Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PERKEMBANGAN teknologi perlahan mengubah gaya hidup masyarakat termasuk dalam hal bertransaksi atau belanja. Kebutuhan sehari-hari dari sayur hingga baju termasuk beli tiket pesawat dan sewa hotel bisa diakomodasi lewat ponsel atau gadget. Hanya dengan beberapa kali ketukan jari, kebutuhan Anda bisa terpenuhi. Anda cukup mengunduh aplikasi sesuai kebutuhan, membuat akun dan menciptakan password atau kata sandi. Selebihnya, Anda tinggal jalan-jalan di toko virtual dan memilih produk sesuai kebutuhan.
Namun, kemudahan ini bukan tanpa risiko. Berkaca pada sejumlah peristiwa, kebocoran data pengguna sangat mungkin terjadi. Pengamat IT sekaligus Chief Digital Forensic Indonesia, Ruby Alamsyah, menjelaskan, kebocoran bisa terjadi karena dua kemungkinan, dari pihak peladen dan pengguna. Karenanya, inisiatif mengamankan akun semestinya datang dari dua pihak. Selain pihak aplikasi, pengguna berkewajiban mengamankan data dan akunnya.
Baca juga: Akun Media Sosial Terus Diblokir, Donald Trump Luncurkan Kanal
“Ini seperti Anda punya rumah mewah. Anda mengamankannya dengan kamera pengawas canggih dan gembok berlapis. Namun lupa mengamankan pintu belakang, ya sama saja rumah Anda tetap bisa dibobol, kan?” kata Ruby, Selasa (11/5).
Ia pun berbagi lima langkah sederhana untuk mengamankan akun dan data. Pertama, pelajari aplikasi yang Anda unduh menerapkan autentikasi jenis apa? Hanya pakai nama pengguna dan kata sandi atau dibekali sistem pengamanan tambahan yang membuat akun, sandi, hingga nomor ponsel tersimpan dengan aman? Kedua, gunakan kata sandi yang tidak mudah dilacak dan ubah secara berkala tapi jangan terlalu sering untuk menghindari lupa. Ketiga, jangan gunakan kata sandi yang sama untuk beragam akun aplikasi dan surel. Karena jika satu dibobol, maka akun Anda yang lain bisa disusupi.
“Keempat, perbarui sistem operasi aplikasi gadget dan PC Anda secara berkala termasuk antivirus untuk meningkatkan sistem keamanan. Terakhir, jangan mengunduh aplikasi tidak resmi dan tak jelas manfaatnya. Apalagi mengunduh dari toko tidak resmi. Sejauh ini, unduhan resmi bisa diakses di Play Store dan IOS,” urainya.
Diberitakan sebelumnya, kebocoran data pengguna aplikasi beberapa kali menghebohkan masyarakat Tanah Air. “Tinggal kita lihat karakteristik dari dua sumber legal tersebut, dari mana bocornya. Kalau sumber kebocoran dari platform aplikasi, masa cuma satu-dua kasus yang muncul? Berkaca pada sejumlah kasus, kebocoran data pribadi konsumen yang terjadi akibat kelalaian pihak aplikasi biasanya bersifat massal atau sangat banyak,” ulas Ruby.
Patut diduga kebocoran dari sisi pengguna di mana ada oknum yang mengakses surel konsumen lewat ponsel atau gadget lain. Dari sini terbit setidaknya tiga asumsi. “Pertama, ada orang yang berhasil mengakses surel pengguna. Kedua, ada orang atau pihak luar yang mengakses akun aplikasi korban. Ketiga, tidak menutup kemungkinan pengguna meneruskan pesan secara tidak atau kurang proper kepada pihak lain sehingga, terjadi kebocoran data yang tak disengaja,” Ruby memaparkan.
Pada bagian lain, Head of Corporate Communications Traveloka, Reza Amirul Juniarshah, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen melindungi data pribadi konsumen. "Kami menerapkan sistem keamanan ketat sekaligus berlapis, termasuk prosedur fisik, teknis, maupun organisasi untuk mencegah akses, pengumpulan, penggunaan, pengungkapan, penyalinan, modifikasi, pembuangan, atau risiko serupa lain yang dapat merugikan konsumen," tegasnya. (RO/A-1)
Pemkot Bandung mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat melakukan pemesanan hotel secara daring, menyusul ditemukannya dugaan peretasan.
DINAS Rahasia AS tengah menyelidiki gangguan pada eskalator dan teleprompter saat kunjungan Presiden Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump ke Sidang Majelis Umum PBB.
Fitur ini disebut Memory Integrity Enforcement (MIE), dirancang untuk menghentikan bug kerusakan memori, salah satu kerentanan paling umum yang dieksploitasi pengembang spyware
Google bantah kabar peretasan gmail. Perusahaan ini menegaskan sistem keamanan mereka masih tangguh.
Anthropic mengungkap AI Claude disalahgunakan peretas, termasuk Korea Utara, untuk serangan siber, pencurian data, hingga penipuan kerja jarak jauh.
"Berdasarkan hasil penelusuran dan validasi yang telah kami lakukan, kami memastikan bahwa klaim kebocoran data yang dikelola Pemprov Jabar itu tidak benar,"
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved