Minggu 05 Desember 2021, 20:32 WIB

Habisnya Masa Jabatan Akan Mengubah Peta Dukungan Politik

RO/Micom | Politik dan Hukum
Habisnya Masa Jabatan Akan Mengubah Peta Dukungan Politik

dok cyrus
.

 

PENDIRI lembaga survei dan konsultan politik Cyrus Network, Hasan Nasbi, mengatakan ada dua hal yang bisa membuat perubahan peta dukungan publik terhadap figur capres 2024. Yaitu habisnya masa jabatan beberapa kepala daerah dan koalisi partai yang dilakukan lebih awal, yang juga dapat memunculkan calon lebih awal.

Hal itu disampaikan Hasan Nasbi dalam diskusi yang diadakan Total Politik di Cikini, Jakarta, Minggu (5/12).

Hasil survei dari lembaga-lembaga yang kredibel selalu menempatkan tiga nama teratas, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.

Tiga nama tersebut sudah muncul dalam berbagai survei pasca Pilpres 2019. Bedanya adalah posisi nomer dua yang sempat ditempati Anies Baswedan kini diambil Ganjar Pranowo.

Menurut Hasan, tiga nama tersebut adalah pewaris dukungan Prabowo dan Jokowi di 2019. "Prabowo itu Old Soldier, veteran pilpres yang nggak ngapa-ngapain saja punya pendukung tetap sekitar 25%," ujar Hasan.

Ganjar Pranowo dianggap mewarisi sebagian pemilih Jokowi. Golongan yang 'anti kadrun' dan sering menggunakan narasi kebhinekaan dan Pancasila harga mati.

Sedangkan Anies Baswedan dianggap mewarisi mantan pendukung Prabowo, yang banyak menggunakan narasi agama, dan dulu mendukung Prabowo karena anti dengan Jokowi.

"Mereka ini melihat Anies Baswedan sebagai cantelan baru. Jumlahnya bisa mencapai sekitar 15%. Sisanya ada yang kebagian warisan sedikit-sedikit itu AHY, Sandiaga Uno," imbuh Hasan.

Dukungan pada tiga nama teratas itu menurutnya lebih karena keyakinan dan bukan persepsi rasional.

Dua hal yang menurut Hasan dapat mengubah itu, adalah ; pertama, ada tokoh-tokoh yang habis masa jabatannya. Diketahui bahwa Anies Baswedan akan habis masa jabatannya pada 2022, dan Ganjar Pranowo pada 2023.

"Itu efeknya bisa luas. Karena nggak punya jabatan itu jangankan dengan partai dengan teman sendiri aja susah," kata Hasan. Hasan mencontohkan Gatot Nurmantyo yang sempat tinggi angka surveinya kini makin meredup.

Konteks kedua yang dapat mengubahnya adalah koalisi lebih awal antar partai politik dan penentuan calon lebih awal.

Hari ini masyarakat tidak tahu siapa yang benar-benar punya tiket untuk maju  atau tidak. Masalahnya saat ini masih ada anggapan bahwa mendeklarasikan diri jauh-jauh hari itu buruk.

Dari perolehan suara partai, ada tiga Partai yang potensial untuk memajukan calon. PDIP yang bisa memajukan calon sendiri, atau Gerindra dan Golkar yang hanya membutuhkan satu partai tambahan.

"Ini dua hal yang bisa mengubah peta survei. Kalau sudah dibungkus saya yakin orang akan melihat ooh ini yang sudah punya tiket," ujar Hasan

Namun elit politik kerap menginginkan calon ditentukan di akhir-akhir. "Karena di akhir makin tinggi harga negonya. Padahal publik menginginkan jauh-jauh hari," pungkasnya. (J-1)

Baca Juga

MI/M IRFAN

PKB Gembira Pemilu 2024 Berbarengan dengan Hari Kasih Sayang

👤Cahya Mulyana 🕔Senin 24 Januari 2022, 22:00 WIB
PKB mengusulkan agar pemungutan suara Pemilu 2024 dilaksanakan di antara bulan Januari sampai Maret...
Antara

PKS: KPU Harus Segera Siapkan Regulasi Pemilu 2024

👤Emir Chairullah 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:45 WIB
Ditetapkannya 14 Februari 2024 sebagai hari penyelenggaraan pemilu menyebabkan waktu persiapan penyelenggara pemilu semakin...
MI/M IRFAN

PAN Dukung Pileg-Pilpres Digelar 14 Februari 2024

👤Sri Utami 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:32 WIB
Jadwal pemilu tidak akan beririsan dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang juga digelar pada 2024 tepatnya 27...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya