Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Romo Magnis Jelaskan Indonesia Tetap Damai Meski Beragam

M Iqbal Al Machmudi
15/11/2025 09:52
Romo Magnis Jelaskan Indonesia Tetap Damai Meski Beragam
Guru Besar Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno.(MI/RAMDANI)

GURU Besar Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno, menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara paling berhasil di dunia dalam menjaga harmoni di tengah keragaman agama, budaya, dan etnis. 

Hal tersebut disampaikan Romo Magnis saat menyampaikan pidato pada sesi diskusi bersama dalam rangkaian kegiatan Indonesian Interfaith Scholarship (IIS) 2025.

Romo magnis menjelaskan, bahwa sebagian besar bangsa yang sangat beragam justru pecah entah karena konflik politik, sektarian, atau agama. Namun Indonesia, dengan lebih dari 700 bahasa daerah, ratusan etnis, dan enam agama besar, mampu membangun sebuah identitas nasional yang kuat.

“Indonesia adalah negara yang tetap bersatu bukan karena keseragaman, tapi justru karena keragaman itu diakui sebagai bagian dari identitas bersama,” kata Romo Magnis dalam keterangannya, Sabtu (15/11).

Romo Magnis menjelaskan bahwa ada dua fondasi utama yang membuat Indonesia berhasil menjaga kerukunan di tengah keberagaman. 

Pertama, identitas nasional yang tidak bersifat konfrontatif. Indonesia tidak pernah membenturkan agama dengan kebangsaan. Menjadi Muslim, Kristen, Hindu, atau Buddha tetap menempatkan seseorang secara utuh sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

“Di sini, orang bisa taat beragama, tapi juga sangat nasionalis. Itu perpaduan yang sangat langka,” ujarnya.

Kedua, budaya komunikasi dan musyawarah yang begitu kuat dalam kehidupan masyarakat. Romo Magnis menilai bahwa masyarakat Indonesia cenderung memilih dialog ketimbang konfrontasi saat menghadapi perbedaan.

“Kalau ada masalah, orang Indonesia lebih memilih ngobrol, duduk bersama, mencari titik temu. Ini modal sosial yang tidak dimiliki oleh banyak negara,” lanjutnya.

Pria berusia 89 tahun itu mengenang pengalamannya datang ke Indonesia pada 1961. Ia mengaku tidak pernah membayangkan bahwa Indonesia akan menjadi rumahnya hingga kini. Interaksi dengan masyarakat, budaya lokal, serta perjumpaan lintas agama membuatnya menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.

Ia menyebut empati, keramahan, dan kemampuan masyarakat Indonesia untuk berdialog sebagai modal sosial yang sangat langka. 

“Saya datang hanya untuk belajar, tetapi Indonesia mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan bersama dalam perbedaan,” ungkapnya.

Meski begitu, Romo Magnis mengingatkan bahwa Indonesia tetap menghadapi tantangan berupa polarisasi sosial, radikalisme, serta ketimpangan ekonomi. 

Namun ia yakin Indonesia dapat menghadapinya selama ruang dialog, rasa hormat, dan kehidupan lintas iman tetap dirawat.

Romo Magnis menitip pesan kepada generasi muda agar menjadi penjaga masa depan toleransi Indonesia. 

"Anak muda adalah penjaga masa depan toleransi. Indonesia membutuhkan orang-orang yang mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan,” pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik