Minggu 17 Januari 2021, 05:55 WIB

Kasus Asabri Indikasikan Cuci Uang

(Tri/P-2) | Politik dan Hukum
Kasus Asabri Indikasikan Cuci Uang

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa.
GELAR PERKARA KASUS KORUPSI ASABRI: Kapuspenkum Kejaksaan Agung Leonard Eben Ezer Simanjuntak (tengah)

 

JAKSA Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung sudah menerbitkan surat perintah penyidikan (sprindik) terhadap kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi di PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (persero). Kasus itu diduga memiliki irisan dengan megakorupsi pada PT Asuransi Jiwasrya (persero) yang telah ditangani oleh Kejagung sebelumnya.

Dugaan korupsi pada perusahaan pelat merah tersebut diketahui terjadi dalam periode 2012-2019 dengan perkiraan kerugian negara mencapai Rp17 triliun. Penerbitan sprindik yang dilakukan Kejagung menandakan bahwa penyidik telah menemukan minimal dua alat bukti dan tinggal menetapkan tersangka.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor Yenti Garnasih mengatakan, dalam pandangan akademis dan berdasarkan logika, terdapat tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam kasus itu karena sudah terjadi sejak 2012.

"Uang Rp17 triliun yang merugikan negara dan menguntungkan pihak-pihak yang sedang dilihat penyidik Kejaksaan, enggak mungkin kan enggak dipakai apa-apa, berarti ada TPPU-nya," kata Yenti kepada Media Indonesia, kemarin.

Oleh sebab itu, ia mendorong penyidik untuk tidak menunda-nunda penerapan TPPU dalam kasus Asabri. Yenti menyebut, tanpa kemauan dan integritas yang baik, penerapan TPPU tidak akan berjalan. Ia berharap penanganan Asabri oleh Kejagung dapat lebih cepat ketimbang Jiwasraya.

Kendati demikian, Yenti menggarisbawahi masalah yang ditimbulkan dari kasus Jiwasaraya. Misalnya, perampasan subrekening efek (SRE) WanaArtha yang merupakan salah satu SRE milik terdakwa Benny Tjokrosaputro mengakibatkan para nasabah protes. Kerugian yang dialami oleh pihak ketiga seperti nasabah WanaArtha diharapkan tidak terulang dalam penanganan Asabri.

"Harus betul-betul hati-hati berkaitan dengan ini. Ada pelajaran yang harus diambil," ujar Yenti.

Terpisah, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM-Pidsus) Kejagung Ali Mukartono mengatakan pihaknya masih mempelajari dokumen-dokumen berkaitan dugaan korupsi di Asabri. Setelah sprindik terbit, Ali menyebut penyidik akan memanggil para saksi dan tetap berkoordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Ali belum dapat menjelaskan lebih jauh soal aset yang bersinggungan dalam perkara Asabri dengan Jiwasraya. Penyidikan yang dilakukan hanya terkait Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Kita pokoknya masalah investasi. Investasinya itu bener apa enggak," singkat Ali. (Tri/P-2)

Baca Juga

Antara/M Risyal Hidayat.

Masih Solid, Demokrat Beberkan Andil SBY Bangun Parpol

👤Putra Ananda 🕔Senin 01 Maret 2021, 17:39 WIB
Dirinya juga membantah pernyataan yang menyebut bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak memiliki andil dalam pendirian Partai...
Antara

Kunjungan Kerja Komisi I DPR ke Luar Negeri Dinilai Penting

👤Andhika Prasetyo 🕔Senin 01 Maret 2021, 17:29 WIB
Sebelumnya, rencana kunjungan kerja Komisi I DPR RI mendapat kecaman dari publik. Sebab, dinilai sebagai agenda yang menghamburkan uang...
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Paspampres: Moge Terobos Ring I Selesai, Kini Ditangani Polisi

👤Dhika kusuma winata 🕔Senin 01 Maret 2021, 17:05 WIB
Wisnu mengatakan terkait dugaan pelanggaran hukum dalam insiden itu diserahkan sepenuhnya ke...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya