Selasa 03 Oktober 2017, 10:22 WIB

Bekerja Sama Atasi Kasus Kekerasan pada Anak

Vina Fitriani Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung | Surat Pembaca
Bekerja Sama Atasi Kasus Kekerasan pada Anak
 

LAGI, lagi, dan lagi kasus kekerasan pada anak kembali terjadi dalam pendidikan Indonesia. Begitu banyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang sempat marak terjadi belakangan ini dan menjadi berita hangat yang diperbincangkan. Kali ini masyarakat dikejutkan dengan tewasnya pelajar SMA di Kota Bogor, Hilarius Christian Event Raharjo, akibat duel gladiator dengan pelajar SMA lain yang berujung pada kematian.

Duel ala gladiator itu ternyata telah terjadi satu tahun yang lalu dan baru kali ini berujung kematian. Kasus itu terkuak setelah curhatan sang ibu korban di media sosial. Entah kenapa kasus yang berujung pada kematian itu baru terkuak. Padahal, menurut berita yang beredar, duel ala gradiator itu sudah menjadi agenda rutin setiap tahun.

Sekolah yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi siswa malah menjadi tempat kriminalitas dari rekan siswa lainnya yang ingin menunjukkan eksistensi mereka. Siswa yang seharusnya fokus untuk menimba ilmu malah terfokus untuk melakukan aksi duel gladiator. Siswa yang seharusnya bisa menghasilkan karya positif malah menghasilkan karya permainan duel gladiator yang merengut nyawa korban.

Kasus itu tentunya menjadi pekerjaan rumah dan cambukan keras untuk kita semua, terĀ­utama orangtua dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk bisa mengatasi masalah ini agar tidak menelan korban lagi.

Tentunya masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama dalam mengatasi kasus kekerasan ini. Ada beberapa solusi agar peristiwa ini tidak terulang.

Pertama, perlunya menanamĀ­kan pendidikan budi pekerti pada anak mulai usia dini. Budi pekerti atau akhlak merupakan kunci utama anak untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sayangnya, pendidikan budi pekerti ini belum menjadi mata pelajaran wajib di sekolah.

Kedua, peranan orangtua dalam mendidik anak. Orangtua harus ekstra penuh dalam memberikan perhatian kepada anaknya supaya anak tidak merasa bahwa dia sendiri, yang mengakibatkan anak bisa saja melakukan tindakan kriminal untuk mendapatkan perhatian. Perhatian di sini bukan berarti memanjakan anak secara berlebihan.

Ketiga, peranan sekolah. Sekolah harus menjadi rumah kedua untuk mendapatkan rasa aman pada anak. Selain itu, sekolah harus lebih ekstra lagi memperhatikan aktivitas siswa-siswa.

Keempat, mengawasi tontonan pada anak karena banyak sekali televisi yang mengadegankan kekerasan atau perkelahian. Anak sering kali mencontoh apa yang mereka dengar dan mereka lihat.

Kelima, peranan orangtua, sekolah, dan pemerintah untuk bersama-sama bekerja sama dalam mengatasi kekerasan. Sekolah harus gencar mengampanyekan gerakan antikekerasan pada siswa. Terakhir, sesegera mungkin melaporkan ke pihak berwajib apabila terjadi kekerasan pada anak baik itu di sekolah maupun di tempat lainnya.

Baca Juga

dok.pribadi

Beli Mobil Baru Miliaran Tapi Diduga Cacat Produk, Konsumen Protes

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 19 April 2022, 23:29 WIB
Beli Mobil Baru Miliaran Tapi Diduga Cacat Produk, Konsumen...
dok.ist

Klarifikasi/Hak Jawab Berita Media Indonesia

👤Kisar Rajagukguk 🕔Rabu 13 April 2022, 19:09 WIB
SEHUBUNGAN dengan Pemberitaan yang beredar di Media Indonesia, tertanggal 13 April 2022 tentang Razia Handphone  yang berisi Konten...
dok.pribadi

Menguji Prosedur Formal Persidangan Pengadilan Pajak

👤MICOM 🕔Rabu 06 April 2022, 07:45 WIB
Menguji Prosedur Formal Persidangan Pengadilan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya