Sabtu 18 Januari 2020, 10:40 WIB

Muluskan Korupsi, Sopir Bisa Jadi Direktur

Zuq/P-1 | Politik dan Hukum
Muluskan Korupsi, Sopir Bisa Jadi Direktur

MI/M IRFAN
Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan (kiri) berbicara kepada saksi dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, kemarin

 

PERKENALAN dengan Dadang Prihajatna mengubah status Yusuf Supriadi. Mulanya, ia memang dipekerjakan sebagai sopir sejak 2008, tetapi beberapa waktu kemudian ia malah tercatat sebagai Direktur PT Adca Mandiri.

"Saya dikasih pekerjaan karena kenal Pak Dadang dan adiknya. Bisa nyupir enggak? Bisa, ikutlah saya nyupir (jadi supir)," ujar Yusuf.

"Saya ditunjuk sebagai direktur, Pak," lanjut Yusuf dalam sidang terdakwa Tubagus Chaeri Wardana (Wawan) di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin.

Yusuf Supriadi ialah pihak swasta yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara terdakwa Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dalam kasus korupsi pengadaan alat kedokteran rumah sakit rujukan Provinsi Banten pada APBD dan APBD Perubahan tahun anggaran 2012 yang merugikan keuangan negara sebesar Rp79,789 miliar.

Wawan juga didakwa merugikan keuangan negara sekitar Rp14,52 miliar dalam pengada-an alat kesehatan (alkes) kedokteran umum Puskesmas Kota Tangerang Selatan tahun anggaran 2012.

Adapun Dadang Prijatna merupakan terpidana kasus pengadaan alkes kedokteran umum Puskesmas Kota Tangerang Selatan APBD Perubahan TA 2012.

Berawal dari perkenalannya itulah Yusuf mengetahui dari Dadang Prijatna bahwa PT Bali Pacific Pragama (PT BPP) ialah perusahaan milik Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.

Dalam sidang itu, jaksa KPK pun membongkar siasat licik lelang proyek pengadaan alat kesehatan itu.

Awalnya, jaksa menanyakan mengenai sejumlah proyek alkes di Banten dan Tangsel pada saksi atas nama Yusuf Supriadi tersebut. Yusuf disebut sebagai mantan Direktur PT Adca Mandiri.

"Saudara katakan soal ikut lelang alkes Banten dan Tangsel? Ada BAP (berita acara pemeriksaan) poin 5, Anda menerangkan ada proyek tahun 2010 sampai 2012. Ada sekitar 17 paket pekerjaan. Ada juga ditanyakan di Tangsel 2010-2012 total 5 paket pekerjaan. Saudara tahu?" tanya jaksa pada Yusuf.

"Tugas saya hanya tanda tangan kontrak kalau jadi pemenang dan tanda tangan cek, Pak. Selebihnya saya enggak tahu," kata Yusuf. "Yang suruh Anda siapa?" tanya jaksa. "Pak Dadang yang suruh Pak," jawab Yusuf.

Yusuf mengaku diperintah Dadang untuk mendirikan PT Adca Mandiri.

Perusahaan itulah yang kemudian memenangi sejumlah proyek alkes. Namun, Yusuf sendiri tidak paham mengenai mekanisme lelang dan sebagainya.

"Enggak tahu, Pak. Saya cuma disuruh tanda tangan aja paling, Pak. Kalau disuruh, ya saya tanda tangan, Pak," ucap Yusuf. (Zuq/P-1)

Baca Juga

Antara/Rivan Awal

Biden Jadi Presiden AS, Ini Harapan Puan

👤Sri Utami 🕔Jumat 22 Januari 2021, 05:30 WIB
Ketua DPR RI berharap Joe Biden membawa dampak positif bagi penanganan pandemi covid-19 dan menjaga stabilitas perdamaian...
Antara/Galih Pradipta

Listyo Usung Program Presisi, Kompolnas: Harus Tepat Sasaran

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Jumat 22 Januari 2021, 04:35 WIB
Kompolnas akan mengawal dan mengawasi kinerja program presisi yang diusung Listyo Sigit, setelah resmi diangkat sebagai...
Antara/M Risyal Hidayat

Kemendagri Targetkan Perekaman 5,7 Juta KTP-E

👤Cahya Mulyana 🕔Jumat 22 Januari 2021, 01:40 WIB
Sejauh ini, sudah 194,64 juta orang atau 99,11% dari total populasi yang tercatat memiliki kartu identitas. Kemendagri bersama BPS...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya