Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Fisik, Mental 4 WNI Korban Sandera Stabil

Uta/X-3
14/5/2016 04:30
Fisik, Mental 4 WNI Korban Sandera Stabil
(ANTARA/Puspa Perwitasari)

TIDAK tampak guratan depresi di wajah TB Hendry, Mochamad Aryani, Loren Morinus Petrus Rumawi, Samsir, serta Dede Irfan Hilmi begitu mereka menginjakkan kaki di Bandara Halim Perdanakusuma, sekitar pukul 10.00 WIB, kemarin.

Kendati keempat warga negara Indonesia itu disekap selama 25 hari oleh kelompok Abu Sayyaf di hutan belantara Filipina, kondisi mereka stabil dan fisik mereka sehat.

Hal itu diketahui setelah keempat WNI anak buah kapal, yang baru tiba dari Tarakan, Kalimantan Utara, setelah sehari sebelumnya berhasil dibebaskan, menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat, sekitar 1 jam setelah mendarat di Halim Perdanakusuma.

Selama sekitar 5 jam, mereka diperiksa di RSPAD Gatot Subroto. Dokter menyatakan keempat WNI tersebut tidak saja sehat secara fisik, tetapi juga stabil secara jiwa.

"Kesehatan jiwa keempatnya stabil dan optimal, juga fisiknya. Tidak ada traumatik. Mungkin sempat dirawat di sana. Secara umum prima," ujar dokter Kolonel Bambang yang memeriksa keempat korban sandera itu.

Menurut Bambang, tim dokter umum melakukan pemeriksaan fisik dari kepala hingga kaki, lalu tim spesialis melakukan pemeriksaan foto dada, jantung, dan laboratorium lengkap.

Setelah itu, dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan jiwa.

Setelah dites kesehatan, 4 WNI tersebut dibawa ke Kementerian Luar Negeri untuk diserahkan kepada keluarga.

Menlu Retno Marsudi memimpin upacara penyerahan kepada keluarga.

Sebelumnya keempat WNI tersebut diterbangkan dari Tarakan, Kalimantan Utara, menuju Bandara Halim Perdana Kusuma dengan pesawat TNI-AU AI7301.

Menlu menuturkan bahwa pembebasan sandera tersebut merupakan hasil kerja sama semua pihak.

"Sekali lagi kita mau mengucapkan terima kasih, pembebasan ini kerja sama dari semua pihak, termasuk TNI yang telah memberikan kerja sama yang luar bisa dalam operasi pembebasan," kata Retno.

Operasi pembebasan dipimpin Penglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal Edy Rahmayadi.

Ia mengatakan pihaknya mendapat perintah dari Panglima TNI untuk melakukan penjemputan dan pengamanan di perairan Tarakan.

"Dari awal, operasi militer disiapkan. Jika di perintahkan ambil, ya ambil. Kemarin saya lakukan pengambilan dan pengamanan," kata Edy. (Uta/Ant/MTVN/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya