA)

SEBUAH citra astronomi yang mencolok memperlihatkan formasi kosmik berkilau yang dijuluki “diamond ring”. Struktur ini tampak sebagai lingkaran cahaya yang terbentuk dari gas dan debu, dengan satu gumpalan terang yang menyerupai permata di salah satu sisinya.

Dengan diameter sekitar 20 tahun cahaya, formasi tersebut berada di wilayah pembentukan bintang Cygnus X. Struktur itu merupakan sisa dari sebuah gelembung gas karbon terionisasi yang terbentuk akibat radiasi kuat dan hembusan angin bintang dari sebuah bintang masif dan panas. 

Tidak seperti gelembung pada umumnya yang membentuk bola simetris, gelembung ini mengembang di dalam awan molekul datar, area padat gas dan debu tempat bintang lahir, sebelum akhirnya pecah dan kehilangan bentuk simetris. Usianya yang diperkirakan baru 400.000 tahun juga tergolong sangat muda untuk standar bintang masif.

Awalnya, gumpalan terang yang tampak seperti “berlian” pada cincin tersebut diperkirakan merupakan kumpulan bintang muda. Namun para peneliti menemukan bahwa objek ini sebenarnya tidak terkait langsung dengan cincin tersebut. Kelompok bintang itu berada beberapa ratus tahun cahaya di depan cincin dan hanya tampak sejajar secara kebetulan jika dilihat dari Bumi.

Temuan ini menunjukkan betapa besar pengaruh sebuah bintang terhadap lingkungan kosmik di sekitarnya.

“‘Diamond ring’ adalah contoh utama betapa besarnya pengaruh satu bintang terhadap keseluruhan kompleks awan,” ujar Nicola Schneider, salah satu penulis studi yang dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics. “Proses seperti ini penting untuk memahami bagaimana bintang-bintang terbentuk di galaksi Bima Sakti.”

Citra tersebut diambil oleh observatorium terbang milik NASA, Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy (SOFIA). Teleskop berdiameter 2,7 meter yang dipasang pada pesawat Boeing 747SP ini terbang pada ketinggian 45.000 kaki (13.700 meter), berada di atas 99% lapisan atmosfer Bumi. 

Kondisi ini memungkinkan SOFIA menangkap cahaya inframerah yang tidak dapat diamati oleh teleskop berbasis darat. SOFIA pertama kali beroperasi pada 2010 dan dihentikan pada September 2022 karena keterbatasan anggaran. Meski demikian, arsip datanya yang sangat besar terus dianalisis astronom, termasuk untuk penemuan terbaru ini.

Istilah “diamond ring” sebenarnya juga digunakan dalam fenomena astronomi lain, yakni saat terjadinya gerhana matahari total ketika seberkas cahaya matahari menembus lembah bulan. Meskipun tidak terkait, keduanya memiliki kemiripan visual yang dramatis, meski mekanismenya sangat berbeda. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya