Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIDAKPUASAN Presiden Joko Widodo atas kinerja para pembantunya menbuat spekulasi apakah akan ada reshuffle. Wartawan Media Indonesia mencoba mewawancarai Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto apakah tepat jika dilakukan reshuffle? berikut petikan wawancaranya.
APAKAH rencana perombakan menteri sudah tepat?
Memang pada situasi yang sangat membutuhkan kerja cepat, pada situasi pandemi ini, sebenarnya bukan waktu ideal untuk melakukan reshuffle. Apalagi, kalau menyangkut pos-pos kementerian yang langsung terhubung dengan penanganan covid-19. Ini memang bukan waktu ideal karena ketika datang menteri baru, tentu manajemen birokrasi tidak bisa langsung tune in. Cuma masalahnya, Presiden juga punya pertimbangan extraordinary. Pandemi sudah tiga bulan lebih, tentu ada ekspektasi publik yang luar biasa tinggi.
Jadi, ancaman reshuffle hanya untuk menguji reaksi publik?
Jika teguran keras sudah diberikan, seharusnya menteri yang bersangkutan berkaca dan melakukan perbaik an signifi kan. Makanya, saya melihat pernyatan dari Jokowi itu testing the water. Kalau melihat pola reshuffl e periode pertama, pada Agustus 2015. Kita tinggal lihat dua bulan ini apakah menteri-menteri yang disebut melakukan perbaikan dan juga menteri-menteri lain. Kalau misalnya tidak ada perubahan, bisa saja pola reshuffle periode pertama dilakukan Jokowi. Substansi pesan dari Jokowi itu ingin menegaskan rentang kontrol atas seluruh menterinya. Sebagai kepala pemerintahan, dia punya otoritas penuh untuk meminta kinerja signifikan para menterinya dan itu sudah wajar dilakukan Presiden.
Jika dilakukan, siapa menteri yang kemungkinan diganti?
Kalau titik tekannya pada power relation, menterimenteri dari kelompok profesional rentan diganti. Namun, kalau ukurannya efektivitas kinerja, jika menteri dari parpol itu kurang bagus dan harus diganti dari parpol lagi, harus diisi orang-orang yang sungguhsungguh dan bagus. Akan tetapi, ini sebenarnya bukan soalnya jatah siapa. Pertanyaan soal reshuffl e harusnya untuk apa, jadi argumen Jokowi dalam konteks kinerja ada matriks dan ukuran-ukurannya. Dengan begitu, reshuffl e untuk siapa, ya untuk kepentingan publik. Jangan sampai salah reshuffle selalu untuk oligarki parpol.
Jokowi menyebut akan mempertaruhkan reputasi politiknya. Apakah ini ingin menunjukkan keseriusannya?
Pernyataan Presiden kan dipublikasikan setelah sudah 10 hari lebih. Artinya, ketika disebarkan, ketika disampaikan, itu mempunyai intensi. Pesan (reshuffle) juga harus dibaca sebagai narasi pemerintahan Jokowi ke publik. Kurang lebih, ingin dipahami bahwa Jokowi serius dalam menangani covid-19 ini. Gestur dan pesan itu memang ditunjukkan kepada menteri-menteri, tapi porsi besarnya bicara soal panggung depan (front stage). Jokowi juga ingin reputasi dan citranya sebagai pemimpin yang memerintah agar kemudian tidak tercederai karena kinerja menterinya yang buruk.
Kabinet seperti apa yang benar-benar bisa membantu Jokowi di masa krisis ini?
Jadi, pada akhirnya akan kembali ke Jokowi, kebutuhannya untuk apa. Jangan sampai reshuffl e dilakukan, tapi hanya untuk mengganti orang. Reshuffle itu dilakukan untuk kebutuhan perbaikan yang signifi kan dan mendesak. Kalau ada orang yang bisa menggantikan, melakukan perbaikan signifi kan dan langkah luar biasa, why not. (Dhk/P-1)
MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan tidak ada reshuffle kabinet di istana, hari ini (28/1).
MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan istana belum membahas soal adanya isu reshuffle kabinet. melainkan pelantikan dewan energi nasional
KEPALA Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menuturkan apabila reshuffle kabinet Merah Putih merupakan hal wajar. Sebab, saat ini jabatan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) kosong
SEKRETARIS Negara Prasetyo Hadi membantah adanya isu perombakan (reshuffle) kabinet. Menurutnya, makna reshuffle yang beredar luas di publik tidak benar.
Isu perombakan kabinet kembali menguat seiring santernya kabar nama Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Gerindra, Budi Djiwandono, yang disebut-sebut berpeluang masuk ke jajaran eksekutif
Pemerintahan Prabowo-Gibran genap berusia satu tahun pada 20 Oktober 2025. Dari sektor ekonomi, beberapa capaian mendapat apresiasi. Namun sejumlah catatan juga dinilai masih berantakan.
PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) akan mengumpulkan jajaran Kabinet Indonesia Maju hingga kepala lembaga di Istana Negara.
Perluasan kabinet berpotensi merusak efisiensi pemerintahan, membuka peluang korupsi, dan membebani keuangan negara tanpa manfaat yang jelas bagi rakyat.
Prabowo menyatakan atas nama dirinya sendiri sebagai Presiden Terpilih dan juga sekaligus mewakili anggota Kabinet Indonesia Maju mengucapkan terima kasih atas kepemimpinan Joko Widodo.
Presiden menekankan kepada para menteri dan kepala lembaga untuk bisa menjaga daya beli masyarakat, tingkat inflasi hingga pertumbuhan ekonomi.
Jokowi menyampaikan permintaan maaf apabila ada perilaku yang kurang bekenan khususnya selama 10 tahun memimpin Indonesia.
Tak ada pembahasan soal kursi menteri atau jabatan apa pun pada pertemuan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Presiden terpilih Prabowo Subianto.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved