Senin 23 Agustus 2021, 13:05 WIB

AMMI Puji Sikap Moeldoko dalam Konflik dengan ICW

Mediaindonesia.com | Politik dan Hukum
AMMI Puji Sikap Moeldoko dalam Konflik dengan ICW

ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Kepala Staf Presiden Moeldoko memberikan keterangan terkait capaian kinerja pemerintahan.

 

SIKAP Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko yang memilih untuk melayangkan somasi ketiga dan memberi waktu kepada Indonesia Corruption Watch (ICW) alih-alih segera melaporkan kasus dugaan pencemaran nama baik ke Polisi, mendapat apresiasi dari kalangan muda. Aliansi Mahasiswa dan Milenial Indonesia (AMMI) menyatakan bahwa pilihan Moeldoko untuk bersabar dan memberi kesempatan kepada ICW patut diapresiasi dan diteladani.

“Kami merasa sikap Pak Moeldoko itu layak diteladani,” kata Ketua AMMI, Nurkhasanah. Selama ini, publik umumnya melihat para pejabat publik segera melaporkan kasus-kasus dugaan pencemaran nama baik kepada kepolisian, manakala mereka merasa dirugikan. Apa yang dilakukan Moeldoko dengan melayangkan somasi sampai tiga kali, menurut Nurkhasanah, layak mendapatkan apresiasi.

Baca juga: Merasa Diabaikan, Moeldoko Siap Polisikan ICW

Dengan sikap yang diambil itu, menurut AMMI, Moeldoko tidak menjadikan persoalan yang menimpa dirinya itu hanya menjadi masalah pribadi yang tidak memberikan pelajaran apa pun, baik kepada publik, terutama kepada perkembangan demokrasi Indonesia. Tetapi dengan memberikan waktu kepada ICW untuk membuktikan tudingan yang mereka lontarkan, sejatinya Moeldoko mengajak ICW dan publik umumnya untuk berdiskursus (berwacana) secara dewasa, sehat dan demokratis.

“Moeldoko dan tim hukumnya memberi kesempatan kepada ICW untuk memperkuat argumen dari tudingan mereka, memberikan bukti-bukti bila ada. Cara itu menurut kami tidak hanya membuat persoalan ini semata persoalan pribadi Moeldoko, melainkan kesempatan buat kita semua untuk belajar berdemokrasi secara dewasa,” kata Nurkhasanah. Dengan waktu cukup yang diberikan, mulai dari somasi pertama hingga somasi ketiga, seyogyanya ICW punya kesempatan untuk melengkapi tudingan mereka dengan bukti-bukti yang menguatkan argument mereka yang menuding Moeldoko dan keluarga telah mengambil kesempatan untuk mendapatkan rente ekonomi.

Kini, menurut AMMI, masyarakat justru tengah menunggu respons ICW secara dewasa, yang juga dibuka seluas-luasnya oleh Moeldoko.  “Kesempatan itu adalah membuktikan tudingan tersebut dengan fakta dan bukti yang mendukung, atau bila memang tidak bukti, saya kira Pak Moeldoko berbesar hati dengan membuka kesempatan kepada ICW untuk meminta maaf,” kata Nurkhasanah.

Kepada generasi muda, khususnya para milenial dan mahasiswa, Nurkhasanah mengatakan, AMMI mengajak generasi muda untuk mengambil pelajaran berharga dari kasus tersebut. Pada sisi ICW, AMMI mengajak generasi muda untuk tidak gegabah melakukan tudingan, apalagi bila tudingan tersebut berpotensi mencemari nama baik pihak yang dituduh. “Bila tidak ada bukti yang kuat, yang menyentuh sisi-sisi kepentingan publik, seharusnya kita semua bisa menahan diri untuk menuding pihak lain dengan tuduhan yang merugikan dirinya,” kata Nurkhasanah.

Sementara dari sisi Moeldoko, AMMI mengajak milenial untuk meneladani kesabarannya untuk terus memberikan waktu guna membuktikan kekuatan argumen para penuduhnya, serta kebesaran hati untuk tetap membuka pintu maaf.

Saat ini, kata Nurkhasanah, bola sepenuhnya berada di pihak ICW. Namun ia mengingatkan kembali bahwa masyarakat tengah menunggu sikap terbaik yang akan ditunjukkan ICW dalam persoalan ini.

“AMMI melihat, dengan sikap yang diambil KSP Moeldoko sebenarnya ICW tidak harus kehilangan muka. Memberikan bukti adalah perbuatan terpuji, sementara meminta maaf bila bersalah pun hanya bisa dilakukan seorang ksatria,” kata dia.

Sebagaimana ramai menjadi pemberitaan media arus utama, Jumat lalu KSP Moeldoko melayangkan somasi ketiga kepada Indonesia Corruption Watch. Kuasa hukum Moeldoko, Otto Hasibuan, mengatakan itu merupakan somasi terakhir sebelum kliennya melapor ke polisi.

“Bila tidak, Pak Moeldoko akan melaporkan hal ini ke pihak kepolisian. Jadi tegas perkara ini tidak akan berhenti,” kata Otto dalam konferensi pers daring, Jumat (20/8) lalu.

Otto mengatakan, sebelumnya Moeldoko sudah melayangkan dua kali somasi tertulis.  Dalam somasi itu, ia meminta ICW dan penelitnya, Egi Primayogha, membuktikan dugaan bahwa kliennya mengeruk keuntungan dari peredaran obat Covid-19 Ivermectin. Menurut Otto, ICW sudah menjawab kedua surat itu. Namun, menurutnya ICW tidak bisa membuktikan peran kliennya itu. (Ant/A-1)

Baca Juga

Dok MI

Produk dalam Negeri Harus Jadi Tuan di Rumah Sendiri

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Kamis 26 Mei 2022, 23:42 WIB
"UMKM harus jadi perhatian  karena sektor ini paling luas serapan lapangan kerjanya,"...
MI/Bayu Anggoro

Selesaikan Polemik Penjabat Kepala Daerah dengan Penguatan Birokrasi Sipil

👤Golda Eksa 🕔Kamis 26 Mei 2022, 21:54 WIB
Mengintegrasikan politik kepemiluan agar dapat segera serentak melaksanakan hajat...
Ilustrasi

Ini Rincian Penggunaan Anggaran Tahapan Pemilu 2024

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Kamis 26 Mei 2022, 21:28 WIB
Ketua KPU Hasyim Asy’ari menuturkan sebanyak 82,71 persen atau Rp63,405 Triliun digunakan untuk pelaksanaan tahapan pemilu, honor...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya