Sabtu 05 Maret 2022, 13:30 WIB

BNPT Sebut 5 Indikator Ciri-Ciri Penceramah Radikal

Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Politik dan Hukum
BNPT Sebut 5 Indikator Ciri-Ciri Penceramah Radikal

Tim grafis Media Indonesia
Ilustrasi

 

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigadir Jenderal Ahmad Nurwakhid  mengurai beberapa indikator yang menandakan penceramah radikal.

Hal itu diungkapkan Ahmad guna merespons soal penceramah radikal yang disampaikan Presiden Joko Widodo sebagai peringatan kuat untuk meningkatkan kewaspadaan nasional.

"Sejak awal kami (BNPT) sudah menegaskan bahwa persoalan radikalisme harus menjadi perhatian sejak dini karena sejatinya radikalisme adalah paham yang menjiwai aksi terorisme," tegas Nurwakhid, Sabtu (5/3).

"Radikalisme merupakan sebuah proses tahapan menuju terorisme yang selalu memanipulasi dan mempolitisasi agama," tambahnya.

Guna mengetahui penceramah radikal, lanjut Nurwakhid, hal itu bisa dilihat dari isi materi yang disampaikan bukan tampilan penceramah. Setidaknya ada lima indikator yang disampaikannya.

Pertama, mengajarkan ajaran yang anti Pancasila dan pro idieologi khilafah transnasional. Kedua, mengajarkan paham takfiri yang mengkafirkan pihak lain yang berbeda paham maupun berbeda agama.

Ketiga, menanamkan sikap anti pemimpin atau pemerintahan yang sah, dengan sikap membenci dan membangun ketidak percayaan (distrust) masyarakat terhadap pemerintahan maupun negara melalui propaganda fitnah, adu domba, hate speech, dan sebaran hoaks.

Keempat, memiliki sikap eksklusif terhadap lingkungan maupun perubahan serta intoleransi terhadap perbedaan maupun keragaman (pluralitas).

Yang terakhir, biasanya memiliki pandangan anti budaya ataupun anti kearifaan lokal keagamaan.

“mengenali ciri-ciri penceramah jangan terjebak pada tampilan, tetapi isi ceramah dan cara pandang mereka dalam melihat persoalan keagamaan yang selalu dibenturkan dengan wawasan kebangsaan, kebudayaan dan keragaman”, tuturnya.

Nurwakhid juga menegaskan strategi kelompok radikalisme memang bertujuan untuk menghancurkan Indonesia melalui berbagai strategi yang menanamkan doktrin dan narasi ke tengah masyarakat.

“Ada tiga strategi yang dilakukan oleh kelompok radikalisme. Pertama, mengaburkan, menghilang bahkan menyesatkan sejarah bangsa," paparnya.

Kemudian, yang kedua, Nurwakhid menilai bisa menghancurkan budaya dan kearifan lokal bangsa Indonesia.

Yang ketiga, mengadu domba di antara anak bangsa dengan pandangan intoleransi dan Isu SARA.

Nurwakhid melihat strategi ini dilakukan dengan mempolitisasi agama yang digunakan untuk membenturkan agama dengan nasionalisme dan agama dengan kebudayaan luhur bangsa.

Proses penanamanya dilakukan secara massif di berbagai sektor kehidupan masyarakat, termasuk melalui penceramah radikal tersebut.

“Inilah yang harus menjadi kewaspadaan kita bersama dan sejak awal untuk memutus penyebaran infiltrasi radikalisme ini salah satunya adalah jangan asal pilih undang penceramah radikal ke ruang-ruang edukasi keagamaan masyarakat ”, pungkasnya. (OL-12)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Anies Ogah Ngomong Pencapresan sebelum Lengser dari Gubernur

👤Mohamad Farhan Zhuhri 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 14:16 WIB
Dalam upacara tersebut, Anies mengatakan, makna Kemerdekaan RI merupakan momentum untuk terus bersyukur, salah satunya dengan mengikuti...
Ist

IPW Sebut Perlawan Kubu Sambo ke Timsus Kapolri di Kasus Brigadir J Masih Ada

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 14:16 WIB
Sugeng menyebut perlawan dari kubu Sambo ini salah satunya dengan menyebar serangan isu negatif terhadap para personel Timsus...
 Arnold/MI

Dapat Remisi, Ribuan Napi Hirup Udara Bebas di Hari Kemerdekaan

👤Putra Ananda 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 14:12 WIB
Sebanyak 2.725 narapidana (napi) dapat menghirup udara bebas setelah mendapatakn program pengurangan hukuman atau remisi hari ulang tahun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya