Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG tim astronom memperkirakan ada planet baru tersembunyi di wilayah paling jauh Tata Surya. Planet misterius yang disebut Planet Y ini diduga memiliki massa antara Merkurius dan Bumi. Jika benar ada, planet ini mengorbit Matahari pada jarak sekitar 100–200 satuan astronomi (SA), jauh melampaui orbit Neptunus.
Tata Surya ternyata belum sepenuhnya kita kenal. Meski wahana antariksa Voyager sudah meninggalkan pengaruh Matahari dan melaju ke ruang antarbintang, masih ada benda-benda langit yang mengorbit Sang Surya di jarak sangat jauh.
Pertanyaan besar pun muncul dari hal tersebut. Apakah ada planet lain yang belum berhasil kita temukan?
Sebenarnya, ide tentang planet tersembunyi bukan hal baru. Sejak abad ke-19, astronom telah menduga keberadaan Planet X, yang namanya sekaligus melambangkan angka Romawi “10” dan arti “belum diketahui.” Konsep ini muncul jauh sebelum Pluto diturunkan statusnya menjadi planet katai pada 2006.
Beberapa tahun terakhir, perbincangan bergeser ke Planet 9. Dunia misterius ini diperkirakan lebih besar dari Bumi tapi lebih kecil dari Neptunus, dan mungkin berada hingga 300 kali lebih jauh dari Matahari dibanding Bumi. Meski kerap dibicarakan, Planet 9 hingga saat ini belum berhasil ditemukan.
Kini, para peneliti memperkenalkan kandidat baru yang mereka sebut Planet Y. Dugaan keberadaan Planet Y muncul setelah ilmuwan meneliti orbit benda-benda trans-Neptunus (TNO), yaitu objek yang berada lebih jauh dari Neptunus.
Hasilnya, orbit sejumlah TNO tampak miring sekitar 15 derajat dari bidang utama Tata Surya, khususnya pada jarak 80–200 satuan astronomi (SA). Peluang kemiringan ini hanyalah kebetulan diperkirakan hanya 2%.
Jika bukan kebetulan, penjelasan paling masuk akal adalah adanya planet dengan massa antara Merkurius dan Bumi yang mengorbit Matahari pada jarak 100–200 SA. Planet seukuran Pluto juga mungkin, tetapi kurang cocok dengan data.
Sedangkan, benda yang lebih besar dari Bumi sudah pasti akan menimbulkan efek di area yang lebih dekat, dan kemungkinan besar sudah terdeteksi sejak lama. Penelitian lain sebelumnya juga pernah mengusulkan hal serupa.
Kabar baiknya, kemungkinan keberadaan Planet Y bisa diuji dalam waktu dekat. Observatorium Vera C. Rubin di Cile sedang mempersiapkan Legacy Survey of Space and Time (LSST), yang akan memetakan langit selama satu dekade secara detail.
Jika Planet Y memang ada di wilayah yang tercakup dalam pengamatan LSST, besar kemungkinan kita bisa menemukannya dalam beberapa tahun ke depan. Namun, bila posisinya berada di area yang sulit dijangkau teleskop, LSST tetap akan membantu mengungkap pola orbit di Sabuk Kuiper yang bisa memperkuat atau melemahkan dugaan keberadaan planet tersebut. (IFL Science/Z-2)
Astronom mendeteksi objek inframerah yang diduga sebagai Planet Sembilan melalui data dari satelit IRAS dan AKARI. Apakah ini planet misterius yang lama dicari?
TELESKOP Luar Angkasa Hubble milik NASA kembali menghadirkan temuan penting dalam dunia astronomi.
Wahana Voyager NASA mengungkap wilayah ekstrem di heliopause, batas Tata Surya dengan ruang antarbintang, dengan suhu mencapai 50.000 kelvin.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fenomena ini berpotensi memicu keruntuhan gravotermal, yaitu kondisi ketika inti halo terus memadat akibat aliran energi ke luar.
Berbeda dengan Bumi yang solid, Matahari berotasi dengan kecepatan yang bervariasi tergantung letak dan kedalamannya.
Pesawat Juno milik NASA menangkap fenomena letusan serentak di Io, bulan Jupiter. Energi yang dihasilkan mencapai 260 terawatt, mengungkap rahasia magma di bawah permukaannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved