Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
HASIL riset sejumlah lembaga yang menyebut adanya aparatur sipil negara (ASN) tidak setuju dengan Pancasila menjadi bukti bahwa upaya pengarusutamaan idelogi tersebut harus dilakukan secara masif.
Tanggung Jawab untuk membumikan Pancasila pun tidak boleh hanya diserahkan kepada Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan negara, tetapi perlu melibatkan semua komponen bangsa.
Demikian dikatakan Plt Kepala BPIP Hariyono saat berkunjung ke Kantor Media Group, Jakarta, Rabu (16/10). Hariyono yang datang bersama Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan BPIP disambut oleh pimpinan Media Group.
Menurut dia, indikator adanya aparatur negara yang tidak respek dengan Pancasila sangat jelas. Bahkan, masih banyak pula ditemukan ujaran kebencian yang digunakan oleh ASN dan masyarakat, khususnya ketika menyampaikan pendapat di media sosial.
"Hal ini menurut saya sangat darurat. Oleh karena itu, perlu pengarusutamaan Pancasila secara masif dilakukan semua pihak," katanya.
Di era milenial ini, terang dia, upaya membumikan Pancasila tidak akan berhasil tanpa melibatkan peran media massa dan media sosial. Dukungan dan kemitraan media massa serta pegiat media sosial sangat diharapkan untuk bersama-sama membumikan Pancasila di tengah masyarakat.
Ia berharap Media Group dapat menjalin kerja sama dengan BPIP dalam pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila, khususnya kepada generasi muda. Upaya tersebut merupakan langkah konkret untuk menyikapi ketidakhadiran Pancasila di ruang publik dalam dua dekade terakhir, sejak reformasi 1998.
"Sesuai saran Presiden Joko Widodo, bagaimana Pancasila itu disampaikan kepada anak muda sesuai konteks zamannya. Sehingga, Pancasila selain menyenangkan tapi juga penuh makna. Ini tidak mungkin dilakukan BPIP sendirian tanpa kerja sama dengan pihak lain," tandasnya. (OL-8)
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Simak 11 butir sila kelima Pancasila dan contoh pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari, ekonomi, dan dunia digital di tahun 2026.
Pelajari 10 butir sila keempat Pancasila beserta contoh pengamalannya di lingkungan sekolah, rumah, dan masyarakat secara lengkap dan terbaru.
Pelajari 7 butir Sila Ketiga Pancasila sesuai TAP MPR No. I/MPR/2003 serta contoh pengamalan nyata untuk menjaga persatuan Indonesia di tahun 2026.
Pahami 10 butir Sila Kedua Pancasila sesuai TAP MPR No. I/MPR/2003 dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari serta dunia digital tahun 2026.
Pelajari 7 butir Sila Pertama Pancasila sesuai TAP MPR No. I/MPR/2003 serta contoh pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari dan dunia digital.
BPIP bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Indonesia (P3SI) menyelenggarakan Seminar Nasional Sejarah Pancasila
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved