Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
ALUMNI Institut Teknologi Bandung (ITB) lintas angkatan dan jurusan menyatakan keprihatinan terhadap kampus mereka yang terpapar parah paham radikalisme. Baik komunitas mahasiswa, pegawai maupun dosen, ITB berada di urutan teratas sebagai kampus terpapar parah radikalisme. Rasa keprihatinan ini disampaikan 1183 alumni ITB lintas angkatan dan jurusan dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Rektor ITB. Disertai tanda tangan dibubuhkan oleh ribuan alumni ITB tersebut.
Surat terbuka bertanggal 3 Agustus 2019, disebutkan bahwa berbagai lembaga kredibel seperti BNPT, BIN, Setara Institute, serta pidato Presiden terpilih Joko Widodo di Sentul pada 14 Juli 2019 merupakan peringatan yang perlu ditanggapi oleh pimpinan ITB serta seluruh civitas akademika secara serius oleh pimpinan ITB, termasuk oleh alumni ITB.
Disebutkan dalam surat terbuka itu bahwa adanya penyebaran paham radikalisme secara terstruktur, sistematif dan masif sudah berlangsung lama di Kampus Ganesha pasca Reformasi 1998. Para alumni menyebutkan dalam surat terbuka tersebut bahwa ada upaya nyata kelompok ingin mengubah Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan bentuk NKRI. Paham radikalisme tersebut telah memasuki kampus ITB melalui kegiatan akademis maupun non akademis yang tersedia di kampus.
Menurut para alumni, Rektor sebagai penanggungjawab utama institusi mungkin saja secara sadar dan tidak sadar, secara langsung dan tidak langsung, dan dengan abai telah menyelundupkan, melindungi, memfasilitasi, membina, mempromosikan, memperjuangkan, dan membela mereka yang telah aktif dalam gerakan radikalisme secara terbuka, terselubung maupun ilegal.
"Kami dapat memaklumi bahwa isu keagamaan merupakan hal yang sensitif, tidak mudah dihadapi dan menimbulkan kegamangan bagi pimpinan institusi untuk menjalankan amanahnya dan menggunakan kewenangannya untuk melestarikan ideologi negara," tulis surat tersebut.
Walaupun demikian, apapun juga tantangan yang dihadapi, Rektor selaku pimpinan tertinggi haruslah mampu menunjukkan determinasi, tekad dan keberanian untuk mendukung program pemerintah dalam penangkalan radikalisme dan mempertahankan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI, sebagai tanggung jawab atas amanah yang diberikan bangsa dan negara sebagaimana yang dilakukan lembaga negara lainnya.
baca juga: Indonesia Jadi Contoh Toleransi Keagamaan di Dunia
Para alumni ITB lintas angkatan dan jurusan ini mengeluarkan tiga sikap yang ditujukan kepada Rektor ITB dan para pimpinan kampus terkait kasus radikalisme, yaitu :
1. Segera mengumumkan secara luas bahwa Kampus ITB menolak segala bentuk dan tahapan penyebaran gerakan paham radikalisme.
2. Melakukan tindakan nyata secara struktural dalam program dan organisasi untuk membersihkan dan membubarkan secara sistematis semua pelaku, pejabat, dan lembaga yang terlibat dalam atau memfasilitasi radikalisme di Kampus ITB.
3. Merespons secara terbuka semua hasil studi, hasil investigasi, pertanyaan orang tua mahasiswa, masukan dan kritik publik, dan liputan media terkait keterlibatan Kampus ITB dalam gerakan radikalisme. Kami para Alumni ITB lintas Angkatan dan Jurusan berharap semoga Kampus ITB tercinta tetap dipercaya oleh bangsa dan negara untuk menghasilkan akademisi dan intelektual pembangun bangsa yang wajib mempertahankan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, agar ITB yang juga telah melahirkan the founding fathers NKRI tidak sampai juga melahirkan para pengkhianat perusak ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kami akan tetap setia mendukung kebijakan Pimpinan ITB sepanjang diarahkan untuk mempertahankan ideologi dan konstitusi demi kelangsungan bangsa, Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.
(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved