Rabu 06 Mei 2020, 05:35 WIB

Berkah dari Karbon Hutan Lindung

Solmi/H-3 | Ramadan
Berkah dari Karbon Hutan Lindung

MI/SOLMI
Suka cita dari wajah seorang ibu sambil memperlihatkan paket sembako pembagian dari hasil penjualan karbon Hutan Lindung Bujang Raba, Jambi.

Kebun-kebun karet milik warga di sekitar Hutan Lindung Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba), di wilayah Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi sudah beberapa waktu tidak lagi disadap.

Penyebabnya, pandemi covid-19. Pasar lelang karet tutup, pabrik karet mengurangi pembelian, dan harganya tidak menguntungkan petani. Padahal, kebun karet menjadi andalan pendapatan warga di desa-desa tersebut. Kondisi yang sama juga terjadi di banyak desa di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Provinsi Jambi.

Namun, ternyata keberuntungan masih menghampiri. Warga di lima desa sekitar Hutan Lindung Bujang Raba mendapat berkah dari hasil penjualan karbon dari kawasan hutan yang mereka jaga dan kelola dengan baik selama ini.

Dari hasil penjualan karbon Hutan Lindung Bujang Raba ke Pasar Karbon Suka Rela, tahun 2020, sudah terkumpul dana sebesar Rp1 miliar. Sesuai kesepakatan pemuka dan masyarakat desa, dana tersebut dibelikan sembako dan dibagikan merata kepada 1.259 kepala keluarga yang terlibat dalam pengelolaan Hutan Lindung Bujang Raba. Selain sembako, dana juga disalurkan untuk pembangunan sarana publik dan dana operasional Kelompok Pengelola Hutan Desa.

“Alhamdulillah. Ini merupakan berkah Ramadan. Semoga hutan kami terus terjaga dan lestari, supaya karbonnya makin banyak,” kata Aisyah, warga Dusun Laman Panjang seusai menerima jatah pembagian sembako pada Minggu (3/5). Untuk tahap awal, sebanyak 504 paket diserahkan ke Desa Sungai Telang, 243 di Desa Senamat ulu, dan 198 paket di Desa Laman Panjang pada 1-3 Mei 2020.

Sejak dikelola masyarakat di lima desa tersebut, Hutan Lindung Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba) mampu mempertahankan tutupan hutan. Nyaris tidak ada kehilangan tegakan pohon, artinya semua karbon tersimpan dalam bentuk stok karbon alam, tidak ada yang dilepas ke udara.

“Penyimpanan karbon dalam kawasan hutan inilah yang menjadi nilai tambah Bujang Raba. Sejak 2018 Bujang Raba masuk pasar karbon sukarela,” kata Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia Warsi Emmy Primadona.

Bujang Raba ialah salah satu proyek Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) masyarakat pertama di Indonesia. Kegiatannya, mitigasi penyimpanan 670.000 CO2 dengan mencegah deforestasi dalam kurun waktu sepuluh tahun (2014-2023). Dalam proyek REDD, desa-desa di Bujang Raba berkomitmen melindungi 5.336 hektare hutan primer dari konversi ke non-hutan. (Solmi/H-3)

Baca Juga

Dok. Amy Maulana

Takbir dan Salawat Bergema Sambut Idul Fitri di Dagestan Rusia

👤Humaniora 🕔Senin 17 Mei 2021, 08:00 WIB
Tradisi lebaran masyarakat muslim Dagestan yang unik adalah mengunjungi keluarga atau tetangga yang tahun ini berduka ditinggalkan mati...
ANTARA/ADENG BUSTOMI

Ketupat Lemak, Menu Wajib Lebaran di Kubu Raya

👤Humaniora 🕔Jumat 14 Mei 2021, 10:31 WIB
Ketupat lemak merupakan beras ketan yang dimasukkan ke dalam daun kelapa yang sudah di anyam. Beda dengan ketupat, pada umumnya ketupat...
Antara

Ketua DPR: Idulfitri Momentum Perkuat Solidaritas

👤Putra Ananda 🕔Kamis 13 Mei 2021, 13:59 WIB
Apalagi saat pandemi covid-19, menurut Puan penting untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara di sekeliling kita. Terutama mereka yang...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2021-05-18

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 18 Mei 2021 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:31 WIB
Subuh : 04:41 WIB
Terbit : 05:54 WIB
Dzuhur : 11:49 WIB
Ashar : 15:11 WIB
Maghrib : 17:57 WIB
Isya : 18:53 WIB

TAUSIYAH