Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Tiga sahabat, Gabriel, Jacques, dan Camille, sedang merencanakan perayaan ulang tahun ke-30 mereka pada tahun 2026. Ketiganya lahir di Paris pada tahun 1996, namun kini akan merayakan di tempat berbeda: Gabriel dan Jacques di Paris, Camille di Tokyo.
Gabriel dan Camille kemungkinan berpesta pada tanggal resmi di akta kelahiran mereka: 18 Januari dan 5 Mei. Jacques, yang lahir 29 Februari, biasanya memilih 1 Maret sebagai “ulang tahun sipil” di tahun non-kabisat.
Namun pertanyaannya menarik: apakah tanggal-tanggal itu benar-benar bertepatan dengan ulang tahun astronomis mereka, momen ketika Matahari berada di posisi yang sama di langit seperti saat mereka dilahirkan? Apakah mungkin perayaan mereka sebenarnya terjadi sehari lebih cepat atau lebih lambat dari waktu “asli” kelahiran?
Kalender Gregorian, yang kita gunakan saat ini, dirancang agar tetap selaras dengan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari. Dalam satu tahun surya, Bumi memerlukan sekitar 365,25 hari untuk menyelesaikan orbitnya. Karena itu, setiap empat tahun sekali kita menambahkan satu hari ekstra, tahun kabisat, untuk mengompensasi selisih seperempat hari yang menumpuk.
Namun penyesuaian ini tidak sepenuhnya sempurna. Gerakan orbit Bumi, rotasi, serta variasi waktu lokal menyebabkan pergeseran halus dalam posisi Matahari di langit. Akibatnya, “hari ulang tahun kalender” tidak selalu sama dengan “hari ulang tahun astronomis”.
Untuk mengetahui kapan tepatnya seseorang “berulang tahun secara astronomis”, ilmuwan dapat menggunakan pendekatan berbasis komputasi astronomi dan analitik geospasial-temporal.
Dalam kasus ini, posisi Matahari saat lahir ditentukan secara presisi, menggunakan data ephemeris (tabel posisi benda langit yang disusun NASA dan lembaga astronomi). Lalu, perhitungan dilakukan untuk menemukan kapan posisi Matahari kembali ke titik yang sama di tahun tertentu, disesuaikan dengan lokasi dan zona waktu saat ini.
Langkah-langkah ilmiah ini juga memperhitungkan:
Hasil akhirnya adalah tanggal dan waktu “ulang tahun sejati”, momen aktual di mana Matahari kembali tepat ke bujur ekliptika saat kelahiran seseorang.
Ketika ketiganya diuji dengan simulasi berbasis data astronomi:
Dengan kata lain, mereka bertiga sebenarnya “lahir kembali” di bawah posisi Matahari yang sama pada waktu yang berbeda dari tanggal di kalender mereka.
Di luar konteks pribadi, konsep ini membuka jendela luas bagi berbagai penerapan ilmiah dan praktis:
Semua ini dimungkinkan berkat kombinasi antara ilmu astronomi klasik dan kekuatan analisis komputasional modern, yang kini dapat diakses siapa pun hanya dengan perangkat lunak sumber terbuka.
Di era digital ini, waktu sering kita ukur dalam menit dan detik. Namun dari sudut pandang alam semesta, waktu adalah geometri gerak, hubungan antara planet dan bintang.
Mungkin, dengan memahami kapan sebenarnya Matahari “kembali” ke posisi kelahiran kita, kita bisa melihat ulang tahun bukan sekadar perayaan umur, melainkan momen sinkronisasi pribadi dengan ritme kosmos. (Towards Data Science/Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved