Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Peneliti: Jokowi Ubah Kelemahan Menjadi Kekuatan

Rahmatul Fajri
25/7/2019 23:59
Peneliti: Jokowi Ubah Kelemahan Menjadi Kekuatan
Jokowi berpawai di jalanan ibu kota usai dilantik jadi Presiden Ri, oktober 2014 lalu(Antara/Fanny Octavianus)

PENELITI sosok Joko Widodo, Andi Zulkarnain mengatakan dalam karir politiknya, Joko Widodo mampu mengubah kelemahannya menjadi kekuatan untuk memenangkan setiap Pemilihan Daerah dan Pemilihan Presiden yang diikutinya.

Andi mengemukakan hal tersebut setelah selama empat tahun ia mendalami dan meneliti sepak terjang Jokowi dari Wali Kota Solo hingga saat ini sebagai Presiden.

Andi mengatakan salah satu kelemahan Jokowi, yakni ia bukan dari kalangan konglomerat. Ia lahir dari keluarga sederhana dan otomatis ia tidak didukung oleh modal sosial dari keturunan keluarganya.

Maka dari itu, Andi mengatakan setiap berkunjung ke daerah, Jokowi tidak memberikan sumbangan berupa uang dan bantuan. Namun, Jokowi datang untuk menyerap aspirasi masyarakat yang kemudian menjadi kekuatan.

"Dia bukan konglomerat. Itu kelemahannya. Maka, ia mengubahnya. Ia tidak melakukan politik sinterklas, memberikan sumbangan berupa uang. Jokowi merancang politik biaya murah," kata Andi, ketika Simposium Peneliti Jokowi II di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (25/7).

Selain itu, ia mengatakan Jokowi bukanlah berasal dari kaum intelektual. Andi mengatakan kesuksesan Jokowi melenggang hingga presiden menjadi tamparan bagi sosok intelektual lainnya yang lama berkecimpung di kancah perpolitikan Indonesia.

Baca juga : Aksi 212 dan 411 Bisa Pecah jika Presidennya bukan Jokowi

"Fenomena Jokowi sebenarnya menjadi tamparan bagi orang pintar. Nah, ia mampu memaksimalkan dirinya ketika bertatap muka dengan masyarakat. Inilah cara ia menyerang intelektual lain," kata Andi.

Andi melanjutkan, kelemahan Jokowi lainnya ialah tidak memiliki partai dan tidak duduk pada posisi pimpinan partai.

Jokowi, kata ia, memaksimalkan relawan untuk panggung politiknya. Sehingga, ia menilai Jokowi tidak memiliki beban atau dosa partai, serta tidak berkewajiban mencari biaya untuk parpol.

"Jokowi terpilih menjadi pemimpin karana diminta oleh pengikutnya. Maksimal untuk melayani, kemudian kehebatan Jokowi adalah ia bukan elit, jadi memaksimalkan relawan mesin partai. Ia tidak punya partai, maka ia tidak punya beban partai, dan hanya melayani rakyat," kata Andi.

Meski demikian, sepanjang sepak terjang perpolitikannya, Andi mengatakan terdapat beberapa refleksi kritis yang menjadi catatan. Salah satunya, kata ia, kasus HAM masa lalu yang hingga saat ini masih mandek dan belum menemui titik terang.

"Kemudian pertemuan Yusril dengan Abu Bakar Baasyir juga dipertanyakan. Ditambah setiap pejabat pemerintah beda suara soal pembebasan Abu Bakar Baasyir," kata Andi. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya