Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Mereka yang Hidupnya Selalu Susah

Abdul Mu'ti
04/3/2026 05:00
Mereka yang Hidupnya Selalu Susah
Abdul Mu’ti Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah; Sekretaris Umum PP Muhammadiyah(MI/Seno)

DALAM hidup di dunia, ada orang yang hidupnya selalu susah. Tak putus dirundung malang. Satu masalah belum selesai, sudah muncul masalah berikutnya. Mengapa? Siapakah mereka?

Secara normatif, jawabannya terdapat pada Al-Qur'an Surat Al-Lail (92): 8-10: “Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah) serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesengsaraan.”

Pertama, orang yang bakhil, kikir, pelit. Mereka adalah para pendusta agama, yakni orang yang tidak hanya enggan berbagi dengan sesama, tapi juga menelantarkan anak yatim, membiarkan orang miskin kelaparan, dan merintangi manusia memberi sesuatu yang bermanfaat (QS Al-Maun [107]: 1-7). Sikap demikian bukan karena mereka tidak berharta. Mereka justru hidup bergelimang harta.

Kedua, mereka yang sombong karena merasa hartanya adalah segala-galanya. Mereka adalah orang-orang yang bakhil, memprovokasi manusia untuk berbuat bakhil, berbagi hanya untuk menunjukkan kehebatan (ria), dan mengingkari nikmat Allah (QS An-Nisa [4]: 37-38).

Ketiga, mendustakan atau tidak percaya adanya hari pembalasan. Mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Bergaya hidup mewah, berfoya-foya di atas penderitaan sesama, bahkan mengeksploitasi kaum papa demi mendapatkan harta. Mereka adalah orang-orang yang celaka karena lupa bahwa kehidupan, kejayaan, kekayaan, dan kekuasaan ada batas akhirnya (QS At-Takatsur [102]: 1-2).

Tiga sifat tersebut membuat manusia jauh dari Allah dan terasing dari masyarakat. Tabungan mereka penuh, tapi jiwa mereka kosong. Tidak ada yang menjenguk ketika sakit. Tidak ada yang mengulurkan tangan saat jatuh. Tak ada yang iba ketika berduka. Mereka sendirian di tengah berbagai kesulitan. Harta yang berlimpah tidak membawa berkah. Sebagian dari mereka bahkan harus berurusan dengan berbagai masalah hukum. Mereka seakan mati dalam hidup.

Kekayaan, jabatan, dan kekuasaan penting, bahkan sangat penting. Akan tetapi, jika tidak dilandasi oleh nilai-nilai utama dan akhlak mulia, semua tidak akan bermakna. Orang bisa membeli hiburan, tapi tidak bisa membeli kebahagiaan; bisa membeli jabatan dan kekuasaan, tapi tidak bisa membeli kehormatan; bisa membeli obat, tapi tidak bisa membeli kesehatan dan kehidupan.

Inilah mengapa banyak hadis Nabi yang menyebutkan beriman kepada Allah diikuti dengan percaya kepada hari akhir. Semua ada batasnya.

Ramadan adalah momentum di saat kita memperbanyak zikir kepada Allah. Kita mendekatkan diri kepada Allah dengan mendekatkan diri kepada sesama. Tak perlu membangun pagar rumah tinggi-tinggi karena takut pencuri. Pagar mangkuk lebih kuat daripada pagar tembok. Kerukunan dengan tetangga membuat hidup kita aman. Jika hubungan dengan tetangga baik, mereka akan menjaga rumah kita walaupun pagar selalu terbuka.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya