Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 1965, Bedjo Untung, meminta Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) mendesak pemerintah segera menindaklanjuti temuan YPKP65 terkait dengan kuburan massal korban tragedi 1965.
Dalam penelitian selama 16 tahun, YPKP menemukan sebanyak 122 titik kuburan massal di Jawa dan Sumatra.
"Kira-kira 13.999 orang jumlah korban dari 122 titik, dan itu masih akan berkembang lagi. Katakanlah, baru 2% dari jumlah korban seluruhnya. Ini yang terkubur di bawah tanah. Jangan lupa ada juga yang dibuang ke sungai dan laut," kata Bedjo di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, kemarin.
Bedjo mengungkapkan, selain di Sumatra dan Bali, kuburan massal korban Tragedi 1965 juga diketahui berada di sejumlah titik di Kalimantan, Bali, dan Sulawesi.
Saat ini, berkas penelitian YPKP65 terkait kuburan massal, sudah diserahkan kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
Lebih lanjut, Bedjo juga meminta pemerintah menjaga lokasi-lokasi kuburan-kuburan massal yang ditemukan YPKP65, karena khawatir akan ada pihak berupaya menghilangkan bukti pelanggaran HAM.
Pada kesempatan yang sama, anggota panitia penyelenggara International People's Tribunal Reza Muharam mendesak Komnas HAM segera membuat satuan tugas untuk menyelidiki temuan YPKP65.
"Nanti kan harus ada forensiknya, harus tahu orang ini matinya karena apa. Tidak bisa sembarangan," jelasnya.
Menko Polhukam Luhut Pandjaitan menjelaskan data kuburan massal itu bisa sangat membantu pemerintah untuk menentukan perkiraan jumlah korban jiwa dari peristiwa tahun 1965 itu.
Pemerintah juga akan mengupayakan melakukan identifikasi terhadap jasad yang terkubur di kuburan massal.
"Kita jangan ribut lagi untuk memutuskan angkanya. Bangsa ini jangan seolah-olah bangsa pembunuh yang mengatakan ratusan ribu yang meninggal atau jutaan malah. Kita ingin realistis angkanya itu kira-kira berapa sih. Kalau nanti sudah melihat semua itu, kita mungkin sampai pada angka berapa, ya sudah, tutup," ujarnya.
Sebelumnya ia menegaskan perlunya ada pembuktian mengenai peristiwa Tragedi 1965.
"Sebab selama ini berpuluh-puluh tahun kita selalu dicekoki bahwa ada sekian ratus ribu orang yang mati. Padahal sampai hari ini belum pernah kita temukan satu pun kuburan massal," ujar Luhut seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Senin (25/4) lalu. (Deo/P-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved