Kamis 06 Mei 2021, 10:17 WIB

Haedar Nashir Ajak Umat Islam Sambut Idul Fitri Dengan Kesahajaan

Ardi Teristi Hardi | Renungan Ramadan
Haedar Nashir Ajak Umat Islam Sambut Idul Fitri Dengan Kesahajaan

MI/Ardi Teristi Hardi
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir

KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan menyongsong Idul Fitri boleh dijalani dengan kegembiraan. Namun, itu jangan dilakukan secara berlebihan dengan belanja dan aktivitas lainnya yang melampaui kemestian, apalagi dengan berkerumun.

Idul Fitri, lanjut dia, harus tetap dijalani sebagai satu rangkaian dengan puasa Ramadan. Lebih-lebih situasi pandemi yang belum reda, kesahajaan harus dikedepankan dan jauhi keberlebihan karena Allah tidak menyukai hamba-hamba yang melampaui batas seperti tercantum pada QS Al-Maidah: 87.

"Ingat banyak saudara kita yang kekurangan dan terdampak pandemi. Selaku insan beriman mesti menunjukkan sikap empati, simpati, dan peduli sebagai wujud ihsan dan kesalehan," kata Haedar, Kamis (6/5).

Kegiatan ibadah yang melibatkan kerumunan juga sebaiknya dihindari dan ditempuh cara yang juga dibolehkan syariat Islam di kala darurat. Ia mengingatkan, jangan merasa aman dan terbebas dari pandemi. Kaum muslim dapat menjadi uswah hasanah dalam keadaan normal lebih-lebih di kala darurat.

"Jauhi sikap ananiyah (egois) dan ghuluw (ekstrem) dalam beragama dan menyambut Lebaran," kata dia.

Salat sunnah Idul Fitri pun perlu super hati-hati. Kalau salat Idul Fitri tidak memungkinkan dilakukan melibatkan jamaah yang banyak, sebaiknya salat Idul Fitri dilakukan sangat terbatas di sekitar lingkungan atau di rumah tanpa melibatkan jamaah yang banyak.

"Sabda Nabi jauhi hal yang darurat dan yang menimbulkan kedaruratan bagi orang lain. Allah mengingatkan dalam Alquran, jangan menjatuhkan dirimu pada kebinasaan atau kehancuran seperti tercantum pada Al-Baqarah: 195)," jelas Haedar.

baca juga: Idul Fitri 1442 H/2021

Dengan itu, lanjut Haedar, Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan dalam beragama (QS Al-Baqarah: 185). Pemerintah telah melarang mudik. Haedar meminta sebaiknya semua mengikutinya demi mencegah wabah dan mengatasi pandemi agar tidak bertambah  luas.

"Memang berat meninggalkan tradisi mudik yang memiliki manfaat positif bagi persaudaraan di tempat asal. Tetapi karena situasi pandemi maka akan lebih maslahat bila semua pihak bersikap saksama," pesan dia.

Sikap saksama bukanlah takut dan paranoid, tetapi bagian dari ikhtiar mengatasi pandemi. Pihaknya juga berharap pemerintah membatasi kegiatan wisata dan pusat keramaian lainnya agar konsisten.

"Apalah artinya mudik dilarang kalau pusat-pusat keramaian publik dilonggarkan," tegas Haedar.

Menurut dia, mencegah dan menahan diri dari segala bentuk kerumunan dan keadaan yang membuat mudarat harus diutamakan bagi setiap warga bangsa yang baik dan bertanggungjawab. Lebih-lebih bagi muslim yang berpuasa dan berhasil dengan puasanya dalam pengendalian diri, hal itu harus diutamakan. (OL-3)

 

 

 

Baca Juga

Mi.Seno

Apa Arti Kembali ke Fitrah?

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Rabu 12 Mei 2021, 05:35 WIB
HARI Raya Idul Fitri sering dipopulerkan dengan istilah ‘kembali ke fitrah’. Tapi apa sesungguhnya arti...
MI/Seno

Menggapai Kekhusyukan Beribadah

👤Nasaruddin Umar 🕔Selasa 11 Mei 2021, 04:00 WIB
KHUSYUK dalam beribadah masih sering diartikan sebagai konsentrasi puncak dengan mengerahkan segenap pikiran hanya tertuju kepada Allah...
MI/Seno

Iktikaf

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal 🕔Senin 10 Mei 2021, 04:00 WIB
TRADISI 10 hari terakhir Ramadan yang paling fenomenal di Indonesia ialah iktikaf...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2021-06-16

JADWAL IMSAKIYAH
Rabu, 16 Jun 2021 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:35 WIB
Subuh : 04:45 WIB
Terbit : 06:00 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:15 WIB
Maghrib : 18:00 WIB
Isya : 18:57 WIB

TAUSIYAH