Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SUDAH hampir empat bulan peristiwa tragis yang menimpa Muhammad Nur Syawaludin berlalu.
Namun, sulit bagi pria warga Kampung Dawung Wetan, Kecamatan Serengan, Solo, Jawa Tengah, itu untuk melupakannya.
Semua seperti baru terjadi.
Teriakan dan hardikan tim pemburu teroris dari Mabes Polri masih terdengar jelas dan terus terngiang di telinga mereka.
Syawaludin merupakan salah satu korban salah tangkap yang kemudian dibebaskan tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
Hingga kini tidak pernah terpikir olehnya untuk mengharapkan kompensasi kepada negara.
"Tidak mungkin saya melawan negara, mas. Bisa selamat sampai sekarang saja sudah alhamdulillah," tutur Syawaludin kepada Media Indonesia ketika mencoba mengingat kembali kisah pilu dirinya.
Saat itu, 29 Desember tahun lalu, Densus 88 melakukan serentetan penangkapan terhadap terduga anggota jaringan teroris di Solo, Jawa Tengah.
Syawaludin ditangkap bersama Ayom Penggalih, warga Panularan, Laweyan, Solo, siang bolong di depan SMA Al Islam ketika hendak menunaikan salat zuhur.
Keduanya, dengan wajah ditutup kain, diborgol dan dimasukkan ke mobil dengan perlakuan kasar, kemudian dibawa ke Kantor Polsek Laweyan.
Tim Densus 88 mencecar mereka dengan banyak pertanyaan tentang keterkaitan mereka dengan Hamzah dan Andika, jaringan teroris yang ditangkap beberapa jam sebelumnya.
Seusai penangkapan ceroboh dari korps berlambang burung hantu itu, stigma teroris melekat pada dirinya.
Kehidupan sosial Syawaludin pun semakin terbatas.
Banyak kawan mulai menjauh dan menghindarinya.
"Mereka semua seperti ketakutan ikut terkena imbas dicap (teroris). Selain banyak grup WA (Whatssap) yang menghilangkan akun saya, komunitas kecil yang semula belajar dasar-dasar keagamaan, seperti belajar salat, juga sudah menjauh. Ini sungguh menggelisahkan, tetapi harus saya terima dengan ikhlas," ujar pria alumnus SMA Al Islam Surakarta itu masih dengan nada pedih.
Kendati begitu, pria yang baru saja menikah, tapi belum punya momongan itu, mengaku lebih beruntung ketimbang Galih, sapaan akrab Ayom Penggalih.
Kawannya itu merasa terus dibuntuti tim Densus 88.
"Padahal, kami berdua ini sungguh tidak pernah mengikuti kegiatan ekstrem keagamaan, kecuali hidup untuk berbisnis sepeda motor bekas," ujar Syawaludin.
Hery Isranto, ayah Galih, menyimpan kekhawatiran besar bahwa apa yang dialami putra kesayangannya itu tidak akan berhenti pada peristiwa 29 Desember silam.
Pada masa mendatang, terutama ketika menjelang perayaan hari besar keagamaan, bisa saja anaknya masih dikait-kaitkan dengan gerakan terorisme.
Baik Syawaludin maupun keluarga Galih tidak berpikir untuk melakukan tuntutan hukum demi mendapatkan kompensasi dan rehabilitasi atas tindakan salah tangkap yang mereka alami.
Menurut Syawaludin, lembaga advokasi Islam Study and Action Centre (ISAC) sejauh ini terus memberikan pendampingan hukum, tapi belum mengarah pada tuntutan legal untuk mendapatkan ganti rugi.
"Saya sendiri tidak pernah terbayang, pasrah saja," tuturnya. (Widjajadi/P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved