Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
RAMADAN kali ini dilalui secara berbeda oleh seluruh umat muslim di dunia. Pandemi covid-19 menciptakan aturan baru yang jauh dari kebiasaan umat manusia selama ini.
Dalam ceramahnya di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, Muhamad Amin Suma, menuturkan bahwa ada banyak ayat Alquran yang memberikan penjelasan pada umat manusia tentang pedoman menghadapi satu situasi, salah satunya pandemi yang tengah terjadi saat ini.
Mengacu pada sejarah Nabi Muhammad SAW yang diceritakan dalam surah Al-Imran ayat 159, Nabi pernah berada dalam posisi sangat kecewa saat tidak berhasil memenangi Perang Uhud.
Dikisahkan sebelum Perang Uhud, terjadi Perang Badar. Dengan perbekalan dan jumlah prajurit yang sangat terbatas, perang yang dipimpin oleh Nabi Muhammad itu berhasil mencapai kemenangan. “Sebaliknya, Nabi diuji oleh Perang Uhud. Kalau dilihat dari perbekalan siap, begitu pula dengan prajurit yang ada,” kata Amin.
Namun, kondisi mental sebagian pasukan tempur memang sudah mulai tergiur dengan kemegahan duniawi. Banyak harta kekayaan yang bisa mereka keruk dari rampasan perang sehingga tidak fokus dan sabar serta tekad yang bulat maka hasilnya tidak sebaik Perang Badar.
Rasulullah lantas kecewa dengan kelalaian pasukannya itu. Selanjutnya, Allah langsung menurunkan nasihat kepada Rasul dalam surah Al-Imran ayat 159 yang berbunyi, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
Mengacu pada ayat tersebut, insya Allah kita bisa mengambil pelajaran berharga. Bagaimana kita tetap menikmati keberkahan Ramadan di tahun wabah ini.
Diingatkan
Dari suasana normal saat menjalani ibadah Ramadan dan memasuki suasana yang penuh dengan ketidakpastian, sebagai orang beriman tentu memaknainya dengan penuh keimanan.
Allah telah mengingatkan umat manusia bahwa sudah puluhan tahun kita menikmati Ramadan yang selama ini dijalani dengan merdeka dan boleh jadi berlebihan.
Disadari atau tidak dalam suasana yang penuh kecukupan terkadang manusia terlena akan esensi ajaran agamanya.
Menjalani ibadah Ramadan di masa yang penuh keterbatasan inilah kita seperti dibangunkan dari keterlenaan akan nikmat duniawi. “Kita tidak menyadari karena kita terbius oleh sinar. Namun, kita tidak menyadari, siapa tahu di hati kita banyak bisul yang perlu diperbaiki dan Allah mengingatkan kita lewat jalan ini,” ucap Amin.
Maka tidak ada iktikad lain bahwa umat Islam harus tetap bersyukur. Kita maksimalkan ibadah. Kita gunakan waktu ini untuk lakukan introspeksi sehingga Ramadan di tengah wabah ini tetap benar-benar bisa memberikan manfaat untuk kita,” tandasnya. (H-1)
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved