Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJELANG berakhirnya Operasi Tinombala pada 8 Mei, Polri dan TNI belum juga berhasil menangkap Santoso, pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur. Namun, operasi pengejaran kelompok Santoso di hutan-hutan Poso, Sulawesi Tengah, itu dinilai bukan tanpa hasil. Sejumlah teroris telah menyerahkan diri.
Ketua Pusat Studi Keamanan dan Politik Universitas Padjadjaran Muradi merekomendasikan perpanjangan masa Operasi Tinombala. Menurut dia, penangkapan kelompok Santoso merupakan perang asimetris (perang di antara pihak berkekuatan besar dengan strategi masing-masing). Pihak Santoso memilih bergerilya di hutan-hutan Poso nan rimbun.
Polri, dengan dibantu TNI, menyisir pegunungan sambil menutup ruang pasokan logistik musuh. “Sifat perang asimetris ini berlarut-larut, tapi sudah pada track (jalur) yang benar. Beberapa anggota Santoso itu satu per satu turun menyerahkan diri. Sudah ada hal baik yang dihasilkan,” kata Muradi, kemarin.
Keraguan banyak pihak pada kemampuan Polri dan TNI dalam menangani masalah itu mesti diverifikasi secara langsung ke lapangan. Muradi, yang pernah mengunjungi Poso hingga kaki gunungnya, mengaku karakter rimba Poso pendek dan rapat. Itu jelas menjadi zona subur untuk bergerilya.
Evaluasi
Di sisi lain, Presiden Joko Widodo diminta segera memanggil Kapolri Jenderal Badrodin Haiti dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo terkait dengan lamanya penangkapan kelompok teroris Santoso di Poso. Hal itu dianggap penting untuk membuktikan keseriusan pemerintah dan menepis dugaan kepentingan penyandang dana luar negeri untuk Polri.
“Presiden dan tepatnya bersama DPR harus meminta penjelasan rinci tentang Operasi Tinombala sekaligus evaluasi, apa yang jadi kendalanya, karena ini sudah makan waktu lama. Sampai saat ini belum ada keputusan presiden bahwa ini harus menjadi perhatian khusus,” jelas pengamat militer Al Araf.
Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Boy Rafli Amar melaporkan perburuan Santoso di Poso kini melibatkan masyarakat. Para tokoh yang dianggap mengenal baik dia diharapkan membantu dalam Operasi Tinombala yang menurut rencana masa berlakunya diperpanjang beberapa bulan. “Kami tidak bisa sembarangan libatkan seseorang. Bisa bahayakan dirinya. Akan tetapi, bagi yang menawarkan diri untuk bisa membuat Santoso menyerah, silakan saja. Namun, harus sadar risikonya,” ujar Boy di Jakarta, kemarin.
Boy menambahkan Santoso dan anggotanya yang kini hanya sekitar 20 orang sangat menguasai medan di hutan belantara Poso. Mereka tidak pernah diam di satu tempat dan terus bergerak setiap hari.
Pada bagian lain, Kabid Humas Polda Sulteng AKB Hari Suprapto melaporkan, dengan tewasnya Mustafa, teroris asal suku Uighur, Xinjiang, Tiongkok, Polda Sulteng memastikan warga negara asing yang masih bersama-sama Santoso dkk tinggal satu orang. Mustafa dilaporkan tewas setelah terlibat kontak senjata dengan tim TNI dan Polri saat kedapatan meminta makanan kepada warga desa. (Sru/Beo/TB/X-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved