Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN pengikut Islamic State (IS) of Iraq and Syria, Febri Ramdani, memaparkan sejumlah propaganda palsu yang dilontarkan oleh IS.
Febri mengungkapkan hal itu saat membedan buku catatan perjalanannya saat menjadi pengikut IS selama 300 hari di Jakarta, Selasa (11/2).
Selama 300 hari perjalanannya menjadi pengikut IS, Febri menyaksikan fakta yang bertolak belakang dengan propaganda ISIS.
Baca juga: PKS: Jika WNI di Wuhan Dipulangkan, Kenapa Eks ISIS Tidak?
Seperti, keluarganya yang sudah tiba di wilayah Suriah yang dikuasai IS diintimidasi oleh kelompok tersebut.
"Selama satu tahun di sana, keluarga saya mendapatkan intimidasi oleh IS, bukan seperti yang dijanjikan oleh IS," kata.
Baca juga: Jokowi Tidak Setuju Pemulangan Eks ISIS
Febri mengungkapkan, awal perjalanannya didorong oleh depresi dan konflik keluarga pada 2014-2015 di samping juga ada iming-iming diberikan uang oleh kelompok IS.
Pada 2016, Febri berangkat ke Suriah. Setelah 300 hari di sana, pada 2017 dia berhasil kembali ke Indonesia.
Baca juga: Pemerintah tak Berkewajiban Pulangkan WNI eks ISIS
Febri mengakui kesalahan dirinya dan keluarga adalah termakan informasi palsu yang disebarkan kelompok dan pendukung IS. Dan tidak melakukan klarifikasi dan perbandingan informasi dari sumber lainnya.
"Kesalahan saya dan keluarga sebelumya hanya melihat dari satu sisi saja, dari media IS saja. Dan tidak peduli pada media lain yang bilang IS itu enggak benar, brutal, dan sebagainya," jelas Febri.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Febri mengajak masyarakat untuk berhati-hati dan tidak mudah memercayai informasi yang beredar begitu saja. (X-15)
WNI tersebut saat ini ditempatkan di fasilitas penahanan khusus anak atau remaja, mengingat yang bersangkutan masih di bawah umur.
Amerika Serikat dan pasukan sekutu melancarkan serangan besar ke target ISIS di Suriah sebagai balasan atas serangan mematikan terhadap pasukan AS.
KEMENTERIAN Luar Negeri (Kemenlu) RI tengah mengawal ketat kasus hukum seorang anak Indonesia karena diduga terlibat dalam aktivitas yang mendukung gerakan ISIS.
Amerika Serikat dan Nigeria melakukan operasi serangan udara gabungan terhadap ISIS di Sokoto.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi serangan mematikan terhadap ISIS di Nigeria sebagai respons atas penganiayaan umat Kristen.
Kepolisian Turki menangkap 115 terduga anggota ISIS dalam penggerebekan serentak. Para tersangka diduga berencana menyerang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved