Kemenangan 1-0 di Al-Awwal Park menyisakan catatan tebal bagi staf pelatih. Tiga poin diamankan, namun ketergantungan pada 'kesalahan lawan' menjadi alarm bahaya dalam perburuan gelar juara.
📍 Detail Pertandingan
- Laga: Al Nassr vs Al Taawoun
- Skor Akhir: 1-0 (Gol Bunuh Diri M. Al Dossari 45')
- Lokasi: Al-Awwal Park, Riyadh
- Wasit: Andres Matonte (Uruguay)
- Man of the Match: Sadio Mane (Al Nassr) / Mailson (Al Taawoun)
RIYADH, 27 Januari 2026 – Al Nassr berhasil mengamankan tiga poin vital saat menjamu Al Taawoun di Al-Awwal Park, Riyadh, Senin (26/1) malam. Namun, di balik kemenangan tipis 1-0 tersebut, tersimpan narasi yang cukup mengkhawatirkan bagi Pasukan Najd dalam upaya mereka menggulingkan dominasi Al Hilal musim ini.
Sebagai Redaktur Sepak Bola, saya melihat laga ini bukan sebagai pertunjukan kekuatan (show of force), melainkan sebuah "kemenangan pragmatis" yang lahir dari kebuntuan taktikal lawan, bukan murni karena ketajaman lini serang tuan rumah.
1. Problem Clinical Finishing dan Frustrasi Ronaldo
Statistik tidak berbohong. Al Nassr melepaskan total 18 tembakan dengan 7 di antaranya mengarah ke gawang (shots on target). Angka Expected Goals (xG) mereka menyentuh 2.45, namun realitanya hanya satu gol yang tercipta, itu pun melalui gol bunuh diri lawan.
Cristiano Ronaldo, yang kini berusia matang di tahun 2026, terlihat beberapa kali menunjukkan gestur frustrasi. Pergerakan tanpa bolanya masih kelas dunia, terbukti dari gol yang dianulir VAR karena offside tipis. Namun, koneksi di sepertiga akhir antara Ronaldo, Joao Felix, dan Otavio sering kali terputus oleh blok rendah (low block) disiplin yang diterapkan Al Taawoun.
Ketergantungan pada umpan silang (total 32 crosses) menunjukkan Al Nassr kehabisan ide untuk menembus lewat jalur tengah (central penetration).
2. Tembok Kokoh Bernama Mailson
Kredit khusus harus diberikan kepada kiper Al Taawoun, Mailson. Penjaga gawang asal Brasil ini menjadi alasan utama mengapa Al Nassr gagal menang dengan skor 3-0 atau 4-0. Refleks ganda yang ia tunjukkan di menit ke-60 dan 78 membuktikan bahwa Al Taawoun datang ke Riyadh dengan persiapan mental yang matang.
Bagi Al Nassr, kegemilangan kiper lawan adalah hal lumrah. Namun, ketidakmampuan para penyerang untuk menaklukkan kiper dalam situasi one-on-one adalah masalah yang harus segera dievaluasi di sesi latihan.
3. Keseimbangan Lini Tengah: Peran Pivot Ganda
Satu hal positif dari laga ini adalah solidnya lini tengah Al Nassr dalam memutus serangan balik. Marcelo Brozovic (atau tandemnya di 2026) berhasil melakukan recovery bola sebanyak 8 kali di area lawan. Hal ini membuat Al Taawoun hanya memiliki penguasaan bola 32% dan kesulitan mengembangkan permainan.
High pressing yang diterapkan Al Nassr berjalan efektif, memaksa bek Al Taawoun, Mohammed Al Dossari, melakukan kesalahan fatal yang berujung gol bunuh diri. Gol tersebut memang berbau keberuntungan, tapi keberuntungan itu "dipaksa" hadir melalui tekanan konstan.
VERDICT MEDIA INDONESIA
Nilai Pertandingan: 6.5/10. Laga yang berat sebelah namun minim gol. Al Nassr menang pengalaman, bukan taktik superior.
Kunci Kemenangan: Kesabaran. Al Nassr tidak panik meski gol tak kunjung datang dari open play. Mereka terus mencecar sisi kanan pertahanan Al Taawoun yang dieksploitasi habis-habisan oleh Sadio Mane.
Implikasi Titel Juara: Dengan Al Hilal yang tampil nyaris sempurna, kemenangan "jelek" (ugly win) seperti ini sangat dibutuhkan Al Nassr. Tiga poin tetaplah tiga poin, tak peduli bagaimana cara mendapatkannya. Namun, jika ingin menyalip Al Hilal di sisa musim 2026, Ronaldo cs harus lebih kejam di depan gawang.
Selanjutnya, Al Nassr akan melawat ke markas Al Kholood. Jika efektivitas serangan tidak diperbaiki, bukan tidak mungkin mereka akan terpeleset di laga tandang tersebut.
