Sabtu 05 Desember 2020, 00:25 WIB

Unggah Konten, Unduh Cuan

Putri Rosmalia | Teknologi
Unggah Konten, Unduh Cuan

Dok. Play.google.com

NAMA Atta Halilintar, Ria Ricis, hingga Young Lex mungkin sudah tidak asing di telinga kebanyakan orang Indonesia. Mereka adalah sedikit contoh sosok yang sukses menjadi miliuner berkat konten-konten yang mereka buat dan unggah di media sosial.

Platform atau aplikasi media sosial memang menjadi salah satu alternatif sumber penghasilan baru bagi masyarakat saat ini. Profesi sebagai kreator konten semakin banyak dijadikan pilihan oleh masyarakat. Khususnya kalangan muda untuk mencari penghasilan secara mandiri  tanpa terikat sistem kerja tradisional di sebuah perusahaan.

Sama halnya dengan para pengguna yang terus berlomba membuat konten baru demi menarik jumlah penonton (viewer), perusahaan aplikasi media sosial juga terus bersaing untuk meningkatkan jumlah pengguna.

Baru-baru ini, aplikasi Snapchat merilis sebuah fitur baru bernama Spotlight. Fitur itu memungkinkan pengguna untuk merekam sebuah video pendek dengan latar lagu yang sedang populer. Video yang diunggah nantinya akan dapat dilihat meski pengguna tidak saling terkait atau saling mengikuti di akun Snapchat.

Bahkan, pihak Snapchat telah menyiapkan dana hingga US$1 juta per hari atau sekitar Rp14 miliar bagi pengguna fitur tersebut. “Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan pada kreativitas pengguna Snapchat, Snap akan membagikan dana hingga US$1 juta setiap hari bagi Snapchatters yang membuat video terpopuler di Spotlight, setidaknya sepanjang akhir tahun ini,” bunyi penyataan resmi Snapchat, seperti dilansir The Guardian, akhir bulan lalu.

Artinya, pemilik video singkat Spotlight dengan jumlah penonton terbanyak setiap harinya akan mendapatkan bayaran dari pihak Snapchat. Penilaian sepenuhnya hanya akan dilakukan berdasarkan jumlah penonton terbanyak, tidak mempertimbangkan jumlah pengikut di akun pembuat video.

Langkah tersebut diperkirakan merupakan strategi Snapchat untuk mempersempit ruang persaingannya dengan aplikasi TikTok. Berdasarkan data Statista, Snapchat memiliki pengguna aktif harian kurang lebih 249 juta per triwulan III 2020, dengan Amerika Serikat sebagai pasar terbesarnya, disusul India. Jumlah tersebut meningkat dari periode serupa di 2019 yang sebanyak 210 juta pengguna harian aktif. Adapun TikTok mengklaim jumlah pengguna aktifnya telah mencapai 500 juta per 2018, dengan dominasi pengguna di Tiongkok dan India. Hingga saat ini pihak Snapchat belum merilis info secara resmi mengenai sistem penghitungan pembayaran bagi pembuat video Spotlight.  sayangnya, kita yang ada di Indonesia belum bisa menikmati fitur itu lantaran kini baru diluncurkan di 11 negara, termasuk AS, Kanada, Inggris, Prancis, Australia, dan Jerman, sebelum akhirnya nanti akan bisa digunakan di seluruh dunia.

Selain Snapchat, YouTube dapat dikatakan sebagai pelopor sistem monetisasi platform media sosial. Bayaran akan diberikan YouTube bagi pengguna berdasarkan jumlah penonton tayangan dan pengikut sebuah akun. Mereka secara berkala melakukan penyesuaian kebijakan dalam sistem monetisasi atau konversi aset, yang dalam hal ini hasil penayangan konten, menjadi uang tunai.

Disitat dari laman resmi support Google, YouTube mengatur sistem monetitasi melalui YouTube Partner Program (YPP). Untuk bisa mendapatkan pendapatan dari iklan, sebuah video harus mengumpulkan setidaknya 4.000 jam waktu tonton (watch time) dalam 12 bulan terakhir. Selain itu, setiap akun harus memiliki minimal 1.000 pengikut atau subscriber.

Terkait hasil AdSense untuk sebuah konten, pembuat konten akan mendapatkan bagian 68% dari total biaya iklan yang dikeluarkan pengiklan kepada pihak YouTube. Persentase itu sama rata aturannya untuk semua negara. Namun, besaran nilai yang didapat setiap pemilik akun beragam sesuai jenis iklan yang termuat di konten tersebut.

Salah satu kreator Indonesia yang turut memanfaatkan platform media sosial untuk menambah penghasilan ialah Xaviera Putri. Mahasiswa salah satu universitas di Korea Selatan ini mengatakan awalnya tak menyangka bahwa keisengannya mengunggah kegiatan sehari-hari di YouTube dapat membuatnya memiliki penghasilan tambahan.

“Jadi awal upload itu sebenarnya tidak sangka kalau banyak yang melihat dan jadi subscriber. Sekarang iya sudah bisa mendapatkan penghasilan dari YouTube,” ujarnya, ketika dihubungi, kemarin.

Saat ini, Xaviera sudah memiliki hampir 58 ribu subscribers di akun YouTube miliknya. Setahun terakhir, ia mengunggah kurang lebih 24  konten video. Ia mengatakan cukup puas dengan sistem monetisasi yang berlaku saat ini di YouTube.

“Memang bagi sebagian orang tidak mudah untuk bisa dapat penghasilan karena ada syarat-syaratnya, seperti minimum subscriber dan watch time. Jadi memang harus membuat konten yang sekiranya disukai banyak orang. Juga menjalin relasi dengan subscribers melalui pesan di komentar,” jelas Xaviera.

Menurutnya, untuk saat ini YouTube memang masih menjadi platform utama yang bisa digunakan untuk mencari penghasilan tambahan lewat konten video yang ia buat. Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan aplikasi lain bila dirasa ada fitur atau penawaran reward yang menarik.

“Mau sih nanti mencoba mungkin kalau ada waktu mau coba-coba buat (konten Snapchat),” ujar Xaviera.


Tugas

Namun, tidak semua orang punya kemampuan untuk membuat konten yang asyik untuk ditonton. Tidak sedikit yang mengalami kesulitan. Pada akhirnya mereka memilih untuk tidak menggunakan cara itu sebagai alternatif mencari penghasilan tambahan.

Buat mereka yang getol memakai gawai tapi merasa tak lihai membuat konten, Google sekarang tengah menguji coba penggunaan Google Task Mate. Itu adalah sebuah fitur yang memungkinkan seseorang mendapatkan bayaran dengan melakukan ‘tugas sederhana’ berbekal telepon seluler yang dimiliki.

Task Mate akan menayangkan berbagai tawaran pekerjaan dari beragam perusahaan atau individu yang dapat dikerjakan secara daring. Mulai dari yang paling sederhana seperti mengambil foto sebuah tempat, mengisi survei, hingga transliterasi bahasa.

Setelah tugas komplet dan diverifikasi, ‘honor’ akan diteruskan ke mitra pihak ketiga berdasarkan mata uang setempat. Menarik, ya? Akan tetapi, Task Mate hanya dapat diunduh di Play Store dengan kode invitasi. Itu pun hanya  terdapat di wilayah India.

Sayang sekali sebab fitur tersebut akan memungkinkan semakin banyak orang dapat menghasilkan uang dari internet. Tentunya tanpa perlu bersusah payah meningkatkan jumlah subscriber dan penonton tayangan yang telah diunggah di media sosial. (M-2)

Baca Juga

MI/RAMDANI

Akibat Pembaruan Persyaratan, WhatsApp Kehilangan Jutaan Pengguna

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Senin 25 Januari 2021, 05:46 WIB
Selama tiga minggu pertama Januari, Signal telah memperoleh 7,5 juta pengguna secara global, sementara Telegram memperoleh 25...
AFP/Philip Fong

Video Game Terlaris selama Pandemi

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 25 Januari 2021, 01:35 WIB
Gim ini mengajak para pemain menjelajahi suatu pulau, mengumpulkan buah, membuat perkakas dan furnitur, serta berdagang dengan orang lain...
Sumber: oppo.com

Tawarkan Spesifikasi Mumpuni, Intip Kelebihan Oppo A92

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 14:01 WIB
Seri ini menawarkan perangkat dengan harga yang terjangkau, namun tetap memiliki spesifikasi yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya