Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Redakan Tensi Perlu Kedewasaan

Thomas Harming Suwarta
06/5/2019 08:20
Redakan Tensi Perlu Kedewasaan
Hasil Hitung Suara Pilpres 2019(KPU/Grafis : Seno)

DORONGAN agar kedua kubu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden proaktif meredakan tensi politik berdatangan dari banyak kalangan. Langkah Presiden Joko Widodo sebagai capres nomor urut 01 bertemu sejumlah tokoh dari kubu pasangan nomor urut 02 dianggap sebagai langkah positif.

Akan tetapi, pertemuan antara Jokowi dan Prabowo Subianto selaku capres nomor urut 02 belum juga terealisasi. Padahal, itu yang paling diperkirakan memberikan dampak signifikan dalam meredam situasi yang panas.

Pengamat psikologi politik UI, Hamdi Muluk, kepada Media Indonesia mengatakan Presiden Joko Widodo bisa melanjutkan mengundang ketua-ketua partai lainnya dari koalisi Indonesia Adil dan Makmur. Sejauh ini, kedatangan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono membawa angin segar.

Hamdi menyatakan pengentalan politik selama masa kampanye harus diurai demi kepentingan bangsa dan negara. Pertemuan di antara kedua kubu sangat positif secara bertahap mengurangi tensi. Dalam resolusi konflik, kata dia, dikenal istilah gradual tension reduction (GTR) untuk memastikan situasi yang tadinya tegang bisa kembali rileks.

"Kalau saya tidak sepakat kita pakai istilah rekonsiliasi karena kita kan tidak berantem, tetapi upaya kurangi tensi yang tadinya tinggi dan sekarang secara bertahap kita kurangi," jelas Hamdi, kemarin.

Upaya mengurangi tensi, lanjut Hamdi, selain secara struktural lewat ketua-ketua partai juga dapat dilakukan pada level di bawahnya seperti pertemuan antarsekjen kubu 01 dan 02. Kemudian juga antarketua dewan pimpinan daerah yang memungkinkan komunikasi politik tidak tersumbat.

"Karena itu juga butuh kedewasaan kedua belah pihak bahwa kita utamakan kepentingan bangsa di atas segala-galanya. Kalaupun ada ketidakpuasan, lakukan dengan cara konstitusional. Ini yang kita harapkan dari para tokoh kita ini," ucap Hamdi.

Tunggu hasil pemilu

Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade, mengatakan Prabowo dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) belum merencanakan pertemuan dengan Jokowi dan tim pendukungnya. Baik Prabowo maupun tim BPN masih fokus pada proses penghitungan suara yang tengah berjalan.

Andre menilai tidak ada hal mendesak yang mengharuskan adanya pertemuan antara Prabowo dan Jokowi dalam waktu dekat. Pertemuan akan dilakukan pada saat yang tepat ketika hasil pemilu telah selesai ditetapkan.

"Pak Jokowi dan Pak Prabowo bersahabat dan tidak bermasalah. Tidak ada sesuatu yang genting yang mengharuskan mereka untuk bertemu dengan segera," ujar Andre ketika dihubungi, kemarin.

Andre mengatakan, saat ini ia berharap semua pihak terlebih dulu fokus mengawal proses penghitungan suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Wakil Sekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik melalui akun Twitter-nya, kemarin, mempertanyakan ketidakjelasan sikap Prabowo sebagai pemimpin koalisi. Menurut dia, saat ini ada kecenderungan islamofobia pada satu pihak dan pengerasan politik identitas pada pihak lain. "Sebagai pemimpin koalisi, apa jalan Anda bagi masalah ini? Mengobarkan fanatisme mungkin memberi tenaga untuk mengusut kecurangan. Tapi apa akibatnya bagi Indonesia?" ujarnya. (Pro/A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya