Sabtu 27 Februari 2016, 00:00 WIB

Indonesia Pusat Inkubasi ASEAN

Hera Khaerani | Teknologi
Indonesia Pusat Inkubasi ASEAN
 

ANTREAN mengular menyambut saya di pintu masuk bioskop Cinemaxx di FX, Jakarta, Selasa (23/2) sore. Namun, uniknya bukan tayangan perdana film apa pun yang menjadi sumber antrean panjang itu, melainkan rasa haus pengunjung untuk mencari ilmu dan jaringan dalam dunia startup. Hari itu digelar final ajang Startuppedia ASEAN Challenge 2016 untuk menentukan siapa yang berhak menjadi juara dan mendapat ekuitas US$50 ribu.

Saking panjangnya antrean, panitia harus menunda dimulainya acara, menanti semua pengunjung masuk ke studio. Pada akhirnya, pengunjung memenuhi ruangan, banyak yang tidak mendapat kursi dan terpaksa berdiri di tepian studio atau duduk di tangga. Pemandangan itu kiranya merepresentasikan betapa besarnya antusiasme masyarakat terhadap tren industri digital dan pencarian ilmu soal pendirian startup dianggap hal yang berharga.

Seruan takjub dan tepuk tangan riuh terdengar ketika Anis Uzzaman, CEO dari Fenox Venture Capital, mengumumkan Green and Blue (GnB) akselerator yang diluncurkan sehari sebelumnya. Perusahaan modal ventura berbasis di Silicon Valley itu bekerja sama dengan perusahaan penyedia jasa teknologi informasi dari Jepang, yakni Infocom, menyelenggarakan GnB. Program inkubator startup sebenarnya bukan hal baru di Tanah Air. Akan tetapi, GnB menawarkan hal yang agak berbeda dengan harapan menciptakan Silicon Valley kedua di Indonesia.

“Kami akan datangkan orang-orang yang paling sukses dari Silicon Valley dan Jepang untuk membagi ilmu mereka di sini,” janji Anis yang juga penulis buku Startuppedia.

Tidak berhenti sampai di situ, kantor pusat GnB juga ditempatkan di Jakarta. Itu artinya sekalipun program itu ditujukan bagi pengusaha-pengusaha di ASEAN, para peserta yang berasal dari negara-negara lain di Asia Tenggara mesti datang ke Indonesia.

Ketika Media Indonesia menanyakan mengapa pihaknya memilih membuat GnB di Indonesia, Anis menjelaskan hal itu tidak terlepas dari besarnya populasi penduduk di negara ini. “Populasinya tertinggi di ASEAN dan termasuk negara keempat paling padat penduduk di dunia. Tingkat penetrasi internetnya tinggi,” ujarnya menambahkan keyakinannya mendatangkan pakar bisa melahirkan banyak startup terbaik di negara ini.

Sejalan dengan itu, Wilson Cuaca dari East Ventures menilai Indonesia memang potensial. “Kalau di Singapura kita bicara skenario terbaik karena transportasinya teratur dan nyaris segalanya bisa diprediksi, nah di Indonesia itu skenario terburuk di saat kita tak pernah tahu kapan bus akan datang,” kata dia mencontohkan dengan jenaka.

“Kalau bisa sukses di Singapura itu biasa saja, tapi kalau bisa menaklukkan Indonesia itu baru hebat karena berarti pada dasarnya kita sudah menang di ASEAN,” imbuhnya menekankan pada populasi negara ini jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan. Banyakya persoalan di negara ini, menurutnya, layak dipandang sebagai peluang industri digital bisa menawarkan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.

Ide pembuatan GnB di Jakarta, menurut Anis, sebenarnya sudah mereka godok beberapa tahun silam. Makanya keputusan merealisasikannya sekarang bukanlah hal yang tiba-tiba dan bukan didasari perubahan yang terjadi di Indonesia.

Kendati begitu, dia menyambut baik rencana pemerintah di bawah Presiden Joko Widodo yang serius mengembangkan ekonomi digital di negara ini. “Indonesia memiliki tambang emas (potensi industri digital), pemerintah selayaknya mengiklankan itu dengan lebih lagi supaya investor dari berbagai negara menyadari potensinya,” usulnya.

GnB akan membuka programnya dua kali dalam setahun dan perdana dimulai April-Juni mendatang. Untuk mendaftar, bisa dilakukan dengan mengakses www.GnB.ac dan nantinya hanya akan dipilih enam startup saja.

Kendati begitu, mereka juga berniat membuka sesi-sesi yang terbuka secara umum dengan para mentor dari Silicon Valley, Jepang, dan pengusaha startup sukses asal Indonesia. Wah, makin memudahkan pencarian ilmu dan boleh jadi nantinya mengurangi disparitas pengetahuan dan teknologi, nih!

Apa yang dibutuhkan?
Jika Anda mengira GnB mencari startup yang sudah besar dan terbukti sukses, itu salah besar. Mereka justru terbuka lebar bagi startup baru. Hal itu terbukti ketika pada final Startuppedia ASEAN Challenge 2016, startup Ahlijasa asal Indonesia yang keluar sebagai pemenang. Mereka sukses mengalahkan 352 peserta lain, termasuk peserta asal Malaysia dan Singapura.

Terkait dengan kebijakan itu, Anis meluruskan anggapan keliru bahwa program inkubator atau akselerator mencari startup yang sudah hebat. Dia sering melihat presentasi peserta yang terlalu muluk dan menutupi kenyataan bahwa mereka telah mengalami proses semisal mengubah fitur aplikasinya. “Padahal, investor juga perlu tahu fleksibilitas pengusaha terhadap perubahan dan pengembangan,” jelasnya.

Meski menyambut startup yang baru dalam tahap pengembangan, Manajer Program GnB Kentaro Hashimoto menyarankan untuk mendaftar ketika sudah punya tim lengkap.Ini bukan jenis program yang mempertemukan orang-orang dengan kualifikasi berbeda, tidak bisa kalau hanya punya ide tapi belum punya tim untuk mengembangkan aplikasi dan pemasarannya. Jadi kalau sudah punya ide yang bisa menjadi solusi digital atas permasalahan di masyarakat, mulailah mencari anggota tim! (M-5)

miweekend@mediaindonesia.com

Baca Juga

Dok. Avarik Saga

Gandeng Tim Esport RRQ, Avarik Saga Kembangkan Ekosistem Gim Berbasis Metaverse di Indonesia 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 28 Januari 2022, 20:32 WIB
CEO Avarik Saga Kevin Cahya mengatakan, tujuan utama dari kemitraan itu adalah untuk mendorong pertumbuhan dan mempromosikan gim metaverse...
Dok.Oppo

Terus Berinovasi, Oppo Luncurkan Zero-Power Communication White Paper

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 28 Januari 2022, 17:55 WIB
Perangkat Zero-Power Communication merupakan perangkat yang tak lagi menggunakan baterai, sangat ringkas, dan hemat biaya karena konsumsi...
 Chris Delmas / AFP

Apple Siapkan iPhone Sebagai Alat Pembayaran

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 28 Januari 2022, 16:50 WIB
Apple merencanakan layanan baru, yang akan menjadikan iPhone sebagai mesin pembayaran tanpa harus tersambung ke perangkat keras...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya