Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
UNIVERSITAS Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menyelenggarakan acara Pengkajian Ramadan 1446 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Azhar Basyir Gedung Cendekia UMJ. Pengkajian yang mengangkat tema Pengembangan Wasathiyah Islam Berkemajuan: Tujuan Teologis, Ideologis, dan Praksis ini dihadiri oleh ratusan peserta.
Dr Adi Hidayat, Lc MA atau yang akrab dengan panggilan Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa wasathiyah sejatinya mengantarkan manusia ke kehidupan yang sukses dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat.
Pada materi mengenai tafsir Al-Qur’an tentang wasathiyah, Adi mengatakan hanya ada satu ayat dalam Al-Qur’an tentang wasathiyah, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 143.
“Surat Al-Baqarah ada 286 ayat, 286 bagi dua menjadi 143, maka ayat ini berada pas di tengah. Jadi Allah mengajarkan wasathiyah itu langsung mempraktikkan, memberikan petunjuk kepada (Malaikat) Jibril yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membacakan surah ini,” ujarnya, Jumat (7/3).
Dalam Tafsir Al-Baghawi mengenai asbabunnuzul (alasan turunnya ayat) ayat ini, menceritakan kisah orang Yahudi yang menetapkan standar terbaik berdasarkan suatu tempat atau seseorang.
“Kalau ingin mengambil standar yang terbaik tidak mengacu pada tempat dan orang, tetapi pada karakteristik atau sifat-sifat yang membentuknya,” kata Adi. "Ketika ayat ini turun, Allah ingin membawa manusia untuk mendapatkan pedoman menjadi sosok yang hebat dan unggul."
Berdasarkan hal tersebut, Adi mengatakan jika UMJ ingin unggul dan berkemajuan, standarnya masuk dalam golongan wasathiyah. Begitu pun dengan Persyarikatan Muhammadiyah jika ingin menjadi teladan mesti mempraktikkan wasathiyah di dalamnya. Sementara penerapan wasathiyah dalam kehidupan akan membuat seseorang menjadi sosok ideal yang teladan.
Lebih lanjut, Adi menjelaskan bahwa sumber wasathiyah adalah Al-Qur’an. Ia menekankan untuk memahami Al-Qur’an tidak hanya memosisikannya sebagai bacaan. Hal ini disebabkan desain awal Allah siapkan untuk menjadi pedoman kehidupan. Dari Surat Al-Fatihah hingga Surat An-Nas merupakan kurikulum kehidupan untuk menjadi manusia unggul.
“Al-Qur’an turun di bulan yang istimewa karena memang membawa pesan yang istimewa pula. Pesan yang ada dalam Al-Quran itu berkemajuan dan indah mencerahkan. Sehingga jika mempraktikkannya dalam hidup, maka jadilah sosok teladan yang sukses di kehidupan dunia dan akhirat,” kata Adi.
Masih mengenai Al-Qur’an, Adi melanjutkan, bahwa Al-Qur’an merupakan kurikulum hidup, urutannya pun indah untuk memahami isinya. Menurutnya, membaca adalah gerbang untuk memahami Al-Qur’an agar mudah mempraktikkannya dalam kehidupan karena ayat yang pertama kali turun pun menyuruh manusia untuk membaca. Setelah membaca ada tilawah, tafakur, tadabur, kemudian implementasi di ujungnya yaitu tadzakur (mengingat Allah).
“Kalau kita urutkan semuanya, belajar baca dulu walaupun belum paham artinya supaya mengerti cara membacanya,” tutur Adi.
Sebelum mengakhiri pemaparan materinya, Adi memberi kesempatan kepada empat orang ulama dari Mesir untuk menyampaikan pandangan mereka tentang wasathiyah. Para peserta juga berkesempatan mengajukan pertanyaan. (B-3)
Refleksi 80 tahun Kementerian Agama menjaga kerukunan, pendidikan, dan pengelolaan dana umat demi kemaslahatan bangsa Indonesia.
LIGA Muslim Dunia (Muslim World League/MWL) menyerukan penguatan solidaritas dan persatuan umat Islam di tengah tantangan global saat ini.
SEKRETARIS Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin, mengatakan, penguatan nilai-nilai moderasi beragama di generasi muda adalah yang yang fundamental.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen (Dirjen Bimas Kristen) Jeane Marie Tulung turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam apel Hari Santri.
BPIP dan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar diskusi bertajuk “Aktualisasi Nilai Ketuhanan dan Kebangsaan dalam Menjaga Moderasi Beragama di Indonesia”. Edukasi Pancasila
Toleransi, katanya, adalah kata yang paling sering terdengar tapi terkadang bisa berbalik menjadi penyebab tindakan-tindakan intoleran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved