BAGI kebanyakan terdakwa kasus korupsi, mungkin kasus yang menjeratnya sebagai suatu kesialan. Namun, bagi mantan Sekjen Partai NasDem, Patrice Rio Capella, kasus yang menjeratnya hingga membuat dirinya duduk di kursi pesakitan merupakan perjalanan hidup yang berharga. Dalam sidang dengan agenda pembacaan nota pleidoi (pembelaan) itu, Rio berharap majelis hakim yang diketuai hakim Artha Theresia untuk memutus secara adil atas tuntutan jaksa KPK selama dua tahun penjara. Rio mengaku, peristiwa yang menimpa dirinya merupakan tamparan yang sangat telak bagi karier politik yang telah ia bangun dengan menjadi anggota Komisi III DPR RI.
"Ini sesuatu yang di luar dugaan saya, berat di kehidupan saya ataupun putri saya. Saya mungkin kuat, tapi keluarga saya tidak kuat," ujar Rio di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin. Tidak hanya itu, dalam pleidoi yang ia bacakan secara spontan tersebut Rio juga membahas penggambaran tokoh wayang bernama Antareja yang disematkan jaksa KPK Yudi Kristiana kepada dirinya. Saat membaca pleidoi, Rio menggambarkan kisahnya layaknya kisah Mahabharata.
Meski tak secara langsung menunjuk jaksa Yudi dan memilih untuk menggambarkan susunan jaksa secara keseluruhan, Rio menganggap para jaksa sebagai Widura yang dikenal sebagai tokoh berkarakter dan bijaksana. Rio menganggap dirinya sebagai Bima. Saat perang terjadi antara Pandawa dan Kurawa, Bima dihukum tahanan. Meski saat itu Widura bisa saja membebaskan Bima, ia memilih tidak melakukannya agar Bima dapat memetik pelajaran dalam kehidupan.
"Kamu dimasukkan ke dalam tahanan agar kuat dan tertib menjalani kehidupan. Semua ini pasti ada hikmahnya," ungkap Rio menirukan ucapan Widura kepada Bima. Bagi Rio, semua yang telah ia ketahuinya telah diungkapkan dalam persidangan. Dalam tuntutan jaksa, Rio Capella dituntut 2 tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider 1 bulan kurungan. Ia dinilai bersalah karena telah menerima uang Rp200 juta dari Gubernur nonaktif Sumatra Utara Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti, melalui teman lamanya, Fransisca Insani Rahesti.