Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru mengungkap kemungkinan mengejutkan: materi gelap (dark matter) dapat menumpuk di inti planet seukuran Jupiter dan menciptakan lubang hitam yang perlahan “memakan” planet tersebut dari dalam. Jika benar, hal ini membuka cara baru untuk mempelajari misteri terbesar kosmos melalui pengamatan eksoplanet.
Dalam model ini, partikel materi gelap superberat dapat terperangkap di dalam planet, kehilangan energi, lalu berkumpul di pusatnya. Ketika jumlahnya cukup besar, partikel itu runtuh membentuk lubang hitam mini yang kemudian melahap planet inangnya.
Namun, teori ini hanya mungkin terjadi jika partikel materi gelap tidak saling melenyapkan (annihilate) saat bertemu, seperti yang diprediksi beberapa model. Syarat lainnya: partikel harus sangat masif. Itu berarti kandidat populer seperti axion, partikel hipotetis dengan massa sangat kecil, tidak cocok untuk skenario ini.
“Jika partikel materi gelap cukup berat dan tidak saling menghancurkan, mereka bisa runtuh menjadi lubang hitam kecil,” jelas Mehrdad Phoroutan Mehr, peneliti dari University of California, Riverside.
Selama ini, lubang hitam yang dikenal berasal dari runtuhnya bintang masif, dengan massa mulai tiga kali hingga ratusan kali lipat Matahari. Lubang hitam “pemakan planet” ini akan jauh lebih kecil. Bahkan bisa bermassa setara Jupiter yang hanya seperseribu massa Matahari.
Menurut para peneliti, fenomena ini mungkin terjadi di berbagai planet gas raksasa dengan ukuran dan kondisi berbeda. Bahkan, satu planet bisa menghasilkan lebih dari satu lubang hitam sepanjang hidupnya. Hal ini membuat eksoplanet berpotensi menjadi “laboratorium kosmik” untuk menguji teori materi gelap.
Peneliti juga menekankan, keberadaan lubang hitam bermassa planet akan menjadi terobosan besar. Temuan itu akan menjadi bukti kuat bagi model materi gelap superberat yang tidak saling melenyapkan.
Selain itu, penjebakan materi gelap dalam planet bisa memicu efek lain, seperti pemanasan internal atau pancaran radiasi berenergi tinggi. Sinyal ini mungkin belum bisa dideteksi dengan instrumen sekarang, namun teleskop generasi mendatang bisa memberikan jawabannya.
“Eksoplanet bisa menjadi kunci untuk memahami sifat asli materi gelap,” kata Phoroutan Mehr. “Di masa depan, mereka mungkin akan menjadi jendela penting untuk memecahkan misteri kosmos.” (Space/Z-2)
Temuan terbaru mengenai ukuran Jupiter ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada Senin (2/2). Jurnal ini sekaligus disebut sebagai salah satu hasil penting
Temuan ini didapat dari pengukuran terbaru menggunakan data radio pesawat ruang angkasa Juno, yang sejak 2016 mengorbit planet terbesar di tata surya tersebut.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah menyebutkan bahwa tanpa kehadiran Jupiter, lingkungan orbit Bumi kemungkinan akan jauh lebih tidak stabil.
Pesawat Juno milik NASA menangkap fenomena letusan serentak di Io, bulan Jupiter. Energi yang dihasilkan mencapai 260 terawatt, mengungkap rahasia magma di bawah permukaannya.
Bulan purnama pertama di tahun 2026, yang dikenal sebagai Wolf Moon, mencapai puncaknya pada 3 Januari 2026. Penamaan Wolf Moon berasal dari tradisi budaya kuno
Sebaliknya, kutub Jupiter dipenuhi satu badai utama yang dikelilingi sejumlah pusaran badai lebih kecil, membentuk pola geometris yang rapi.
Ilmuwan usulkan dua teori baru materi gelap: sektor gelap dengan lubang hitam mini dan radiasi Hawking dari cakrawala kosmik awal alam semesta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved